
Tandaglobal.news | KEDIRI – Daya tarik media sosial memang sering kali membawa perubahan besar bagi hobi seseorang. Hal inilah yang dialami Nina (22), gadis asal Bendo, Pare, yang kini aktif menekuni olahraga berkuda. Siapa sangka, ketertarikannya pada olahraga yang dikenal membutuhkan kedisiplinan tinggi ini justru berawal dari ketidaksengajaan saat menjelajahi lini masa media sosial.
“Awalnya sih cuma lihat di FYP (For Your Page) TikTok ya,” ujar Nina saat wawancara bersama Redaksi Tanda Global News, Rabu, 24 Juni 2026.
Menurutnya, tayangan para penunggang kuda yang muncul di media sosial membuatnya penasaran untuk mencoba olahraga tersebut. Rasa penasaran itu kemudian berubah menjadi keinginan untuk berlatih secara serius.
“Kayak orang yang naik kuda itu kelihatan keren dan seru banget. Akhirnya dari sana muncul keinginan kuat untuk ikut berlatih berkuda,” ungkapnya.
Langkah awal tersebut membawanya bergabung dengan tempat latihan berkuda di Sumber Tawang. Sejak memulai latihan pada September 2025, Nina tercatat konsisten menjalani latihan intensif selama kurang lebih enam hingga delapan bulan.
Tantangan Menaklukkan Berbagai Karakter Kuda
Proses belajar berkuda rupanya tidak semudah yang dibayangkan di media sosial. Nina mengungkapkan bahwa tantangan terbesar bagi seorang pemula bukanlah pada fisik semata, melainkan kemampuan memahami psikologis dan karakter hewan tunggangannya. Terlebih lagi, di tempat latihan Sumber Tawang, para rider tidak hanya menggunakan satu kuda yang sama, melainkan diwajibkan berganti-ganti kuda agar kemampuan beradaptasi semakin terasah.
“Setiap kuda itu punya karakter yang berbeda-beda, Mbak. Dan di sini kita harus gantian, enggak bisa cuma pakai satu kuda itu-itu saja. Jadi yang paling sulit itu memang menyesuaikan diri dengan karakter masing-masing kuda,” jelas Nina.
Ia kemudian memberikan contoh bagaimana setiap kuda memiliki karakter yang berbeda sehingga membutuhkan cara penanganan yang berbeda pula.
Saat menceritakan kuda bernama Angel, Nina mengaku tantangan utamanya adalah mengendalikan kecepatan kuda tersebut saat berlari.
“Misalnya ada kuda namanya Angel. Dia itu kalau canter (berlari) kencang banget. Jadi tantangan tersulitnya adalah bagaimana kita mengontrol dia supaya tidak terlalu kencang. Kalau posisi kita enggak stabil, kita bisa jatuh,” tambah Nina.
Berbeda dengan Angel, ada pula kuda bernama Sofia yang memiliki karakter lebih sensitif terhadap air.
“Beda lagi sama Sofia, dia itu takut sama air. Jadi kalau kita lagi tracking dan harus melewati genangan air, dia pasti langsung berhenti atau bahkan jalannya mundur-mundur. Jadi kita benar-benar harus pintar membaca karakter mereka,” lanjutnya.
Menguasai Teknik Dasar hingga Kontak Batin antara Rider dan Kuda
Meski baru berlatih kurang dari satu tahun, dedikasi Nina mulai membuahkan hasil. Saat ini, ia telah menguasai berbagai keterampilan berkuda, mulai dari teknik dasar seperti walk (berjalan santai), menghentikan kuda, hingga mengendalikan kuda.
Selain itu, ia juga sudah fasih melakukan teknik trot (berjalan cepat), baik sitting trot dengan posisi duduk tetap stabil di pelana maupun up and down trot, yaitu gerakan naik-turun mengikuti ritme langkah kaki kuda. Tak berhenti di situ, Nina juga mulai menikmati sensasi teknik canter, yaitu memacu kuda dalam kecepatan tinggi.
Menariknya, selama menjalani latihan, Nina menemukan fakta unik mengenai hubungan emosional antara manusia dan hewan tunggangannya. Menurutnya, kuda merupakan hewan yang sangat sensitif dan mampu merasakan energi dari sang rider.
“Kuda itu ada kontak batinnya sama kita. Jadi kalau perasaan kita lagi enggak enak atau lagi galau, mendingan enggak usah berkuda dulu deh. Soalnya nanti kudanya bisa ikut ngambek atau enggak mood, dan hasil latihannya pasti jadi jelek. Tapi kalau kita datang dengan ceria dan penuh semangat, kudanya juga bakal enak banget diajak kerja sama,” kata Nina sembari tertawa.
Pengalaman Seru dan Harapan ke Depan
Saat ditanya mengenai momen yang paling berkesan selama berlatih di Sumber Tawang, Nina dengan antusias menyebut kegiatan tracking luar ruangan. Melalui kegiatan tersebut, ia tidak hanya menikmati pemandangan alam, tetapi juga berkesempatan mengikuti berbagai event yang mempertemukannya dengan sesama pencinta berkuda.
“Paling seru itu kalau lagi tracking rame-rame, terus kita sama-sama lepas lari (canter) semua. Wah, itu seru banget, sensasi balapan dan kencang-kencangan sama kuda lain itu serunya pol,” kenangnya.
Mengenai risiko cedera atau jatuh, Nina mengaku bersyukur. Di kalangan penunggang kuda, ada pameo yang menyebut seorang rider belum sah jika belum pernah jatuh dari kuda. Namun, sejauh ini Nina berhasil mematahkan anggapan tersebut berkat kewaspadaannya. Meski belum pernah terjatuh, ia mengaku beberapa kali hampir merosot ke depan akibat kudanya yang tiba-tiba melakukan pengereman mendadak.
Menatap masa depan hobinya, gadis berusia 22 tahun itu memiliki target yang cukup besar. Ia tidak ingin kemampuan berkudanya hanya menjadi pengisi waktu luang.
“Harapan ke depan yang pasti pengen bisa ikut kompetisi resmi ya. Pengen bisa menguasai semua teknik-teknik berkuda dengan sempurna, karena kalau sekarang kan statusnya saya juga masih terus belajar,” pungkas Nina menutup sesi wawancara.
Jurnalis: Fitri Rahayu