Medan, Tandaglobal.news PT Asahan Crumb Rubber merupakan salah satu perusahaan pengolahan karet yang memiliki perjalanan panjang di Sumatera Utara. Perusahaan ini dikenal mengolah karet alam menjadi crumb rubber atau karet remah yang digunakan sebagai bahan baku berbagai kebutuhan industri.

Perjalanan perusahaan tidak dapat dipisahkan dari perkembangan industri karet di Sumatera Utara, khususnya Medan dan wilayah sekitarnya. Penelitian Universitas Negeri Medan (UNIMED) mencatat perjalanan perusahaan melalui sejumlah perubahan nama, bentuk usaha, teknologi produksi, hingga perluasan wilayah pemasaran.

Akar Sejarah pada Awal 1950-an

Salah satu sumber akademik yang secara khusus meneliti perjalanan perusahaan adalah skripsi Sisjayanti Astrini di Universitas Negeri Medan berjudul Eksistensi PT. Asahan Crumb Rubber di Kecamatan Medan Amplas (1970–2007).

Penelitian tersebut menyebut perusahaan didirikan pada 1953 dengan nama awal Kilang Getah Asahan. Pendirian perusahaan disebut dilatarbelakangi keinginan pemilik pertama untuk membantu petani karet menyalurkan hasil produksi sekaligus melihat pengolahan karet sebagai peluang usaha.

Sumber yang sama menyebut pendiri perusahaan merupakan seorang pengusaha keturunan Tionghoa. Dalam perkembangannya, kepemimpinan perusahaan kemudian diteruskan oleh Soewandi Koeswoyo, yang disebut sebagai anak dari pendiri.

Namun, sejarah awal badan usaha tersebut memiliki versi lain. Salah satu sumber akademik menyebut nama awal perusahaan adalah Naamlazo Vennotschap Techniche Handle Maatschappij En Bounwberijf (VIS EN CO) yang didirikan pada 1954. Sumber tersebut juga mengaitkannya dengan proses nasionalisasi perusahaan asing di Indonesia.

Perbedaan itu membuat tahun pendirian perusahaan belum tepat jika ditulis sebagai fakta tunggal yang telah sepenuhnya terkonfirmasi. Penelitian khusus UNIMED menggunakan tahun 1953, sedangkan sumber akademik lain mencantumkan 1954 dengan riwayat badan usaha yang berbeda.

Berkembang dari Pengolahan Karet Masyarakat

Pada masa awal, kegiatan perusahaan berkaitan erat dengan pengolahan hasil karet dari masyarakat. Bahan baku yang diterima dari petani dan pemasok kemudian diproses menjadi produk setengah jadi.

Kondisi tersebut menunjukkan hubungan antara industri pengolahan dengan perkebunan rakyat. Pabrik menjadi bagian dari mata rantai yang menghubungkan bahan baku dari masyarakat dengan kebutuhan industri.

Seiring perkembangan usaha, kegiatan perusahaan tidak hanya berfokus pada pembelian dan pengolahan bahan mentah. Produksi dan pemasaran juga berkembang sehingga produk karet dapat disalurkan ke wilayah yang lebih luas.

Perkembangan tersebut kemudian membawa perusahaan pada kegiatan pengolahan crumb rubber, yakni karet alam yang diproses menjadi bentuk remah untuk digunakan sebagai bahan baku industri.

Perubahan Nama Menjadi PT Asahan Crumb Rubber

Menurut penelitian UNIMED, perusahaan mengalami beberapa kali perubahan nama selama perjalanan usahanya.

Nama awal yang disebut dalam penelitian tersebut adalah Kilang Getah Asahan. Pada 1986, perusahaan kemudian berubah nama menjadi PT Asahan Crumb Rubber.

Perubahan nama tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perusahaan. Nama PT Asahan Crumb Rubber selanjutnya muncul dalam berbagai dokumen dan direktori industri.

Identitas tersebut juga berkaitan dengan kegiatan perusahaan sebagai industri yang menghasilkan karet remah atau crumb rubber.

Pemasaran Berkembang hingga Luar Negeri

Pada tahap awal perkembangannya, pemasaran produk perusahaan masih relatif terbatas di dalam negeri, terutama wilayah Sumatera.

Seiring pertumbuhan usaha, cakupan pemasaran semakin luas. Penelitian UNIMED mencatat produk perusahaan tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga dikirim ke luar negeri.

Salah satu perusahaan yang disebut dalam penelitian tersebut sebagai konsumen atau pembeli produk adalah Bridgestone.

Perluasan pasar tersebut menunjukkan bahwa aktivitas PT Asahan Crumb Rubber kemudian terhubung dengan industri karet internasional. Produk yang sebelumnya berkaitan dengan pasar lokal berkembang menjadi bagian dari jaringan perdagangan yang lebih luas.

Produk Utama SIR 20

Dalam sejumlah dokumen industri, PT Asahan Crumb Rubber tercatat sebagai perusahaan yang menghasilkan SIR 20 atau Standard Indonesian Rubber 20.

Direktori Industri Besar dan Sedang Sumatera Utara yang diterbitkan BPS mencatat perusahaan sebagai industri karet remah dengan produk utama SIR 20.

Pada direktori 2005, perusahaan tercatat beralamat di kawasan Jalan Sisingamangaraja Km 8, Medan, Kecamatan Medan Amplas. Pada tahun tersebut, jumlah tenaga kerja yang tercatat mencapai 217 pekerja.

Data BPS 2010 kembali mencatat perusahaan sebagai produsen SIR 20 dengan jumlah tenaga kerja yang sama, yakni 217 orang.

Pencatatan alamat perusahaan berada di Jalan Sisingamangaraja Km 8, kawasan Timbang Deli, Medan Amplas, serta Jalan Mesjid No. 54 B Medan.

Dokumen BPS tersebut menjadi catatan penting mengenai keberadaan dan aktivitas perusahaan pada periode tersebut.

Pabrik di Kawasan Medan Amplas

Lokasi perusahaan berada di kawasan Medan bagian selatan, sekitar Jalan Sisingamangaraja Km 8, Timbang Deli, Kecamatan Medan Amplas.

Penelitian UNIMED menyebut perusahaan dibangun di atas lahan sekitar 12 hektare setelah mengalami beberapa kali perluasan.

Lokasi tersebut memiliki nilai strategis karena Medan merupakan salah satu pusat perdagangan utama di Sumatera Utara. Jaringan transportasi dan perdagangan mendukung kegiatan penerimaan bahan baku sekaligus distribusi produk.

Kedekatan dengan pusat perdagangan juga menempatkan perusahaan dalam rantai industri karet Sumatera Utara yang menghubungkan pemasok bahan baku dengan industri pengolahan dan pengguna.

Teknologi Mendukung Perkembangan Produksi

Kemampuan perusahaan bertahan selama puluhan tahun juga berkaitan dengan perkembangan teknologi produksi.

Penelitian UNIMED mencatat PT Asahan Crumb Rubber menggunakan mesin produksi yang berkembang sesuai kebutuhan perusahaan. Kegiatan produksi juga didukung tenaga kerja dan buruh yang memiliki kemampuan dalam proses pengolahan karet.

Pengembangan teknologi menjadi bagian penting dalam industri crumb rubber karena produk yang dihasilkan harus memenuhi persyaratan mutu tertentu.

Kualitas produk menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan konsumen, termasuk konsumen dari pasar internasional.

Aktivitas Pengujian Produk

Produk yang paling banyak tercatat dalam dokumen industri perusahaan adalah SIR 20.

SIR merupakan sistem standardisasi karet alam Indonesia. SIR 20 termasuk jenis karet remah yang digunakan sebagai bahan baku berbagai industri berbasis karet.

Aktivitas perusahaan juga tercatat dalam dokumen Kementerian Perindustrian. Pada Februari 2023, BBSPJIKKP Kementerian Perindustrian mencatat pengujian plastik bandela SIR 20 serta pengujian crumb rubber SIR 20 untuk PT Asahan Crumb Rubber.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa nama perusahaan masih berkaitan dengan kegiatan produksi dan pengujian produk karet standar SIR pada dekade 2020-an.

Menjadi Bagian dari Pasar Karet Internasional

Kemampuan menjangkau pasar internasional menjadi salah satu perkembangan penting dalam perjalanan PT Asahan Crumb Rubber.

Penelitian UNIMED menyebut produk perusahaan telah dipasarkan ke luar negeri dan antara lain menjangkau perusahaan seperti Bridgestone.

Posisi tersebut menunjukkan peran perusahaan dalam rantai industri karet. Bahan baku yang berasal dari petani atau pemasok diolah menjadi produk setengah jadi sebelum digunakan oleh industri.

Dengan demikian, aktivitas perusahaan menjadi salah satu penghubung antara pemasok bahan baku dengan industri pengguna karet.

Tenaga Kerja dan Perumahan Karyawan

Perkembangan perusahaan juga berkaitan dengan keberadaan tenaga kerja.

Data BPS pada 2005 dan 2010 sama-sama mencatat 217 pekerja di PT Asahan Crumb Rubber.

Penelitian UNIMED juga mencatat fasilitas bagi staf dan karyawan, salah satunya perumahan karyawan yang berada di belakang kawasan pabrik. Fasilitas tersebut disebut mampu menampung sekitar 100 karyawan.

Keberadaan fasilitas tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perusahaan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan produksi, tetapi juga membentuk lingkungan sosial bagi para pekerjanya.

Bertahan Menghadapi Perubahan Industri

Industri karet menghadapi berbagai perubahan dari waktu ke waktu. Harga komoditas, ketersediaan bahan baku, persaingan antarprodusen, perkembangan teknologi, dan kebutuhan konsumen internasional menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi perusahaan pengolahan karet.

PT Asahan Crumb Rubber menjalani perubahan tersebut melalui pengembangan produksi, peningkatan teknologi, perluasan pasar, serta penguatan sumber daya manusia.

Penelitian yang membahas periode 1970–2007 menyimpulkan bahwa perusahaan mengalami perkembangan dari sisi tenaga kerja, produksi, dan wilayah pemasaran sehingga mampu mempertahankan eksistensinya.

Tetap Tercatat pada Era 2000-an

Memasuki dekade 2000-an, keberadaan PT Asahan Crumb Rubber tercatat dalam sejumlah direktori industri Sumatera Utara.

BPS mencatat perusahaan sebagai industri karet remah dengan produk utama SIR 20. Pada 2005 dan 2010, jumlah pekerja yang tercatat masing-masing mencapai 217 orang.

Direktori industri 2017 juga mencatat PT Asahan Crumb Rubber sebagai produsen crumb rubber SIR-20 yang berlokasi di Kompleks PT Asahan, Timbang Deli, Medan Amplas.

Sementara itu, direktori industri manufaktur 2018 kembali mencatat perusahaan sebagai industri karet dengan produk utama berupa lateks.

Perbedaan pencatatan produk dalam beberapa direktori tidak secara otomatis menunjukkan bahwa perusahaan mengganti seluruh lini produksinya. Perbedaan tersebut dapat berkaitan dengan klasifikasi atau jenis produksi yang dicatat pada tahun tertentu.

Masih Muncul dalam Dokumen Pemerintah

Keberadaan PT Asahan Crumb Rubber juga tercatat dalam dokumen pemerintah pada periode yang lebih baru.

Dalam dokumen penetapan peserta PROPER KLHK 2023–2024, perusahaan tercantum sebagai industri karet yang berada di Kota Medan dan masuk dalam evaluasi pemerintah provinsi.

Catatan tersebut menunjukkan nama perusahaan masih dikenali dalam kegiatan industri dan pengawasan lingkungan pada periode tersebut.

Database registrasi perusahaan yang bersumber dari Kementerian Hukum dan HAM juga mencatat PT Asahan Crumb Rubber sebagai perseroan terbatas yang terdaftar di Indonesia. Database tersebut mencatat alamat terdaftar perusahaan di kawasan Medan Tanjung Morawa Km 8 serta perubahan anggaran dasar pada 14 Maret 2020.

Bagian dari Rantai Industri Karet Sumatera Utara

Sejarah PT Asahan Crumb Rubber tidak dapat dipisahkan dari perkembangan industri karet Sumatera Utara.

Wilayah tersebut telah lama menjadi salah satu pusat perkebunan dan perdagangan hasil perkebunan. Perkembangan industri pengolahan kemudian membentuk rantai usaha yang menghubungkan perkebunan, petani, pedagang pengumpul, pabrik crumb rubber, hingga industri pengguna.

PT Asahan Crumb Rubber menjadi salah satu perusahaan yang berada dalam mata rantai tersebut.

Bahan baku karet diolah menjadi karet remah, kemudian menjalani pengujian mutu sebelum dipasarkan kepada konsumen industri. Produk SIR 20 menjadi salah satu jenis produk yang tercatat dalam berbagai dokumen industri.

Jejak Industri Lebih dari Setengah Abad

Perjalanan PT Asahan Crumb Rubber memperlihatkan bagaimana industri pengolahan karet di Sumatera Utara berkembang mengikuti perubahan zaman.

Perusahaan yang pada awal sejarahnya berkaitan dengan pengolahan hasil karet masyarakat kemudian berkembang menjadi industri karet remah yang mampu menjangkau pasar internasional.

Perjalanan tersebut mencakup perubahan nama, pengembangan fasilitas, peningkatan teknologi, perkembangan tenaga kerja, perluasan pemasaran, serta pengujian mutu produk.

Keberadaan SIR 20 dalam berbagai dokumen industri menunjukkan posisi perusahaan dalam rantai produksi karet alam Indonesia. Sementara catatan pemerintah pada dekade 2020-an menunjukkan nama PT Asahan Crumb Rubber masih tercatat dalam kegiatan industri dan pengawasan lingkungan.

Dengan akar sejarah yang ditelusuri hingga pertengahan abad ke-20, PT Asahan Crumb Rubber menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang industri pengolahan karet di Sumatera Utara, dari pengolahan bahan baku lokal hingga terhubung dengan kebutuhan industri karet yang lebih luas.