Tandaglobal.news | Pekalongan — Kisah tradisi Manten Glepung yang dikaitkan dengan Pabrik Gula (PG) Sragi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, kembali menjadi perhatian setelah dibagikan melalui media sosial pada Rabu (22/07/2026).

Cerita tersebut mengisahkan sebuah ritual yang dipercaya sebagian masyarakat sebagai bagian dari tradisi pembuka musim giling pada masa lampau.

Dalam narasi yang berkembang, kisah Manten Glepung dikaitkan dengan awal operasional PG Sragi pada 12 Mei 1838.

Pada masa itu, disebutkan seorang buruh muda bernama Kaslan meninggal dunia akibat kecelakaan kerja saat proses penggilingan tebu pertama kali dilakukan.

Peristiwa tersebut diceritakan menimbulkan ketakutan di kalangan pekerja pabrik.

Aktivitas penggilingan disebut sempat terhenti karena para buruh enggan mendekati mesin giling yang dipercaya membawa pertanda buruk.

“Masyarakat saat itu meyakini mesin giling meminta tumbal sehingga para buruh memilih menghentikan pekerjaan,” demikian isi narasi yang beredar.

Dalam cerita tersebut, pengelola pabrik kemudian meminta bantuan seorang tokoh spiritual bernama Mbah Balut.

Tokoh tersebut dikisahkan memberikan saran agar dibuat sepasang pengantin dari tepung ketan sebagai pengganti tumbal manusia.

Menurut cerita yang berkembang, boneka Manten Glepung dibuat menggunakan tepung ketan, kelapa gading, ijuk, serta gula jawa cair yang disimpan di bagian dalam sebagai simbol persembahan.

Boneka tersebut kemudian diarak menuju mesin giling sebelum musim produksi dimulai.

“Mesin wis kawin. Wiwit dina iki sing dijupuk mung getih manis,” demikian ucapan Mbah Balut sebagaimana dikisahkan dalam cerita tersebut.

Setelah ritual dilakukan, narasi menyebut tidak lagi terjadi kecelakaan fatal yang dikaitkan dengan mesin giling.

Sejak saat itu, tradisi Manten Glepung disebut terus dilaksanakan setiap awal musim giling dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Selain menjadi bagian dari pembukaan musim giling, prosesi tersebut juga digambarkan sebagai sarana doa bersama agar kegiatan produksi berjalan lancar.

Tradisi itu juga dipercaya sebagai harapan agar hasil panen melimpah dan para pekerja memperoleh keselamatan selama menjalankan aktivitas di pabrik.

“Sisa tepung dan gula jawa kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol berkah dan harapan akan musim giling yang baik,” demikian dijelaskan dalam narasi tersebut.

Hingga kini, Manten Glepung dikenal sebagai salah satu cerita rakyat yang melekat dengan sejarah industri gula di wilayah Sragi.

Bagi sebagian masyarakat, tradisi tersebut menjadi simbol nilai budaya yang tumbuh berdampingan dengan aktivitas pabrik selama bertahun-tahun.

Namun, sejumlah unsur dalam cerita ini, seperti tokoh Kaslan, Mbah Balut, dialog, serta keyakinan mengenai “tumbal mesin giling”, belum memiliki bukti dalam arsip sejarah yang terverifikasi.

Karena itu, kisah Manten Glepung lebih tepat dipahami sebagai folklore atau legenda lokal yang berkembang di masyarakat, bukan sebagai fakta sejarah yang telah dipastikan kebenarannya.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.