Bondowoso, Tandaglobal.news — Di lereng Pegunungan Ijen dan Gunung Raung, pada ketinggian sekitar 1.100–1.500 meter di atas permukaan laut, berdiri Pabrik Kopi Pancur Angkrek, salah satu pabrik pengolahan kopi arabika tertua di Indonesia yang hingga kini masih beroperasi. Dikelola PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII), kawasan ini menjadi saksi perjalanan panjang industri kopi sejak masa kolonial Belanda hingga era modern.

Nama Pancur Angkrek tidak hanya dikenal sebagai sentra produksi kopi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah besar Java Coffee. Selama lebih dari satu abad, kawasan ini berkontribusi menjaga reputasi kopi arabika Jawa Timur yang telah lama mendapat tempat di pasar internasional berkat cita rasa dan kualitasnya.

Sejarah Pancur Angkrek bermula pada akhir abad ke-19 ketika pemerintah Hindia Belanda memperluas perkebunan kopi di wilayah Karesidenan Besuki. Kondisi alam Bondowoso yang memiliki tanah vulkanik subur, udara sejuk, curah hujan tinggi, dan berada di dataran tinggi dinilai sangat ideal untuk budidaya kopi arabika.

Perkembangan perkebunan di kawasan Ijen dipelopori oleh Gerhard David Birnie, pengusaha perkebunan asal Belanda yang pada dekade 1890-an membuka sejumlah kebun kopi di dataran tinggi Ijen. Setelah mengembangkan Perkebunan Blawan, ekspansi dilakukan ke beberapa lokasi lain, termasuk Pancur Angkrek yang kemudian tumbuh menjadi salah satu pusat produksi kopi terbesar di kawasan tersebut.

Seiring meningkatnya hasil panen, dibangun Pabrik Kopi Pancur Angkrek sebagai pusat pengolahan buah kopi dari seluruh areal perkebunan. Berdasarkan berbagai catatan sejarah, pabrik ini mulai beroperasi pada tahun 1924 dan menjadi salah satu fasilitas pengolahan kopi tertua di kawasan Ijen-Raung.

Bangunan pabrik mengusung arsitektur Indische dengan ciri dinding tebal, ventilasi tinggi, dan atap berukuran besar. Di sekitarnya dibangun fasilitas pendukung seperti bak fermentasi, saluran pencucian, lantai penjemuran, gudang penyimpanan, rumah administratur, rumah karyawan, serta jaringan jalan yang menghubungkan setiap afdeling kebun.

Sejak awal berdiri, Pancur Angkrek menerapkan metode washed process atau olah basah untuk menghasilkan kopi arabika berkualitas. Proses tersebut meliputi pengupasan kulit buah, fermentasi, pencucian, pengeringan, sortasi hingga pengemasan. Ketersediaan air pegunungan yang melimpah menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga mutu hasil produksi.

Pada awal abad ke-20, kopi dari Pancur Angkrek menjadi bagian dari jaringan perdagangan Java Coffee yang diekspor ke berbagai negara Eropa seperti Belanda, Jerman, Prancis, dan Italia. Bahkan istilah Java kemudian dikenal luas di berbagai negara sebagai sebutan untuk kopi berkualitas dari Pulau Jawa.

Kopi arabika Pancur Angkrek dikenal memiliki karakter aroma bunga putih, citrus, madu, dan karamel dengan tingkat keasaman yang cerah serta body yang seimbang. Karakter tersebut terbentuk dari perpaduan tanah vulkanik, ketinggian kawasan Ijen, suhu pegunungan, dan proses pengolahan yang konsisten.

Masa pendudukan Jepang pada 1942–1945 sempat menurunkan produksi akibat keterbatasan tenaga kerja, kerusakan transportasi, dan terganggunya jalur ekspor. Setelah Indonesia merdeka, perkebunan ini menjadi bagian dari nasionalisasi perusahaan Belanda pada 1957–1958 sebelum akhirnya berada di bawah pengelolaan perusahaan perkebunan negara.

Sejak bergabung dengan PT Perkebunan Nusantara XII pada 1996, berbagai modernisasi dilakukan tanpa menghilangkan nilai sejarah kawasan. Pembaruan mesin, peningkatan sistem pengendalian mutu, hingga penerapan standar ekspor terus dikembangkan, sementara bangunan kolonial tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan perkebunan.

Kini Pancur Angkrek tidak hanya memproduksi green bean arabika specialty untuk pasar ekspor, tetapi juga berkembang sebagai kawasan heritage dan agrowisata. Bangunan bersejarah, rumah administratur, jalur perkebunan, hingga aktivitas pengolahan kopi menjadi daya tarik bagi peneliti, fotografer, mahasiswa, dan wisatawan.

Lebih dari seabad sejak pertama kali dikembangkan pada masa kolonial, Pabrik Kopi Pancur Angkrek tetap menjaga tradisi pengolahan kopi arabika yang menjadi identitasnya. Dari dataran tinggi Bondowoso inilah nama Java Coffee terus hidup, membawa harum kopi Indonesia ke pasar dunia sekaligus menjadi bukti bahwa warisan sejarah dapat terus bernilai melalui kualitas dan tradisi yang dipertahankan.