Banyuwangi, Tandaglobal.news Di lereng barat Kabupaten Banyuwangi, tepatnya di kawasan Kalibaru dan Malangsari, berdiri salah satu pusat pengolahan kopi tertua di Jawa Timur yang menjadi bagian penting dalam sejarah industri perkebunan Indonesia. Pabrik Kopi Kalibaru–Malangsari merupakan warisan industri yang berkembang sejak masa kolonial Belanda pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ketika kawasan tersebut mulai dibuka sebagai areal perkebunan kopi, karet, kakao, dan rempah-rempah.

Hingga kini, kawasan Kalibaru dan Malangsari masih dikenal sebagai sentra produksi kopi robusta sekaligus menjadi salah satu destinasi wisata agro bersejarah di Banyuwangi.

Lahir dari Politik Perkebunan Kolonial

Perkebunan Kalibaru dan Malangsari berkembang seiring diberlakukannya Undang-Undang Agraria 1870 (Agrarische Wet) yang membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan swasta Eropa untuk menyewa lahan dalam jangka panjang dan mengembangkan perkebunan komersial di Pulau Jawa.

Kalibaru, yang berada di jalur penghubung Jember–Banyuwangi dengan tanah vulkanik subur di kaki Pegunungan Ijen-Raung, dipilih sebagai lokasi ideal untuk budidaya kopi. Sejak akhir abad ke-19, sejumlah perusahaan perkebunan Belanda mulai membuka lahan di Kalibaru dan Malangsari dengan menjadikan kopi robusta sebagai komoditas utama.

Untuk mendukung pengolahan hasil panen, dibangun pabrik pengolahan kopi (koffiefabriek) yang melayani hasil produksi dari beberapa afdeling atau bagian kebun di kawasan tersebut. Masyarakat kemudian mengenalnya sebagai Pabrik Kopi Kalibaru atau Pabrik Kopi Malangsari.

Perkembangan Awal Abad ke-20

Memasuki awal 1900-an, produksi kopi di kawasan ini meningkat pesat. Pabrik dilengkapi berbagai peralatan modern pada masanya, seperti mesin pengupas buah kopi (pulper), mesin pencuci, saluran fermentasi, pengering mekanis, gudang penyimpanan, hingga mesin sortasi yang didatangkan dari Eropa.

Pada masa itu, hasil kopi Kalibaru dan Malangsari diangkut menggunakan jaringan kereta api Staatsspoorwegen (SS) menuju pelabuhan di Jawa Timur sebelum diekspor ke Belanda, Jerman, dan sejumlah negara Eropa lainnya. Keberadaan Stasiun Kalibaru menjadi faktor penting yang mempercepat distribusi hasil perkebunan.

Pabrik Kopi Kalibaru juga menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Ribuan buruh kebun, mandor, teknisi mesin, hingga pegawai administrasi menggantungkan mata pencaharian mereka pada industri perkebunan tersebut.

Masa Kejayaan

Periode 1920–1930-an menjadi masa keemasan perkebunan Kalibaru dan Malangsari. Permintaan kopi robusta dunia meningkat, sementara kualitas kopi dari kawasan ini dikenal baik karena ditanam pada ketinggian menengah dengan curah hujan yang stabil.

Selama musim panen, pabrik beroperasi hampir tanpa henti. Buah kopi merah yang dipetik dari kebun diproses melalui tahapan penerimaan dan penimbangan, pengupasan kulit buah (pulping), fermentasi, pencucian, pengeringan, pengupasan kulit tanduk (hulling), sortasi mutu, hingga penyimpanan sebelum dikirim ke pasar.

Sebagian besar hasil produksi berupa kopi robusta, sedangkan kopi arabika hanya dibudidayakan pada sebagian kecil areal perkebunan.

Dampak Krisis Ekonomi Dunia

Kejayaan tersebut mulai terganggu setelah Great Depression tahun 1929 mengguncang perekonomian dunia. Harga kopi internasional merosot tajam sehingga banyak perusahaan perkebunan melakukan efisiensi.

Produksi di Kalibaru dan Malangsari ikut menurun. Sebagian lahan dialihkan untuk komoditas lain, seperti karet dan kakao, sementara operasional pabrik dikurangi meski tetap difungsikan sebagai pusat pengolahan hasil perkebunan.

Masa Pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942–1945, pengelolaan perkebunan mengalami perubahan besar. Banyak tenaga ahli Belanda ditahan atau dipulangkan, sedangkan seluruh aktivitas perkebunan berada di bawah pengawasan pemerintah militer Jepang.

Keterbatasan suku cadang dan bahan bakar membuat sebagian mesin pabrik tidak dapat beroperasi secara optimal. Meski demikian, fasilitas pengolahan kopi tetap dipertahankan karena kopi masih dianggap sebagai komoditas penting.

Nasionalisasi Perkebunan

Setelah Indonesia merdeka, perkebunan-perkebunan bekas milik Belanda secara bertahap diambil alih pemerintah. Proses nasionalisasi berlangsung terutama pada akhir 1950-an hingga akhirnya kawasan perkebunan Kalibaru dan Malangsari menjadi bagian dari Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) yang kemudian mengalami beberapa kali reorganisasi hingga berada di bawah pengelolaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN).

Pada periode tersebut, pabrik tetap dimanfaatkan untuk mengolah hasil kopi dari kebun-kebun di sekitarnya. Selain kopi, perkebunan juga mengembangkan komoditas lain seperti karet, kakao, cengkeh, dan pala.

Modernisasi Produksi

Sejak dekade 1970-an hingga 1990-an, fasilitas pengolahan kopi dimodernisasi secara bertahap. Sejumlah mesin peninggalan kolonial digantikan dengan peralatan yang lebih efisien, sementara sistem pengeringan dan sortasi diperbarui agar memenuhi standar ekspor.

Meski begitu, sebagian bangunan pabrik, gudang tua, rumah administratur, kantor perkebunan, hingga jalur distribusi peninggalan Belanda tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan sejarah kawasan Kalibaru.

Menjadi Destinasi Wisata Agro

Memasuki abad ke-21, kawasan Kalibaru–Malangsari berkembang tidak hanya sebagai sentra produksi kopi, tetapi juga menjadi destinasi agro tourism. Pengunjung dapat melihat langsung kebun kopi, proses pengolahan pascapanen, bangunan kolonial, gudang penyimpanan, hingga menikmati cita rasa kopi robusta hasil perkebunan setempat.

Keberadaan Kalibaru Cottages, jalur kereta api bersejarah, serta kompleks perkebunan kolonial turut memperkuat daya tarik kawasan ini sebagai destinasi wisata sejarah dan perkebunan di Banyuwangi.

Warisan Industri Kopi Banyuwangi

Lebih dari satu abad sejak dibangun pada era kolonial, Pabrik Kopi Kalibaru–Malangsari tetap menjadi simbol penting perjalanan industri perkebunan di Jawa Timur. Keberadaannya mencerminkan bagaimana kebijakan kolonial, pembangunan jalur kereta api, investasi teknologi pengolahan, dan kerja ribuan buruh perkebunan membentuk perekonomian kawasan Banyuwangi.

Dari sebuah koffiefabriek yang melayani perkebunan Belanda, pabrik ini berkembang menjadi fasilitas pengolahan milik negara dan kini menjadi bagian dari wisata agro modern. Pabrik Kopi Kalibaru–Malangsari menjadi salah satu contoh nyata warisan industri kopi Indonesia yang masih bertahan hingga sekarang.