Di Kabupaten Kediri, pengaduan dan pemutakhiran data antara lain dapat dilakukan melalui kanal yang disediakan Kementerian Sosial, termasuk layanan Cek Bansos.

Selain itu, proses juga melibatkan operator di tingkat desa serta pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) untuk melakukan verifikasi.

“Di Cek Bansos itu ada usul dan sanggah. Ada masyarakat yang mengusulkan seseorang yang dinilai masih layak mendapatkan intervensi pemerintah, ada juga yang menyanggah data karena dinilai sudah tidak sesuai. Kemudian ada mekanisme verifikasi lapangan,” terang Bambang.

Ia menyebut layanan terkait pemutakhiran data tersebut juga cukup banyak dimanfaatkan masyarakat di Kabupaten Kediri, termasuk melalui Dinas Sosial dan Mal Pelayanan Publik (MPP).

BPS sendiri, kata Bambang, memiliki peran dalam pengelolaan dan pengolahan data desil.

Sementara mekanisme pemutakhiran data sosial ekonomi pada dasarnya berjalan melalui sistem yang dikelola pemerintah pusat.

DTSEN merupakan hasil pemadanan sejumlah sumber data pemerintah dengan menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai salah satu identitas unik untuk mengintegrasikan data.

Setelah data dimutakhirkan melalui mekanisme yang telah ditentukan, BPS berperan dalam proses pengolahan untuk menghasilkan pemetaan desil.

Dalam kondisi tertentu, BPS juga dapat dilibatkan dalam verifikasi lapangan apabila terdapat data yang membutuhkan pengecekan lebih lanjut.

Bambang mengakui potensi kesalahan dalam proses pendataan tetap ada.

Karena itu, BPS menerapkan sejumlah langkah pengendalian, mulai dari pelatihan petugas hingga penerapan ketentuan integritas dan kerahasiaan data.

“Setiap pendataan, di mana pun dan oleh siapa pun, potensi human error itu memang ada. Karena itu petugas harus dilatih dan memahami mekanismenya. Selain itu ada ketentuan integritas dan kerahasiaan data yang harus dipatuhi,” ujarnya.

Dengan demikian, Bambang meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan kondisi kesejahteraan hanya berdasarkan perubahan angka desil.

Perubahan tersebut harus dipahami dalam konteks pemutakhiran data dan sifat desil yang relatif.

“Poin pentingnya, desil naik tidak otomatis berarti ekonominya meningkat. Begitu juga sebaliknya. Karena data yang menjadi pembanding juga bergerak dan diperbarui,” pungkasnya.