Bondowoso, Tandaglobal.news — Di lereng Pegunungan Ijen dan Gunung Raung berdiri Pabrik Kopi Tugosari, salah satu unit pengolahan kopi arabika yang menjadi saksi perjalanan panjang industri kopi Indonesia. Berlokasi di Kebun Tugosari, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, pabrik yang kini dikelola PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII) itu tetap mempertahankan tradisi pengolahan kopi berkualitas yang telah berlangsung lebih dari satu abad.

Pabrik Kopi Tugosari lahir dari perkembangan perkebunan kopi di wilayah Karesidenan Besuki pada akhir abad ke-19. Saat itu pemerintah Hindia Belanda membuka kawasan-kawasan baru di dataran tinggi Ijen karena memiliki tanah vulkanik yang subur, udara sejuk, curah hujan tinggi, serta ketinggian ideal bagi pertumbuhan kopi arabika.

Perkembangan perkebunan tersebut dipelopori oleh Gerhard David Birnie, pengusaha perkebunan Belanda yang mulai mengembangkan kebun kopi di kawasan Ijen pada dekade 1890-an. Setelah berhasil membangun perkebunan di Blawan, areal budidaya kemudian diperluas hingga ke Tugosari yang selanjutnya menjadi salah satu sentra produksi kopi arabika di Bondowoso.

Pabrik Kopi Tugosari mulai berkembang pada awal abad ke-20 sebagai pusat pengolahan hasil panen dari kebun-kebun di sekitarnya. Bangunannya mengusung arsitektur Indische dengan dinding tebal, ventilasi tinggi, serta ruang produksi yang luas. Di dalam kompleks juga dibangun bak fermentasi, saluran pencucian, lantai penjemuran, gudang penyimpanan, bengkel, rumah administratur, hingga perumahan karyawan yang saling terhubung oleh jaringan jalan kebun.

Pabrik Kopi Tugosari sejak awal mengandalkan metode washed process atau olah basah. Buah kopi merah diproses melalui tahap pengupasan kulit, fermentasi, pencucian, pengeringan, pengupasan kulit tanduk, sortasi, grading, hingga siap dipasarkan. Ketersediaan air pegunungan dan kondisi alam Ijen memberikan pengaruh besar terhadap cita rasa kopi yang dihasilkan.

Kopi Tugosari dikenal memiliki karakter aroma bunga putih, sentuhan citrus, madu, dan karamel dengan tingkat keasaman yang cerah serta body sedang. Karakter tersebut terbentuk dari perpaduan tanah vulkanik, ketinggian kawasan, suhu pegunungan, serta proses pengolahan yang dijaga secara konsisten selama puluhan tahun.

Pada awal abad ke-20, hasil produksi Tugosari menjadi bagian dari jaringan perdagangan Java Coffee yang telah mendunia. Kopi dari kawasan ini dikirim ke berbagai negara Eropa seperti Belanda, Jerman, Prancis, dan Italia. Bahkan, istilah Java Coffee kemudian dikenal luas sebagai sebutan kopi berkualitas yang berasal dari Pulau Jawa.

Perjalanan pabrik sempat mengalami masa sulit ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942–1945. Produksi menurun akibat terbatasnya tenaga kerja, minimnya perawatan mesin, serta terganggunya jalur ekspor. Meski demikian, kawasan perkebunan tetap dipertahankan karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Setelah Indonesia merdeka, seluruh aset perkebunan Belanda dinasionalisasi pada 1957–1958. Kebun Tugosari bersama pabrik pengolahannya kemudian dikelola Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) sebelum akhirnya bergabung ke dalam PTPN XII pada 1996 melalui reorganisasi perusahaan perkebunan negara di Jawa Timur.

Di bawah pengelolaan PTPN XII, modernisasi mesin, pengendalian mutu, dan standar ekspor terus ditingkatkan tanpa menghilangkan karakter bangunan kolonial yang menjadi identitas kawasan. Hingga kini, Tugosari tetap menjadi bagian penting dari kawasan Java Coffee Estate Ijen–Raung yang menghasilkan kopi arabika specialty berindikasi geografis.

Lebih dari seabad sejak pertama kali dibangun, Pabrik Kopi Tugosari masih berdiri sebagai simbol keberlanjutan warisan perkebunan Indonesia. Bukan hanya menjaga bangunan bersejarah, tetapi juga mempertahankan tradisi, pengetahuan, dan reputasi Java Coffee yang terus membawa nama Bondowoso ke pasar dunia.