

KEDIRI, Tandaglobal.news — Wisata Sumber Banteng di RT 21 RW 6, Lingkungan Kwangkalan, Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, terus dikembangkan dengan mengedepankan pelestarian mata air dan pemberdayaan masyarakat.
Keberadaan Sumber Banteng sebagai mata air di Kelurahan Tempurejo juga tercatat dalam dokumen resmi Pemerintah Kota Kediri.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sumber Banteng, Sudarsono, mengatakan mata air tersebut telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sebelum dikembangkan menjadi destinasi wisata.
Menurutnya, Sumber Banteng dahulu dimanfaatkan warga untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mencuci pakaian hingga memandikan hewan ternak seperti sapi.
Hingga kini, sumber tersebut masih mengalir meskipun memasuki musim kemarau.
“Yang paling utama sebenarnya adalah menjaga sumber airnya. Dari dulu sumber ini dimanfaatkan masyarakat dan sampai sekarang tidak pernah kering, meskipun saat kemarau debitnya bisa berkurang,” ujar Sudarsono saat ditemui Rabu (19/8/2026).
Pengembangan wisata Sumber Banteng juga memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat sekitar.
Pengelola memberikan kesempatan kepada warga setempat untuk membuka usaha di kawasan wisata.
Menurut Sudarsono, keberadaan lapak pedagang tidak hanya memberikan ruang usaha, tetapi juga membantu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
“Pedagang kami prioritaskan dari warga sekitar. Dengan adanya wisata ini, masyarakat bisa memiliki kegiatan dan penghasilan tambahan,” katanya.
Area lapak pedagang berada di lahan yang disewa pengelola.
Pembangunan lapak dilakukan secara gotong royong menggunakan biaya mandiri para pedagang.
Meski demikian, bentuk lapak dibuat seragam agar kawasan wisata terlihat lebih rapi.
Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan juga menjadi salah satu kekuatan dalam pengelolaan Sumber Banteng.
Warga yang merasa memiliki kawasan tersebut secara sukarela ikut merawat kebersihan dan kelestariannya.
Salah satu daya tarik Sumber Banteng adalah pengunjung tidak dikenakan tiket masuk. Wisatawan cukup membayar biaya parkir dan dapat mengisi kotak sukarela yang disediakan pengelola.
Sekretariat Pokdarwis beroperasi sekitar pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, sedangkan pedagang menyesuaikan jam operasional dengan kondisi keramaian pengunjung.
Berbagai aktivitas juga tersedia bagi pengunjung.
Bermain air atau berenang dapat dilakukan secara gratis, sementara terapi ikan menggunakan sistem pembayaran seikhlasnya.
Untuk aktivitas lainnya, pengunjung dapat membeli pakan ikan dengan harga sekitar Rp2.000 per mangkok.
Sementara sewa perahu dipatok sekitar Rp10.000 per perahu.
“Kalau hari biasa perahu bisa digunakan sepuasnya. Saat hari libur atau akhir pekan, biasanya kami batasi satu putaran karena pengunjung lebih ramai dan ada antrean,” jelas Sudarsono.
Selain itu, kawasan wisata juga dilengkapi sejumlah fasilitas dan aktivitas seperti karaoke, ATV, pemberian pakan kelinci hingga wisata edukasi.
Pengelolaan Sumber Banteng juga diarahkan agar memberikan manfaat sosial bagi lingkungan sekitar.
Pokdarwis turut berkontribusi dalam pembangunan masjid dan sarana ibadah.
Pengelola juga menyediakan layanan cuci karpet gratis bagi musala di sekitar kawasan Sumber Banteng.
Selain itu, terdapat kegiatan santunan bagi keluarga warga yang mengalami kedukaan serta santunan tahunan untuk anak yatim.
Dengan demikian, keberadaan wisata tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat sekitar.
Untuk menjaga kebersihan kawasan, pengelola memiliki empat petugas kebersihan yang ditempatkan di empat titik, baik di area darat maupun sepanjang aliran sungai.
Sementara itu, dua petugas tetap berada di sekretariat untuk memberikan pelayanan kepada pengunjung, menerima reservasi atau booking, serta membantu koordinasi dengan pelaku UMKM.
Sistem tersebut diterapkan untuk menjaga kawasan tetap nyaman sekaligus memastikan pelayanan kepada pengunjung berjalan dengan baik.
Sumber Banteng juga telah mendapatkan penghargaan atau piagam Desa Wisata melalui program dari Dinas Pariwisata Jawa Timur.
Sejumlah pemandu wisata di kawasan tersebut juga telah mengikuti pelatihan dan memperoleh sertifikasi.
Pengelola terus melakukan inovasi agar destinasi tidak hanya mengandalkan wisata air.
Salah satunya melalui pengembangan wisata rempah dan tanaman TOGA (Tanaman Obat Keluarga).
Menariknya, pengunjung diperbolehkan meminta bibit atau biji tanaman tertentu untuk dibawa pulang dan ditanam di rumah.
“Kami ingin pengunjung mendapatkan pengalaman, bukan hanya datang, bermain, kemudian pulang. Kalau ada edukasi tanaman, mereka bisa membawa bibit atau bijinya untuk ditanam di rumah,” tutur Sudarsono.
Tidak hanya mengembangkan wisata alam dan edukasi, Sumber Banteng juga berupaya mempertahankan kesenian lokal.
Salah satunya melalui pertunjukan seni Bantengan yang melibatkan anak-anak sekolah dasar.
Keterlibatan anak-anak tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan seni tradisional sejak dini sekaligus menyiapkan generasi penerus yang mampu menjaga kebudayaan lokal.
Ke depan, pengelola berharap Sumber Banteng dapat terus berkembang tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai kawasan pelestarian mata air.
Pengembangan wisata diharapkan tetap berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, penguatan budaya, serta peningkatan manfaat ekonomi dan sosial bagi warga sekitar.




















Tinggalkan Balasan