Jember, Tandaglobal.news — Di lereng selatan Pegunungan Argopuro, pada ketinggian sekitar 600–900 meter di atas permukaan laut, berdiri Pabrik Kopi Gunung Pasang, salah satu warisan perkebunan kolonial yang hingga kini masih mempertahankan tradisi pengolahan kopi robusta. Berlokasi di Kebun Gunung Pasang, Kecamatan Panti, pabrik ini menjadi bagian penting dari sejarah industri kopi di Kabupaten Jember dan kini dikelola Perumda Perkebunan Kahyangan Jember.
Pabrik ini bukan sekadar tempat mengolah hasil panen, tetapi juga menjadi saksi perjalanan panjang perkembangan perkebunan kopi di Jember sejak akhir abad ke-19. Keberadaannya memperlihatkan bagaimana tradisi budidaya dan pengolahan kopi terus bertahan di tengah perubahan zaman.
Pada masa pemerintah Hindia Belanda, kawasan Pegunungan Argopuro dinilai memiliki kondisi alam yang sangat mendukung pengembangan perkebunan. Tanah vulkanik yang subur, curah hujan tinggi, serta suhu pegunungan yang sejuk menjadikan wilayah ini ideal untuk tanaman kopi.
Seiring berkembangnya perkebunan, pemerintah kolonial membangun berbagai fasilitas pendukung, mulai dari jalan, jembatan, saluran air, gudang, hingga rumah administratur. Di kawasan inilah kemudian berdiri Pabrik Kopi Gunung Pasang sebagai pusat pengolahan hasil panen dari kebun-kebun di sekitarnya.
Bangunan pabrik mengusung arsitektur khas Indische dengan dinding tebal, ventilasi tinggi, dan ruang produksi yang luas. Di sekelilingnya terdapat fasilitas seperti bak penerimaan kopi, mesin pulper, bak fermentasi, area pengeringan, gudang penyimpanan, bengkel, rumah karyawan, serta jaringan jalan yang menghubungkan setiap afdeling kebun.
Berbeda dengan kawasan Ijen-Raung yang identik dengan kopi arabika, Gunung Pasang sejak awal dikenal sebagai sentra kopi robusta. Buah kopi merah yang dipanen diolah menjadi green bean melalui tahapan pengupasan kulit, fermentasi, pengeringan menggunakan mesin Mason Dryer, penggerbusan (hulling), pembersihan, grading, sortasi manual, hingga pengemasan.
Perpaduan kondisi alam Pegunungan Argopuro dengan proses pengolahan yang terjaga menghasilkan kopi robusta berkarakter aroma cokelat dan rempah, memiliki body kuat, tingkat kepahitan seimbang, serta cocok disajikan sebagai kopi tubruk maupun campuran espresso.
Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942–1945, seluruh aset perkebunan di kawasan ini ikut diambil alih. Produksi kopi sempat menurun akibat keterbatasan tenaga kerja, minimnya perawatan mesin, serta terganggunya jalur perdagangan. Meski demikian, Gunung Pasang tetap dipertahankan sebagai unit produksi karena kopi memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan perkebunan beralih ke Pemerintah Kabupaten Jember. Selanjutnya dibentuk Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan Jember yang kini menjadi Perumda Perkebunan Kahyangan Jember, sehingga Pabrik Kopi Gunung Pasang tetap beroperasi sebagai salah satu unit produksi milik pemerintah daerah.
Berbagai pembaruan kemudian dilakukan, mulai dari modernisasi mesin, peningkatan kapasitas produksi, pengendalian mutu, hingga pengembangan produk hilir berupa kopi sangrai, kopi bubuk, dan kopi premium dengan merek Perumda Kahyangan.
Saat ini, Kebun Gunung Pasang memiliki areal tanaman kopi robusta sekitar 760 hektare dengan produksi sekitar 300 ton biji kopi setiap tahun. Sebagian besar hasil panen dipasarkan dalam bentuk green bean, sementara sisanya diolah untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun industri kopi specialty.
Selain menjadi pusat produksi, kawasan ini juga berkembang sebagai tujuan agrowisata melalui Agrowisata Alam Boma Gunung Pasang. Pengunjung dapat menikmati panorama Pegunungan Argopuro sekaligus mengenal proses pengolahan kopi dari buah hingga menjadi biji kopi siap seduh.
Lebih dari satu abad sejak pertama kali dikembangkan pada masa kolonial Belanda, Pabrik Kopi Gunung Pasang tetap mempertahankan perannya sebagai salah satu sentra penghasil kopi robusta di Jawa Timur. Keberadaannya menjadi bukti bahwa warisan perkebunan tidak hanya berupa bangunan bersejarah, tetapi juga tradisi, pengetahuan, dan budaya kopi yang terus hidup hingga sekarang.




















Tinggalkan Balasan