Titik Kebakaran yang tercatat dalam Google Maps pada 20 Agustus 2026. (Google Maps)

KALIMANTAN, Tandaglobal.news Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian serius di Pulau Kalimantan. Ribuan titik panas terdeteksi di sejumlah wilayah, sementara pemerintah memperkuat penanganan untuk mencegah api meluas dan dampaknya semakin besar.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 19 Agustus 2026, terdapat 1.487 titik panas atau hotspot yang tersebar di wilayah Kalimantan.

Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi, disusul Kalimantan Barat.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena sejumlah wilayah Kalimantan saat ini menghadapi risiko karhutla tinggi.

BNPB sebelumnya menyebut Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah termasuk enam provinsi prioritas penanganan karhutla pada periode meningkatnya risiko kebakaran selama Agustus hingga September.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan operasi udara.

Menurutnya, operasi darat tetap menjadi bagian penting, terutama untuk memastikan api di kawasan gambut benar-benar padam.

“Operasi darat menjadi sangat penting,” ujar Suharyanto dalam rapat koordinasi penanganan karhutla.

Lahan gambut menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla.

Api yang muncul di permukaan dapat menjalar ke lapisan gambut dan sulit dipastikan benar-benar padam.

Karena itu, petugas di lapangan harus melakukan pemadaman sekaligus memastikan tidak ada titik api yang kembali muncul.

Di Kalimantan Barat, pemerintah sebelumnya telah menambah dukungan dua unit helikopter water bombing untuk memperkuat operasi pemadaman.

Penambahan armada dilakukan setelah luas lahan terbakar di provinsi tersebut hingga Juni 2026 mencapai sekitar 28.680 hektare, bahkan melampaui luas kebakaran sepanjang 2025 yang tercatat sekitar 26.703 hektare.

Sementara di Kalimantan Tengah, penanganan difokuskan di sejumlah wilayah yang menjadi titik rawan, termasuk Kabupaten Pulang Pisau.

BNPB menyebut luas lahan terdampak karhutla di provinsi tersebut mencapai sekitar 3.069,52 hektare berdasarkan data yang digunakan dalam penanganan.

Penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan BNPB, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, serta unsur terkait lainnya.

Pemerintah juga terus melakukan pemantauan titik panas dan memperkuat kesiapsiagaan untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih luas.

Perubahan arah angin dan kondisi cuaca kering menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan karhutla.

Api yang belum sepenuhnya padam berpotensi kembali membesar dan menyebarkan asap ke wilayah sekitar.

Meningkatnya aktivitas karhutla tersebut mulai membawa dampak lebih luas terhadap masyarakat.

Selain kualitas udara, asap dari kebakaran di sejumlah wilayah juga berpotensi mengganggu jarak pandang dan aktivitas warga.

Pemerintah mengimbau masyarakat ikut mencegah munculnya titik api baru dengan tidak melakukan pembukaan atau pembersihan lahan menggunakan cara membakar.

Pemantauan dan penanganan dini dinilai penting agar kebakaran dapat dikendalikan sebelum meluas.

Di tengah meningkatnya jumlah titik panas, penanganan karhutla di Kalimantan kini menjadi perhatian bukan hanya karena luas wilayah yang terbakar, tetapi juga karena dampak asap yang mulai dirasakan dalam aktivitas masyarakat sehari-hari.