KEDIRI, Tandaglobal.news — Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kediri didorong tidak sekadar menjadi tempat belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, tetapi juga menjadi salah satu instrumen untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Hal tersebut mengemuka dalam seminar daring ASN Cerdas On Stage yang digelar BKPSDM Kabupaten Kediri, Jumat (14/8/2026).
Mengangkat tema “Mengisi Kemerdekaan dengan Membangun Generasi Penerus Bangsa Melalui Sekolah Rakyat”, kegiatan tersebut menghadirkan Kasi Kurikulum dan Kesiswaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Wawan Sarudi serta Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kediri Fadli.
Wawan mengatakan pendidikan merupakan salah satu jalan penting untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Kediri terus berupaya memastikan seluruh anak usia sekolah mendapatkan akses pendidikan.
Selain melalui program beasiswa Kediri Berbudaya, upaya tersebut dilakukan dengan menangani anak tidak sekolah (ATS).
Dari data awal, terdapat sekitar 12.000 anak usia sekolah yang terdeteksi tidak bersekolah.
“Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Pendidikan sangat intensif dalam penanganan anak tidak sekolah. Dari data awal itu sekitar 12.000 anak usia sekolah yang tidak sekolah,” ujar Wawan.
Berbagai langkah kemudian dilakukan, di antaranya melalui program Home Visit ATS Award, gerakan satu GTK satu ATS, serta kunjungan langsung untuk menjangkau anak-anak yang tidak sekolah.
Hasilnya, jumlah anak yang terdeteksi belum bersekolah kini terus menurun.
Wawan menyebut saat ini tersisa sekitar 5.000 anak yang masih terdata tidak bersekolah.
Sementara itu, Fadli menjelaskan Sekolah Rakyat hadir untuk menjangkau kelompok masyarakat yang sebelumnya belum mampu mengakses pendidikan secara optimal.
Salah satu faktor utama yang menyebabkan anak tidak bersekolah adalah persoalan ekonomi.
“Sekolah rakyat ini ingin menjawab kesulitan masyarakat dalam mensekolahkan anaknya karena berbagai macam alasan. Di samping ingin menunaikan amanah undang-undang yang ada di Indonesia,” kata Fadli.
Menurutnya, keberadaan Sekolah Rakyat juga merupakan bagian dari upaya negara memenuhi hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan sekaligus memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan.
Konsep tersebut kemudian diterapkan melalui pendekatan yang berbeda dengan sekolah reguler.
Sekolah Rakyat tidak sekadar menunggu anak mendaftar, melainkan melakukan penjangkauan terhadap calon siswa yang memenuhi kriteria, termasuk dari kelompok desil 1 dan 2.
“Sekolah rakyat hadir untuk menjangkau yang belum terjangkau. Kemudian memungkinkan yang tidak mungkin. Artinya, anak-anak yang sebelumnya mungkin tidak punya bayangan untuk bisa sekolah, dengan hadirnya sekolah rakyat mereka menjadi mungkin untuk sekolah,” jelasnya.
Fadli menambahkan pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya berorientasi pada capaian akademik.
Pembentukan karakter, kemandirian dan keterampilan hidup menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Program persiapan bagi siswa bahkan berlangsung hingga dua bulan untuk membangun kedekatan antara siswa, guru dan lingkungan sekolah.
Setelah itu, siswa mengikuti pembelajaran akademik yang dilengkapi kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.
Khusus ekstrakurikuler, Sekolah Rakyat menyiapkan program berbasis minat sekaligus keterampilan hidup.
Sejumlah bidang yang dikembangkan antara lain peternakan, perikanan, boga, busana, coding, batik, pangkas rambut hingga perhotelan.
“Sekolah rakyat berdiri dalam rangka memotong rantai kemiskinan. Secara moral kami punya beban bahwa anak ini ketika lulus harus bisa mandiri secara ekonomi,” ungkap Fadli.
Pengembangan kompetensi juga tidak hanya diberikan kepada siswa.
Guru dan wali asrama didorong terus meningkatkan kemampuan karena memiliki peran lebih luas dibandingkan sekadar mengajar.
Fadli menyebut guru di Sekolah Rakyat harus mampu berperan sebagai pendidik sekaligus bagian dari keluarga bagi siswa yang tinggal di asrama.
Pendekatan tersebut diperlukan karena siswa berada di lingkungan sekolah selama 24 jam.
“Perubahan paradigma berpikir dari hanya sekadar seorang pengajar menjadi seorang pendidik. Kalau pengajar menurut saya hanya bekerja saat ada pelajaran, tetapi kalau pendidik itu 24 jam karena memang dibutuhkan,” tuturnya.
Di sisi lain, Wawan menekankan pentingnya peningkatan kompetensi guru mengikuti perkembangan zaman.
Pemanfaatan teknologi, pembelajaran mendalam (deep learning), penguatan karakter, coding hingga kecerdasan artifisial mulai menjadi bagian dari pengembangan pendidikan.
“Guru juga harus terus belajar menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Kami berharap guru-guru di Kabupaten Kediri terus meng-upgrade diri, menguasai pengetahuan dan keterampilan,” katanya.
Selain pembelajaran, Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kediri juga mengembangkan pola pendampingan yang melibatkan orang tua.
Di antaranya melalui program parenting, home visit, hingga kunjungan orang tua ke asrama.
Fadli mengatakan keterlibatan keluarga tetap diperlukan meskipun siswa tinggal di asrama.
Kebiasaan baik yang dibangun di sekolah diharapkan dapat terus diterapkan ketika siswa berada di rumah saat masa libur.
Seminar tersebut juga menghadirkan dua siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kediri, Amanda Luwiyeputri dan Aprilia Miftahul Jannah, yang berbagi pengalaman serta prestasi mereka.
Amanda berhasil memperoleh golden ticket Universitas Muhammadiyah Malang melalui kompetisi esai dan poster untuk masuk Fakultas Teknik.
Sementara Aprilia meraih juara III kompetisi pidato bahasa Inggris dalam ajang Top Star Indonesia.
Bagi Aprilia, keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Ia bahkan menjadikan pengalaman di Sekolah Rakyat sebagai pijakan untuk mengejar cita-cita menjadi diplomat.
“Don’t be afraid to fail, be afraid not to try. Jangan pernah takut untuk gagal, tapi takutlah untuk tidak mencoba,” pesan Aprilia.
Sementara Amanda bercita-cita menjadi psikolog.
Ia berharap dapat membantu orang-orang yang menghadapi persoalan mental dan psikologis.
Keduanya menjadi gambaran bahwa akses pendidikan yang lebih luas dapat membuka ruang bagi anak-anak dari keluarga sederhana untuk mengembangkan potensi dan merancang masa depan.
Melalui momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, seminar ASN Cerdas On Stage tersebut menegaskan bahwa mengisi kemerdekaan tidak hanya dilakukan melalui seremoni, tetapi juga dengan memastikan generasi penerus memperoleh pendidikan yang layak, membangun karakter, serta memiliki keterampilan untuk hidup mandiri dan berdaya saing.




















Tinggalkan Balasan