
Tandaglobal.news KEDIRI – Dalam rangka memperingati Hari Koperasi ke-79, Gebyar UMKM resmi diselenggarakan di Taman Hijau Simpang Lima Gumul (SLG), Kabupaten Kediri. Acara yang berlangsung selama empat hari, mulai 23 hingga 26 Juli 2026, merupakan hasil kerja sama dengan Dinas Koperasi Kabupaten Kediri dan menjadi wadah bagi puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memamerkan sekaligus memasarkan produk unggulan mereka kepada masyarakat.
Ketua Panitia Acara, Onggo Sugiartono, menjelaskan bahwa selain memperingati Hari Koperasi, kegiatan ini bertujuan mendorong pengembangan UMKM melalui ruang promosi yang lebih luas.
“Tujuan utama jelas kita memperingati Hari Koperasi, Mbak ya. Terus untuk UMKM-nya, itu yang jelas memang kan ya perlu untuk pengembangan ya. Pengembangan UMKM dengan adanya kegiatan ini dengan maksud supaya ya masing-masing daripada peserta itu bisa menunjukkan daripada hasil daripada karyanya. Mungkin menemukan ya snack-snack baru atau makanan baru itu karena kita kan bisa dikenal oleh masyarakat sini, bisa maju,” ujar Onggo.
Sebanyak kurang lebih 80 pelaku UMKM mengikuti kegiatan ini. Area pameran dibagi menjadi dua bagian, yakni area sebelah utara yang diisi produk nonkuliner dan area selatan yang dikhususkan bagi pelaku usaha kuliner. Untuk memberikan motivasi kepada peserta, panitia juga memberikan stimulus berupa voucer dan uang perangsang sebesar Rp200.000 per stan. Program tersebut merupakan inisiatif Ketua Dekopinda, Buat Santoso.
Terkait penilaian produk unggulan, Onggo mengatakan panitia masih akan melakukan evaluasi langsung ke setiap stan selama kegiatan berlangsung.
“Lha itu, produk unggulan itu belum, belum anu Mbak, belum kita belum sampai ngecek ya, sampai ngecek keunggulannya. Nanti kita akan ke stan-stan begitu. Kan masih dua hari ini. Ini masih dua hari jadi kita akan…” kata Onggo menambahkan.
Menurut Onggo, dipilihnya Taman Hijau SLG sebagai lokasi kegiatan karena kawasan tersebut dinilai rindang, strategis, aman, serta selalu ramai dikunjungi masyarakat. Ia menyebut Gebyar UMKM yang digelar Dekopinda ini merupakan penyelenggaraan perdana dan diharapkan dapat terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
Salah satu fokus utama penyelenggara adalah mendorong lahirnya regenerasi pelaku koperasi dan UMKM dari kalangan muda.
“Target yang dicapai yang jelas untuk Bapak Ketua Dekopinda itu tadi ingin sekali, Mbak, itu utamanya nih ya, utamanya memang ingin anu Mbak, pre-generasi. Yang muda-muda itu diharapkan bisa nanti menggantikan dari bapak-bapak yang sudah sepuh-sepuh. Memang sekarang itu koperasi masih dikuasai oleh senior-senior, Mbak. Yang sepuh-sepuh. Jadi untuk yang muda-muda masih tampaknya kok belum, belum berminat begitu. Ya diharapkan terdekat nanti Dekopinda akan melaksanakan pembinaan begitu, pembinaan dan pelatihan-pelatihan begitu untuk bekal daripada generasi mudanya,” pungkas Onggo.
Melihat potensi penyelenggaraan tahun pertama ini, panitia juga berencana kembali menggelar Gebyar UMKM pada tahun depan di lokasi yang sama dengan persiapan yang lebih matang, jumlah peserta yang lebih banyak, dan konsep acara yang lebih meriah.
Gebyar UMKM juga menjadi kesempatan bagi para pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya secara langsung kepada masyarakat. Salah satunya adalah Atik, pemilik usaha kerajinan anyaman asal Nganjuk dengan merek Atique Gallery.
Di stan miliknya, Atik memamerkan berbagai produk anyaman seperti tas emboss, tas anyaman jali, hingga kombinasi anyaman dengan kain batik. Seluruh produk tersebut dikerjakan bersama kelompok ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya.
“Ah, ini mereknya Atique Gallery. Ya, produknya ada tas anyaman emboss, tas anyaman jali, terus ini dipadu batik. Iya, kita ada anu ibu-ibu, memberdayakan ibu-ibu sekitar rumah,” ungkap Atik.
Usaha yang dirintis sejak pandemi Covid-19 pada 2019 tersebut menawarkan produk dengan harga mulai Rp7.000 hingga Rp70.000. Atik mengaku mengikuti Gebyar UMKM karena ingin memperluas pasar sekaligus mengenalkan produk anyamannya kepada masyarakat.
Selama mengikuti pameran, ia merasakan dampak positif berupa peningkatan penjualan.
“Ini alhamdulillah lumayan, kemarin sudah laku tujuh, ini tadi sudah laku empat,” tutur Atik dengan penuh syukur.
Selain memasarkan produk anyaman, Atique Gallery juga berkolaborasi dengan pelaku usaha lain yang memproduksi sepatu kulit lokal. Menurut Atik, kegiatan seperti ini sangat membantu promosi produk secara langsung dan membuka peluang pelanggan baru. Ia berharap penyelenggaraan berikutnya dapat disesuaikan dengan masa liburan sekolah dan berlangsung lebih lama.
“Ya itu, apa… kita ambil event-nya itu kalau bisa pas waktu anak-anak hari libur sekolah, itu kan rame. Terus waktunya, ya mak… minimal 10 hari, kan kita biar apa orang-orang ‘oh sampai 10 hari’, nanti kan banyak… kalau hari ini belum ke sini, besok-besok itu kan banyak yang tahu,” pungkas Atik menutup perbincangan.
Semangat yang sama juga ditunjukkan oleh pelaku usaha kreatif Kiplis Art. Usaha milik Muhammad Hilmi Zaki asal Plemahan tersebut berhasil menarik perhatian pengunjung, terutama kalangan Gen Z, melalui produk-produk merchandise bertema animasi bergaya Studio Ghibli.
Hilmi mengaku memilih bisnis tersebut karena kecintaannya terhadap dunia wirausaha dan animasi.
“Yang pertama saya suka dengan apa ya, jualan ya. Terus yang kedua saya suka dengan anime-anime kayak gini… Ghibli,” ungkap Hilmi.
Usaha yang telah berjalan sekitar dua tahun itu menjual berbagai produk seperti stiker, gantungan kunci, pin button, hingga webbing custom dengan harga yang ramah di kantong pelajar dan mahasiswa.
Meski tren penjualan daring terus berkembang, Hilmi mengaku masih fokus berjualan secara luring.
“Kebetulan kami masih di offline aja, karena di online store itu kami masih apa ya, berperang sama admin Shopee. Shopee kan sekarang besar ya, 30%. Jadi kami masih belum bisa untuk adaptasi dengan itu,” kelakarnya.
Sebagai gantinya, Kiplis Art aktif mengikuti berbagai kegiatan Car Free Day di kawasan SLG Kediri, Kampung Inggris Pare, hingga Ijen, Kota Malang.
Keikutsertaan dalam Gebyar UMKM Hari Koperasi menjadi pengalaman pertamanya mengikuti pameran yang berlangsung selama beberapa hari. Meski baru memasuki pertengahan acara, Hilmi mengaku telah merasakan manfaat berupa peningkatan omzet dan bertambahnya relasi bisnis.
“Untuk satu hari ini… kemarin ya, itu omset alhamdulillah kita masih masuk di hitungan. Kemudian kita juga dapat relasi baru gitu. Jadi mungkin itu merupakan apa ya, benefit jangka panjang gitu,” jelas Hilmi penuh optimis.
Di sektor kuliner, Seblak Teh Panni juga menjadi salah satu stan yang ramai didatangi pengunjung. Laili, perwakilan usaha tersebut, menjelaskan bahwa pemilik Seblak Teh Panni merupakan warga asli Bandung sehingga cita rasa yang dihadirkan tetap mempertahankan resep autentik.
Meski berasal dari Desa Gogorante yang lokasinya tidak jauh dari SLG, Laili mengaku baru pertama kali mengikuti event sebesar Gebyar UMKM.
“Cuma kalau ikut event ini juga baru sih Mbak, baru dua hari ini,” ujar Laili saat diwawancarai di stannya.
Seblak Teh Panni menawarkan berbagai pilihan topping dengan harga mulai Rp1.000 hingga sekitar Rp17.000–Rp18.000. Selain seblak, stan tersebut juga menjual mi spatul dan aneka minuman segar.
Menurut Laili, mengikuti Gebyar UMKM memberikan banyak manfaat, mulai dari menambah pengalaman hingga memperluas promosi usaha.
“Karena bisa nambah pengalaman sih Mbak, sama kayak mempromosikan Seblak Teh Panni di sini,” kata Laili menjelaskan alasannya tertarik mengikuti acara tersebut.
Respons masyarakat terhadap produk yang ditawarkan juga dinilai sangat baik. Laili berharap Seblak Teh Panni terus berkembang dan semakin dikenal oleh masyarakat luas.
Melalui penyelenggaraan Gebyar UMKM Hari Koperasi ke-79 ini, Dekopinda bersama Dinas Koperasi Kabupaten Kediri tidak hanya menghadirkan ruang promosi bagi pelaku usaha lokal, tetapi juga membangun ekosistem yang mendorong kolaborasi, peningkatan omzet, lahirnya inovasi produk, serta regenerasi pelaku koperasi dan UMKM agar mampu bersaing di masa depan.




















Tinggalkan Balasan