Tandaglobal.news | Pasuruan — Kesempatan memperoleh pendidikan pada masa kolonial menjadi titik balik kehidupan Bayu, putra seorang mandor tebang di Pabrik Gula (PG) Kedawung, Pasuruan.

Bayu yang sempat terlambat mengenyam pendidikan akhirnya kembali ke lingkungan pabrik bukan sebagai buruh, melainkan sebagai pegawai kantor muda.

Pada musim giling 1924, Bayu baru berusia sekitar delapan tahun dan belum pernah merasakan pendidikan formal.

Usianya saat itu lebih tua dibandingkan anak-anak yang umumnya mulai bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS).

Sebelum bersekolah, Bayu lebih banyak membantu ibunya di kawasan Kejar Kulon, deretan rumah sederhana di sebelah selatan PG Kedawung yang berdekatan dengan kebun tebu dan jalur lori.

Kesempatan untuk bersekolah akhirnya datang melalui bantuan administrasi pabrik.

Bayu kemudian diterima di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang berada di Jalan Hayam Wuruk, Pasuruan.

Meski belajar bersama murid-murid yang usianya lebih muda, ia menjalani pendidikan dengan tekun.

Kesadaran bahwa kesempatan tersebut tidak mudah diperoleh membuat Bayu bersungguh-sungguh mempelajari membaca, menulis, dan bahasa Belanda.

Setelah menempuh pendidikan selama tujuh tahun, Bayu menyelesaikan sekolahnya pada usia sekitar 15 tahun.

Pada masa itu, usia tersebut sudah dianggap cukup untuk mulai memasuki dunia kerja.

Bayu kemudian diterima sebagai pembantu juru tulis (hulpschrijver) di kantor PG Kedawung.

Statusnya memang belum sebagai pegawai penuh, tetapi pekerjaan tersebut menjadi awal perjalanan kariernya di lingkungan administrasi pabrik.

Tugas Bayu meliputi menyalin data produksi, merapikan arsip, serta membantu pekerjaan para juru tulis senior.

Upah yang diterimanya belum besar dan jam kerjanya masih terbatas.

Namun, pekerjaannya dilakukan di ruang kantor yang berbeda dengan sebagian besar buruh yang bekerja di kebun tebu.

Di sisi lain, ayahnya, Sarno, tetap menjalankan tugas sebagai Hoofd Mandor Tebang di PG Kedawung.

Meski bekerja di perusahaan yang sama, hubungan keluarga tidak memengaruhi kedudukan mereka dalam lingkungan kerja.

Sarno tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai mandor, sementara Bayu memulai karier dari posisi paling bawah di bagian administrasi.

Setiap pagi, keduanya berangkat bersama dari Kejar Kulon menuju pabrik dengan tujuan kerja yang berbeda.

Sarno menuju areal kebun, sedangkan Bayu memasuki kantor administrasi.

Saat peluit pabrik berbunyi pada sore hari, mereka kembali pulang melalui jalan yang sama dengan pengalaman kerja yang berbeda.

Bagi Bayu, pekerjaannya bukan sekadar perubahan profesi dibandingkan ayahnya.

Ia menyadari bahwa dirinya tetap berada dalam lingkungan yang sama, tetapi dengan peran yang berbeda.

Kesempatan memperoleh pendidikan telah membuka jalan baru tanpa memutus hubungan dengan akar keluarganya.

Kisah Bayu menjadi gambaran bagaimana kesempatan belajar pada masa itu mampu mengubah arah kehidupan sebuah keluarga.

Melalui pendidikan, kepercayaan, dan kesempatan bekerja, PG Kedawung tidak hanya menjadi tempat mencari nafkah, tetapi juga menghadirkan peluang bagi lahirnya generasi baru.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.