
Tandaglobal.news | Nganjuk — Di balik kejayaan industri gula pada masa kolonial Belanda, tersimpan kisah para buruh yang jarang tercatat dalam lembaran sejarah, termasuk cerita seorang buruh dapur di PG Lestari Patianrowo pada tahun 1926.
Pada masa itu, PG Lestari menjadi salah satu pabrik gula yang beroperasi dengan dukungan ribuan buruh pribumi selama musim giling.
Aktivitas pabrik berlangsung hampir tanpa henti untuk memenuhi kebutuhan produksi gula yang menjadi komoditas penting Hindia Belanda.
Di balik deru mesin giling, dapur barak memiliki peran penting dalam menyediakan makanan bagi para buruh agar tetap mampu bekerja sepanjang hari.
Rukmini menjadi salah satu buruh dapur yang setiap hari menyiapkan makanan sederhana, mulai dari menanak nasi hingga membakar ikan asin.
Suatu pagi, dapur barak tidak mengepulkan asap karena Rukmini memilih tetap berada di rumah untuk merawat anak semata wayangnya yang terserang demam tinggi.
Pada saat yang sama, suaminya telah berangkat bekerja sebagai buruh tebang tebu di area perkebunan.
Keadaan tersebut kemudian sampai kepada Kepala Gudang PG Lestari, Hendrik van Loon.
Setelah mengetahui alasan ketidakhadiran Rukmini, Van Loon memutuskan menyalakan tungku dapur bersama para buruh agar kebutuhan makan para pekerja tetap terpenuhi.
Keputusan itu membuat aktivitas dapur dapat kembali berjalan meski tanpa kehadiran Rukmini.
Usai pekerjaan selesai, Van Loon menitipkan sejumlah uang kepada seorang buruh untuk disampaikan kepada Rukmini.
Bantuan tersebut diberikan tanpa dicatat dalam administrasi perusahaan.
Uang itu kemudian digunakan Rukmini untuk membawa anaknya berobat.
Keesokan harinya, Rukmini kembali menjalankan pekerjaannya seperti biasa di dapur barak.
Dengan penuh haru, ia mengucapkan terima kasih kepada Van Loon karena bantuan tersebut sangat berarti bagi keluarganya.
Peristiwa sederhana itu memperlihatkan bahwa kehidupan banyak buruh pada masa kolonial sering kali bergantung pada kepedulian individu, bukan pada perlindungan atau hak yang dijamin oleh sistem ketenagakerjaan.
Kisah seperti ini juga menjadi bagian dari sisi kemanusiaan industri gula yang kerap tenggelam di balik catatan produksi, keuntungan perusahaan, dan perkembangan teknologi pengolahan tebu.
Cerita Rukmini mengingatkan bahwa kejayaan industri gula tidak hanya dibangun oleh mesin dan teknologi, tetapi juga oleh pengorbanan para buruh yang bekerja dalam segala keterbatasan demi mempertahankan kehidupan keluarganya.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan