Tandaglobal.news | Klaten — Di sekitar Pabrik Gula Gondang Winangoen yang kini dikenal sebagai PG Gondang Baru, berkembang kisah lisan tentang Hendrik Muller, seorang teknisi Belanda yang disebut menemukan keseimbangan antara teknologi Eropa dan budaya Jawa.
Pabrik Gula Gondang Winangoen berdiri sejak 1860 dan pernah menjadi salah satu pusat industri gula pada masa kolonial.
Ribuan buruh bekerja mengolah tebu, sementara mesin-mesin impor beroperasi untuk mendukung produksi gula.
Di kawasan pabrik tersebut, para pejabat Belanda tinggal di rumah-rumah bergaya Eropa yang tertata rapi.
Namun, perjalanan industri gula kala itu tidak selalu berjalan mulus karena harga gula mengalami naik turun dan tekanan produksi terus berlangsung.
Pada 1928, Hendrik Muller datang ke Gondang Winangoen sebagai teknisi mesin asal Belanda ketika berusia 35 tahun.
Ia dikenal sebagai sosok yang disiplin, kaku, dan sangat berpegang pada petunjuk teknis dalam pekerjaannya.
Muller hidup seorang diri dan jauh dari lingkungan pergaulan orang Eropa di Solo.
Seiring waktu, ia disebut mulai menyukai kehidupan masyarakat Jawa, mulai dari suasana pedesaan hingga kuliner lokal seperti nasi tumpang lethok Klaten.
Kehidupan Muller kemudian berubah ketika krisis ekonomi dunia pada dekade 1930-an berdampak pada industri gula.
Harga gula mengalami penurunan, produksi melemah, dan banyak pekerja kehilangan pekerjaan.
Dalam situasi tersebut, Muller menghadapi tekanan dari atasan serta keluhan dari para pekerja pabrik.
Puncak masalah terjadi pada 1932 ketika mesin giling utama pabrik mengalami kerusakan dan tidak dapat beroperasi.
Selama sekitar satu minggu, Muller bersama timnya berusaha memperbaiki mesin tersebut tanpa hasil.
Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, Muller kemudian mengalami kejadian aneh di ruang kontrol pabrik setelah mengalami kelelahan berat.
Keesokan harinya, ia disebut menemukan cara memperbaiki mesin dengan metode yang tidak biasa, yaitu menggunakan air cuka dan doa Jawa.
Mesin tersebut kemudian kembali beroperasi dan kisah itu membuat pandangan Muller terhadap budaya setempat berubah.
Setelah peristiwa tersebut, legenda masyarakat menggambarkan Muller mulai mempelajari praktik pengobatan tradisional dari warga sekitar.
Ia kemudian dikenal membuat ramuan bernama Tetes Muller yang disebut berasal dari tetes tebu dan campuran rempah.
Nama Muller semakin dikenal hingga warga sekitar dan sejumlah orang Eropa datang untuk meminta bantuannya.
Karena kemampuannya tersebut, ia kemudian mendapat julukan “Dukun Muller”.
Kisah lain menyebutkan bahwa Muller juga melakukan ritual terhadap mesin pabrik menggunakan daun sirih dan tembang Jawa.
Tindakan tersebut dianggap tidak lazim oleh manajemen kolonial, meskipun dalam cerita masyarakat produksi pabrik disebut mengalami perbaikan.
Pada 1934, Muller diberhentikan karena dianggap tidak sesuai dengan citra pejabat kolonial pada masa itu.
Setelah itu, ia tidak kembali ke Belanda dan memilih menetap di Jogonalan, sebuah desa yang berada dekat PG Gondang Winangoen.
Di tempat tersebut, Muller disebut membuka praktik pengobatan tradisional dan menjalani kehidupan sederhana hingga wafat pada 1952.
Kisah lisan masyarakat menyebutkan makamnya memiliki tulisan “Hendrik Muller, Penjaga Roh Gula”.
Cerita tentang Hendrik Muller menjadi bagian dari ingatan masyarakat sekitar PG Gondang Winangoen tentang pertemuan antara ilmu teknik, budaya Jawa, dan kehidupan industri gula masa kolonial.
Meskipun keberadaannya lebih banyak hadir melalui legenda lokal, kisah Muller menggambarkan perjalanan seorang pendatang yang mencoba memahami lingkungan budaya tempat ia hidup.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan