



KALIMANTAN, Tandaglobal.news — Fenomena Matahari yang tampak berwarna merah pekat menjadi perhatian warga di sejumlah wilayah Indonesia. Sejumlah foto yang memperlihatkan Matahari berwarna merah menyala beredar di media sosial Threads dan mendapat banyak respons dari warganet.
Salah satu unggahan berasal dari akun Threads @srimuliati820 yang menuliskan, “Ya Allah, matahari Palangka Raya sore tadi.”
Unggahan tersebut kemudian mendapat berbagai tanggapan dari pengguna Threads lainnya.
Sejumlah warganet mengaku melihat fenomena serupa di sejumlah daerah, mulai dari Banjarmasin dan wilayah lain di Kalimantan Selatan, Pontianak, Berau di Kalimantan Timur, hingga Purwokerto, Jawa Tengah.
Beberapa pengguna bahkan menyebut fenomena serupa telah mereka lihat pada sore sebelumnya maupun dalam beberapa hari terakhir.
Hal tersebut membuat foto Matahari berwarna merah pekat tidak hanya muncul dari satu lokasi, melainkan dilaporkan oleh warganet dari sejumlah wilayah berbeda.
Fenomena tersebut menarik perhatian karena dalam sejumlah foto Matahari terlihat sangat merah, sementara langit di sekitarnya tampak kelabu atau keruh.
Kondisi ini kemudian memunculkan pertanyaan mengenai penyebab Matahari terlihat berbeda dari biasanya.
Penjelasan ilmiah
Secara ilmiah, warna merah tersebut tidak berarti Matahari benar-benar berubah warna. Cahaya Matahari harus melewati atmosfer sebelum mencapai permukaan Bumi.
Dalam proses tersebut, cahaya dapat mengalami penyerapan dan hamburan oleh berbagai partikel di atmosfer.
Salah satu faktor yang dapat memengaruhi tampilan cahaya Matahari adalah aerosol, yakni partikel-partikel kecil yang berada di atmosfer.
BMKG menjelaskan bahwa aerosol dapat menyerap dan menghamburkan radiasi Matahari.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi warna cahaya yang terlihat dari permukaan.
BMKG juga menggunakan parameter Aerosol Optical Depth (AOD) untuk memantau keberadaan aerosol di atmosfer.
Semakin tinggi konsentrasi aerosol, semakin besar pula pengaruh partikel tersebut terhadap cahaya yang melewati atmosfer.




Fenomena ini menjadi semakin relevan dengan kondisi Kalimantan saat ini.
Pemerintah pada 20 Agustus 2026 memperkuat operasi terpadu pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan menyusul peningkatan hotspot serta laporan kabut asap dan terbatasnya jarak pandang.
Data SIPONGI yang dikutip Kementerian Kehutanan mencatat pada 19 Agustus pukul 07.00 WIB terdapat 259 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, 242 titik di Kalimantan Tengah dan 17 titik di Kalimantan Selatan. Totalnya mencapai 518 titik.
Kementerian Kehutanan juga melaporkan adanya kondisi berasap di sejumlah wilayah, termasuk Banjarmasin, Banjarbaru, Palangka Raya dan Pontianak.
Pada 19 Agustus, jarak pandang di Bandara Supadio Pontianak sempat sekitar 1,2 kilometer, sedangkan di Palangka Raya sekitar 3 kilometer. Di Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, jarak pandang bahkan tercatat sekitar 400 meter pada pukul 07.00 WITA.
Meski demikian, kondisi tersebut belum dapat menjadi bukti bahwa warna merah pada Matahari dalam foto-foto warga secara langsung disebabkan oleh karhutla.
Warna Matahari juga dipengaruhi oleh posisi Matahari, panjang lintasan cahaya melalui atmosfer, kelembapan, debu, aerosol serta kondisi atmosfer lainnya.
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan bahwa jumlah hotspot tidak secara otomatis menunjukkan jumlah kejadian kebakaran maupun tingkat kepekatan asap di suatu lokasi.
Penyebaran asap dipengaruhi lokasi kebakaran, arah dan kecepatan angin, kelembapan serta kondisi atmosfer.
Dengan demikian, fenomena Matahari berwarna merah yang ramai dibagikan pengguna Threads merupakan fenomena visual yang secara ilmiah memungkinkan terjadi akibat kondisi atmosfer.
Di tengah meningkatnya aktivitas karhutla dan keberadaan aerosol di sejumlah wilayah Kalimantan, asap dan partikulat atmosfer menjadi salah satu faktor yang patut diperhitungkan, meski hubungan langsung dengan masing-masing foto masih memerlukan verifikasi berdasarkan lokasi dan waktu pengambilan gambar.




















Tinggalkan Balasan