Tandaglobal.news | Jombang — Sebuah album foto dari Pabrik Gula Tjoekir menyimpan kisah tentang hubungan dekat antara Johanna, istri administrateur pabrik, dan Minah, perempuan Jawa yang menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarganya.

Pada musim kemarau 1937, Johanna tiba di tanah Jawa setelah suaminya, Ir. Willem Lammers, ditunjuk sebagai Administrateur Pabrik Gula Tjoekir.

Saat itu, Johanna baru berusia 24 tahun dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru di Jombang.

Di tempat tersebut, ia bertemu Minah, perempuan Jawa berusia 22 tahun yang dipilih untuk menjadi baboe atau pengasuh rumah tangganya.

Perbedaan usia dua tahun membuat keduanya semakin dekat dalam kehidupan sehari-hari.

Minah kemudian berperan besar membantu Johanna menjalani kehidupan di lingkungan baru yang jauh dari Belanda.

Ia pernah menggendong Pieter, anak Johanna, ketika bayi tersebut mengalami demam malaria pada 1938.

Minah juga mengajarkan Johanna memasak berbagai hidangan lokal di dapur belakang rumah dinas.

Kedekatan mereka tumbuh melalui aktivitas sederhana yang perlahan membuat Johanna merasa lebih dekat dengan kehidupan Jawa.

Di balik perannya dalam keluarga Lammers, Johanna diam-diam menyisihkan uang untuk tabungan sawah kecil bagi Minah kelak.

Setiap Lebaran, Johanna juga tidak pernah lupa membelikan Minah sehelai batik baru.

Ketika Anna, anak kedua keluarga Lammers, lahir pada 1940, suara tembang nina bobo dari Minah menjadi bagian dari masa kecilnya.

Kenangan tersebut kemudian tersimpan dalam sebuah album foto kulit cokelat tebal milik keluarga Lammers.

Album itu berisi berbagai potongan kehidupan mereka, mulai dari foto Minah menggendong Pieter hingga suasana keluarga Lammers saat berada di tengah kebun tebu.

Terdapat pula foto Johanna dan Minah yang berpose dengan wajah penuh tepung di dapur pada 1947.

Bagi Minah yang tidak dapat membaca dan menulis, album tersebut menjadi catatan visual tentang keluarga yang dianggapnya sebagai bagian dari hidupnya.

Namun, ketenangan itu berubah ketika pergolakan sejarah mencapai Jombang pada awal 1949.

Agresi Militer II membuat suasana di sekitar Tjoekir dipenuhi kecemasan karena rumah-rumah dinas Belanda mulai menjadi sasaran.

Saat itu Pieter dan Anna telah dievakuasi ke rumah saudara di Surabaya, sementara Willem bertugas di Semarang.

Johanna dan Minah kemudian menghadapi keadaan tersebut berdua di lingkungan pabrik.

Suatu senja, teriakan “Api!” terdengar ketika rumah dinas mereka terbakar.

Dalam kepanikan tersebut, album foto kulit cokelat menjadi satu-satunya benda yang berhasil diselamatkan Johanna.

Mereka kemudian menyelamatkan diri ke gudang gula bekas dan bersembunyi selama tiga hari.

Di tempat gelap itu, album foto menjadi pengingat perjalanan hidup yang pernah mereka jalani bersama.

Johanna membuka halaman demi halaman sambil menceritakan kenangan yang tersimpan di dalamnya.

Minah mendengarkan cerita tersebut sambil bersandar di bahu Johanna di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Pada 7 Maret 1949, truk tentara Belanda tiba untuk mengevakuasi warga Eropa dari kawasan tersebut.

Johanna harus meninggalkan Tjoekir dan berpisah dengan Minah yang selama ini mendampinginya.

Minah mengantar Johanna hingga pagar pabrik sambil menggenggam ujung dasternya dan tidak ingin berpisah.

Ketika truk mulai bergerak, Minah berlari mengejar sambil menangis.

“Nyonya! Albumnya… albumnya!” teriak Minah.

“Foto kita… jangan sampai hilang!” lanjutnya.

Johanna kemudian melemparkan album kulit cokelat tersebut dari atas truk hingga jatuh ke pelukan Minah.

Perpisahan itu menjadi momen terakhir keduanya bertemu setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan bersama.

Johanna akhirnya kembali ke Belanda pada akhir 1949 dan menghabiskan sisa hidupnya di Haarlem hingga wafat pada 1978.

Di rumahnya, Johanna masih menyimpan satu foto Minah muda yang sedang menggendong Anna kecil.

Sementara itu, Minah tidak pernah menikah dan tetap tinggal di Diwek dengan menyimpan album tersebut di lemari kamarnya.

Setiap malam, ia membuka halaman album itu sambil mengenang keluarga yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Minah sering berbisik, “Ini keluargaku,” ketika melihat kembali foto-foto lama tersebut.

Pada pertengahan 1990-an, cucu Johanna datang ke pemakaman dusun Pranggang untuk mencari jejak perempuan yang pernah dekat dengan keluarganya.

Ia menemukan pusara sederhana Minah dan meletakkan seikat bunga sebagai penghormatan.

“Ini dari Oma Johanna,” bisiknya.

Kisah album foto dari Tjoekir menjadi catatan tentang persahabatan dua perempuan dari latar berbeda yang dipertemukan oleh perjalanan sejarah.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.