Bogor, Tandaglobal.news Hamparan kebun teh di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga menyimpan sejarah panjang industri teh di Indonesia. Di balik hijaunya Perkebunan Gunung Mas, tersimpan perjalanan lebih dari satu abad yang dimulai sejak era kolonial hingga kini berkembang sebagai kawasan agrowisata.

Perkebunan Gunung Mas berada di Cisarua, Kabupaten Bogor, dan saat ini dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara I Regional 2. Kawasan tersebut mulai dikembangkan pada 1910 dan menjadi salah satu sentra perkebunan teh yang berperan dalam perkembangan industri teh di wilayah Puncak.

Keberadaan perkebunan di kawasan pegunungan dengan udara sejuk dan dataran tinggi menjadikan Gunung Mas sebagai lokasi yang ideal untuk budidaya tanaman teh. Kondisi geografis tersebut mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus mendorong berkembangnya industri pengolahan teh sejak awal abad ke-20.

Berawal dari perkebunan yang dikembangkan pada masa kolonial, Gunung Mas menjadi bagian dari ekspansi industri teh di Jawa Barat. Pada 1910, kawasan ini mulai dibangun sebagai salah satu perkebunan yang menghasilkan daun teh berkualitas.

Seiring perubahan politik dan ekonomi di Indonesia, pengelolaan perkebunan mengalami beberapa kali pergantian. Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan yang sebelumnya berada di bawah perusahaan perkebunan asing beralih kepada pemerintah melalui proses nasionalisasi pada dekade 1950-an.

Perkembangan perkebunan kemudian diikuti dengan pembangunan fasilitas pengolahan teh. Kehadiran pabrik memungkinkan pucuk teh yang dipanen dari kebun diproses menjadi produk siap dipasarkan sehingga meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan.

Pabrik Teh Gunung Mas menjadi bagian penting dalam rantai produksi. Daun teh yang dipetik menjalani berbagai tahapan pengolahan sebelum dipasarkan sebagai produk teh, sementara teknologi pengolahannya terus menyesuaikan perkembangan industri dan kebutuhan pasar.

Keberadaan pabrik membuat Gunung Mas tidak hanya berfungsi sebagai kawasan budidaya teh, tetapi juga menjadi sentra pengolahan hasil perkebunan yang menopang industri teh di kawasan Puncak.

Pabrik Teh Gunung Mas sempat berhenti beroperasi selama sekitar 14 tahun. Selama periode tersebut, sebagian hasil pucuk teh dari kebun diproses di fasilitas lain atau dipasarkan kepada pihak lain.

Meski aktivitas pabrik terhenti, kawasan perkebunan tetap beroperasi sebagai lokasi budidaya teh. Di saat yang sama, Gunung Mas juga terus berkembang menjadi salah satu destinasi wisata alam di kawasan Puncak.


Pada 2024, aktivitas pengolahan teh di Pabrik Gunung Mas kembali berjalan melalui kerja sama operasional dengan pihak swasta. Pabrik yang sebelumnya dikenal memproduksi teh hitam kembali beroperasi dengan menghasilkan teh hijau.

Beroperasinya kembali fasilitas pengolahan tersebut menjadi langkah untuk mengoptimalkan potensi perkebunan sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil panen. Pucuk teh yang dipetik dari kebun kini dapat kembali diolah di kawasan Gunung Mas.

Selain menjalankan fungsi sebagai kawasan produksi teh, Gunung Mas juga berkembang menjadi kawasan agrowisata yang menawarkan pengalaman mengenal aktivitas perkebunan secara langsung.

Wisatawan dapat menikmati hamparan kebun teh dengan latar pegunungan serta mengikuti berbagai aktivitas seperti tea walk yang menyusuri area perkebunan.

Pada 2025, Agrowisata Gunung Mas masih menjadi bagian dari wilayah PT Perkebunan Nusantara I Regional 2. Kawasan yang berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut tersebut tetap menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di kawasan Puncak.

Pengembangan sektor wisata memberikan nilai ekonomi tambahan bagi kawasan perkebunan. Selain memperoleh hasil dari produksi teh, kawasan ini juga memberikan kontribusi melalui sektor pariwisata.

Di tengah pesatnya perkembangan kawasan Puncak sebagai daerah wisata dan permukiman, keberadaan perkebunan teh menghadapi berbagai tantangan. Pengelola terus melakukan upaya menjaga keberlanjutan kawasan hijau melalui pengamanan aset dan pemulihan areal tanaman teh.

Pada 2024, PT Perkebunan Nusantara I Regional 2 membentuk satuan tugas pengamanan aset untuk mencegah okupasi lahan serta melakukan penanaman kembali pada areal tanaman teh yang terdampak.

Lebih dari satu abad sejak mulai dikembangkan pada 1910, Gunung Mas telah melewati berbagai fase perkembangan, mulai dari masa kolonial, nasionalisasi, modernisasi industri, berhentinya aktivitas pabrik, hingga kembali beroperasi pada era modern.

Kini, Gunung Mas tetap mempertahankan identitasnya sebagai kawasan perkebunan teh sekaligus destinasi agrowisata. Sejarah panjang tersebut menjadikan kawasan ini sebagai salah satu saksi perjalanan industri teh Indonesia yang terus bertahan dan berkembang hingga sekarang.