Jember, Tandaglobal.news Pabrik Gula (PG) Semboro di Kabupaten Jember menjadi salah satu saksi perjalanan panjang industri gula di Indonesia. Dibangun pada masa kolonial Belanda lebih dari satu abad lalu, pabrik ini terus bertahan melewati berbagai perubahan zaman, mulai dari pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang, perjuangan kemerdekaan, nasionalisasi perusahaan, hingga kini berada di bawah pengelolaan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).

PG Semboro berlokasi di Desa Semboro, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Pabrik tersebut dibangun pada 1921 oleh perusahaan swasta Belanda, Handels Vereeniging Amsterdam (HVA). Meski demikian, kegiatan penggilingan tebu baru dimulai pada 1928 dan memasuki kapasitas penuh pada periode 1930–1932.

Pada masa awal operasionalnya, areal tanaman tebu yang memasok kebutuhan pabrik mencapai sekitar 2.103 hektare. Kehadiran pabrik tersebut turut mendorong perkembangan kawasan Semboro sebagai salah satu sentra perkebunan tebu dan industri gula di wilayah Jember.

Perjalanan PG Semboro tidak selalu berjalan mulus. Pada periode 1933 hingga 1939, aktivitas penggilingan tebu sempat dihentikan. Operasional kembali dimulai pada 1940 dengan luas areal sekitar 1.271,4 hektare.

Memasuki masa pendudukan Jepang pada 1942–1945, kegiatan penggilingan kembali terhenti. Dalam sejumlah catatan sejarah perusahaan, fasilitas pabrik dialihfungsikan menjadi pabrik soda selama masa pendudukan tersebut.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, PG Semboro belum langsung kembali memproduksi gula. Berdasarkan catatan sejarah perusahaan, fasilitas pabrik digunakan sebagai pabrik amunisi hingga akhir 1949 untuk mendukung kebutuhan persenjataan para pejuang.

Akibat kondisi perang, berbagai fasilitas pabrik mengalami kerusakan sehingga membutuhkan proses perbaikan sebelum dapat kembali digunakan sebagai pabrik gula.

Pada 1950, PG Semboro kembali beroperasi sebagai pabrik pengolahan tebu. Perubahan besar kemudian terjadi pada 1957 ketika aset perusahaan milik Belanda dinasionalisasi dan dikelola oleh pemerintah Indonesia.

Sejak saat itu, pengelolaan PG Semboro beberapa kali mengalami perubahan kelembagaan. Pada 1968 pabrik berada di bawah PPN Inspektorat VIII, kemudian masuk ke PNP XXIV pada periode 1969–1975.

Selanjutnya, pada 1976 pengelolaannya berada di bawah PTP XXIV–XXV (Persero). Sejak 1 Maret 1996, PG Semboro menjadi bagian dari PT Perkebunan Nusantara XI (PTPN XI).


Perubahan organisasi tersebut tidak mengubah fungsi utama pabrik sebagai fasilitas pengolahan tebu menjadi gula. Seiring perkembangan industri gula nasional, berbagai pembaruan teknologi dan peningkatan kapasitas produksi terus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional.

Keberadaan PG Semboro juga tidak terlepas dari peran petani tebu di Kabupaten Jember dan daerah sekitarnya. Pasokan bahan baku berasal dari perkebunan milik perusahaan maupun hasil kemitraan dengan petani tebu rakyat.

Perubahan terbaru dalam pengelolaan PG Semboro terjadi pada dekade 2020-an. PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) didirikan pada 17 Agustus 2021 sebagai subholding komoditas gula di lingkungan PTPN III (Persero) Holding Perkebunan.

Selanjutnya, pada 10 Oktober 2022 dilakukan proses spin-off terhadap 36 pabrik gula milik PTPN Group ke dalam pengelolaan SGN. PG Semboro menjadi salah satu pabrik gula yang resmi bergabung dalam perusahaan tersebut.

Dengan perubahan tersebut, pengelolaan PG Semboro yang sebelumnya berada di bawah PTPN XI beralih menjadi bagian dari jaringan pabrik gula yang dikelola SGN.

Hingga kini, PG Semboro masih aktif melaksanakan musim giling setiap tahun. Pada musim giling 2024, pabrik mulai menerima pasokan tebu pada 1 Juni dan melaksanakan giling perdana pada 3 Juni 2024.

Saat itu, perusahaan menargetkan penggilingan sekitar 793 ribu ton tebu dengan produksi sekitar 56 ribu ton gula konsumsi. Sementara pada musim giling 2023, PG Semboro mencatat penggilingan sekitar 625 ribu ton tebu dan menghasilkan sekitar 43 ribu ton gula konsumsi.

Memasuki 2026, PG Semboro tetap menjadi bagian penting dalam industri gula nasional. Pada 9 Juli 2026, SGN menggelar panen tebu bersama di kebun PG Semboro yang melibatkan pemerintah, manajemen perusahaan, petani tebu, TNI, serta berbagai pemangku kepentingan sektor pergulaan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem industri gula dan ketahanan pangan nasional.

Lebih dari satu abad sejak dibangun oleh HVA, PG Semboro tetap berdiri sebagai salah satu pabrik gula yang masih beroperasi di Indonesia. Keberadaannya menjadi saksi perjalanan industri gula nasional, mulai dari era kolonial Belanda, pendudukan Jepang, perjuangan kemerdekaan, nasionalisasi perusahaan asing, hingga restrukturisasi industri gula milik negara pada era modern.

Jejak sejarah tersebut menjadikan PG Semboro sebagai salah satu bagian penting dari warisan industri gula di Kabupaten Jember yang masih bertahan dan terus beroperasi hingga saat ini.