Sumber Banteng juga telah mendapatkan penghargaan atau piagam Desa Wisata melalui program dari Dinas Pariwisata Jawa Timur.

Sejumlah pemandu wisata di kawasan tersebut juga telah mengikuti pelatihan dan memperoleh sertifikasi.

Pengelola terus melakukan inovasi agar destinasi tidak hanya mengandalkan wisata air.

Salah satunya melalui pengembangan wisata rempah dan tanaman TOGA (Tanaman Obat Keluarga).

Menariknya, pengunjung diperbolehkan meminta bibit atau biji tanaman tertentu untuk dibawa pulang dan ditanam di rumah.

“Kami ingin pengunjung mendapatkan pengalaman, bukan hanya datang, bermain, kemudian pulang. Kalau ada edukasi tanaman, mereka bisa membawa bibit atau bijinya untuk ditanam di rumah,” tutur Sudarsono.

Tidak hanya mengembangkan wisata alam dan edukasi, Sumber Banteng juga berupaya mempertahankan kesenian lokal.

Salah satunya melalui pertunjukan seni Bantengan yang melibatkan anak-anak sekolah dasar.

Keterlibatan anak-anak tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan seni tradisional sejak dini sekaligus menyiapkan generasi penerus yang mampu menjaga kebudayaan lokal.

Ke depan, pengelola berharap Sumber Banteng dapat terus berkembang tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai kawasan pelestarian mata air.

Pengembangan wisata diharapkan tetap berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, penguatan budaya, serta peningkatan manfaat ekonomi dan sosial bagi warga sekitar.