Menurutnya, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyebarkan berbagai konten positif mengenai kegiatan kepramukaan.
“Kalau anak muda tertarik dengan ekonomi kreatif, teknologi, olahraga, seni, maupun kegiatan sosial, hadirkan semua itu dalam kegiatan kepramukaan. Buat Pramuka menjadi kegiatan yang seru, menyenangkan, menjadi tempat anak muda belajar, berkarya, berteman, dan bertumbuh bersama,” urainya.
Meski dituntut untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, Gus Qowim mengingatkan bahwa ada satu hal yang tidak boleh berubah, yakni jati diri sebagai anggota Pramuka.
“Teknologi boleh berkembang, tren boleh berubah, namun nilai yang kita pegang sebagai Pramuka harus tetap menjadi pegangan. Kita memiliki Tri Satya sebagai janji dan Dasa Darma sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak. Ketika kita bergaul baik di dunia nyata maupun di dunia maya, tetaplah menjadi Pramuka yang santun dan menjunjung adab,” paparnya.
Semangat untuk terus beradaptasi tersebut, lanjut Gus Qowim, juga sejalan dengan tema Hari Pramuka ke-65 tahun ini, yaitu “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.”
Tema tersebut menunjukkan bahwa Gerakan Pramuka harus mampu mengambil peran dalam memberikan solusi bagi masyarakat, salah satunya melalui upaya mendukung ketahanan dan swasembada pangan.
Gerakan Pramuka Kota Kediri sendiri telah menginisiasi kegiatan urban farming mulai dari Kwartir Cabang (Kwarcab) hingga gugus depan.
Menurut Gus Qowim, upaya mendukung swasembada pangan perlu terus disukseskan sebagai salah satu modal menuju Indonesia Emas 2045.
“Saya mengajak seluruh keluarga besar Gerakan Pramuka Kota Kediri untuk terus menjaga semangat kebersamaan, kegembiraan, dan pengabdian dengan berpegang teguh pada Tri Satya dan Dasa Darma,” pungkas Gus Qowim.




















Tinggalkan Balasan