Kediri, TandaGlobalNews–Nasib pedagang kuliner di sekitar Alun-Alun Kota Kediri masih menjadi perhatian setelah pembangunan kawasan tersebut belum kunjung rampung. Kondisi ini disebut berdampak langsung terhadap aktivitas perdagangan yang sebelumnya menjadi salah satu pusat kuliner dan keramaian masyarakat.
Ketua Paguyuban Pedagang, Subagyono, mengatakan pembangunan Alun-Alun Kota Kediri sebelumnya dijadwalkan selesai dan diresmikan pada 19 Desember 2024. Namun hingga 2 September 2026, proses pembangunan belum sepenuhnya selesai sehingga para pedagang masih harus menjalankan usaha di lokasi relokasi sementara.
Sebanyak 97 pedagang kuliner yang sebelumnya berjualan di dalam kawasan alun-alun dipindahkan ke sejumlah sisi di luar area pembangunan, mulai dari sisi selatan, barat, utara, hingga sebagian kecil di sisi timur.
Perpindahan lokasi tersebut menurut pedagang membawa perubahan besar terhadap tingkat kunjungan pembeli. Sebelum pembangunan, kawasan kuliner alun-alun dikenal ramai bahkan aktivitas perdagangan dapat berlangsung hingga 24 jam.
Setelah menempati lokasi sementara, kondisi tersebut berubah drastis. Jumlah pedagang yang masih aktif berjualan terus berkurang karena omzet tidak lagi mampu menutup kebutuhan operasional maupun modal usaha.
Dari total 97 pedagang, kini hanya sebagian kecil yang masih bertahan. Pada malam hari, lapak yang terlihat masih beroperasi diperkirakan sekitar 25 pedagang, dan sebagian di antaranya tidak mampu bertahan hingga pagi.
Subagyono menyebut kondisi tersebut membuat sebagian pedagang mengalami kesulitan mempertahankan usahanya. Modal yang sebelumnya digunakan untuk menjalankan perdagangan perlahan habis karena pemasukan tidak lagi sebanding dengan pengeluaran.
“Dulu di dalam alun-alun itu ramai terus, bahkan bisa 24 jam. Sekarang pedagang yang bertahan tinggal sedikit,” ujar Subagyono, Rabu (2/9/2026).
Tidak hanya persoalan omzet, pedagang juga masih menghadapi beban biaya operasional. Salah satunya adalah tagihan listrik yang disebut dapat mencapai sekitar Rp1,9 juta per bulan.
Kondisi semakin berat bagi pedagang yang sebelumnya memiliki kewajiban pembayaran pinjaman atau utang modal usaha. Ketika omzet menurun, mereka tetap harus memenuhi kewajiban tersebut sementara pendapatan harian semakin terbatas.
Menurut Subagyono, kondisi tersebut bahkan membuat sejumlah pedagang terpaksa berhenti berjualan karena tidak lagi memiliki modal untuk melanjutkan usaha.
Di tengah situasi tersebut, pihak paguyuban mengaku berusaha menahan emosi para pedagang agar persoalan tidak berkembang menjadi aksi massa atau demonstrasi. Para pedagang memilih menyampaikan aspirasi melalui jalur komunikasi dan berharap ada perhatian dari Pemerintah Kota Kediri.
Subagyono berharap pemerintah dapat melihat langsung kondisi para pedagang di lapangan, bukan hanya berdasarkan laporan atau kondisi pada siang hari. Ia mengusulkan agar pejabat Pemkot Kediri, termasuk Wali Kota maupun Sekretaris Daerah, datang secara langsung pada malam hari.
“Kami berharap Wali Kota atau Pak Sekda bisa datang melihat kondisi pedagang malam-malam, kalau perlu secara incognito, supaya bisa melihat sendiri bagaimana keadaan sebenarnya,” katanya.
Menurutnya, kunjungan secara langsung akan memberikan gambaran mengenai kondisi lapangan, termasuk tingkat keramaian, jumlah pedagang yang masih bertahan, hingga kondisi lapak setelah aktivitas masyarakat mulai berkurang.
Para pedagang juga berharap pembangunan Alun-Alun Kota Kediri segera mendapatkan kepastian penyelesaian. Mereka ingin kembali memperoleh tempat usaha yang layak sehingga aktivitas ekonomi dapat kembali bergerak seperti sebelum pembangunan.
Bagi pedagang yang telah bertahun-tahun menggantungkan penghasilan dari kawasan tersebut, keberadaan alun-alun bukan hanya berkaitan dengan tempat berdagang, tetapi juga menjadi sumber mata pencaharian bagi keluarga mereka.
Subagyono berharap pemerintah dapat memberikan solusi yang memperhatikan keberlangsungan usaha para pedagang selama proses pembangunan maupun setelah kawasan alun-alun nantinya kembali beroperasi.
“Yang kami inginkan sebenarnya sederhana, kami bisa kembali berjualan dan mencari nafkah dengan kondisi yang normal. Pedagang juga ingin ikut merasakan manfaat dari pembangunan ini,” pungkasnya.
Reporter: Maulana Rahmadha
Editor: Rizky Rusdiyanto




















Tinggalkan Balasan