Salah satu tantangan yang dihadapi ialah menyesuaikan berat dan ukuran properti dengan kondisi fisik anak-anak.

Setiap perlengkapan harus tetap menarik secara visual, tetapi tidak boleh mengganggu kenyamanan dan keamanan peserta.

Konsep karnaval kemudian dikemas dalam berbagai tema budaya, keagamaan, keberagaman Nusantara, hingga pengenalan profesi.

Nuansa budaya Betawi ditampilkan melalui pasangan ondel-ondel, pengantin Betawi, penari, tim pencak silat, serta simbol roti buaya.

Untuk menggerakkan kostum ondel-ondel, pihak sekolah melibatkan suami guru.

Sementara karena roti buaya cukup sulit diperoleh di sekitar lokasi, sekolah menyiasatinya dengan menggunakan boneka buaya sebagai properti cosplay yang lebih ringan dan mudah dibawa anak.

Tidak hanya budaya Betawi, sekolah juga menghadirkan konsep Wali Songo.

Sebanyak sembilan siswa tampil sebagai sembilan wali dengan mengenakan jubah, udeng, dan jenggot serta membawa tongkat dan tasbih pusaka berukuran jumbo yang dibuat menggunakan bola dan tali.

Konsep tersebut sekaligus menjadi sarana pengenalan nilai-nilai keagamaan kepada anak-anak sesuai dengan identitas TK Kusuma Mulia 1 Asmorobangun sebagai lembaga pendidikan Islam.

“Selain budaya, kami juga ingin mengenalkan nilai keagamaan kepada anak sejak dini. Karena kami TK Islam, konsep Wali Songo menjadi salah satu bagian yang kami tampilkan,” jelasnya.

Keberagaman Nusantara turut ditampilkan melalui pakaian adat dari berbagai daerah, seperti Bali, Minang, Batak, Bugis, dan daerah lainnya.

Sementara dalam tema profesi, anak-anak dan guru tampil sebagai pramugari, pilot, masinis, TNI, hingga polisi sebagai bentuk pengenalan berbagai cita-cita kepada peserta didik.

Budaya Madura juga menjadi bagian dari penampilan melalui kesenian karapan sapi dan sosok penjual sate lengkap dengan gerobak atau pikulan serta properti sate berukuran jumbo.