
KEDIRI, Tandaglobal.news — Bagi sebagian orang, kendit mungkin hanya terlihat seperti pita atau sabuk yang dikenakan saat pengukuhan. Padahal, benda tersebut memiliki sejarah dan makna yang cukup panjang dalam tradisi pendidikan kepemudaan dan Paskibraka.
Di balik warna, motif, hingga cara pemakaiannya terdapat pesan tentang kesetiaan, karakter, Pancasila, dan tanggung jawab seorang pemuda.
Pengukuhan yang Sarat Makna

Pengukuhan menjadi penanda berakhirnya suatu jenjang Latihan Kepemimpinan Pemuda atau Kepemudaan.
Dalam tradisi tersebut, peserta mengucapkan “Ikrar Putera Indonesia” sambil memegang Sang Merah Putih dan kemudian menciumnya dengan menarik napas panjang.
Prosesi itu dimaknai sebagai kiasan kesediaan untuk senantiasa setia kepada Indonesia dan membelanya.
Kendit kemudian menjadi salah satu tanda yang melekat dalam prosesi tersebut. Bentuknya berupa pita atau sabuk berbahan kain yang dikenakan melingkar di pinggang.
Dalam pemaknaan tradisional, kendit dikaitkan dengan tanda ksatria yang dahulu menjadi simbol kesetiaan kepada kerajaan.
Dalam konteks kepemudaan, makna tersebut berkembang menjadi harapan agar pemegang kendit memiliki sikap ksatria dalam pemikiran, perkataan, dan perbuatan.
Dari Kendit Polos Menjadi Bermotif

Kendit ternyata mengalami perubahan desain. Pada latihan Pasukan I hingga IV sekitar 1968–1971, kendit masih dibuat polos dengan dua warna.
Hijau digunakan untuk anggota pasukan, sedangkan ungu digunakan untuk penatar atau pembina.
Desain polos tersebut kemudian dianggap terlalu menyerupai sabuk kecakapan olahraga bela diri.
Idik Sulaeman kemudian menyempurnakannya menjadi kendit bermotif.
Motif yang digunakan berupa rangkaian mata rantai berbentuk bulat dan belah ketupat.
Pada motif tersebut terdapat susunan huruf yang membentuk kalimat “PANDU IBU INDONESIA BER-PANCASILA”.
Rangkaian tersebut bukan sekadar ornamen, tetapi menjadi bagian dari pesan ideologis yang melekat pada tanda pengukuhan.
Menariknya, jumlah mata rantai dalam desain tersebut juga memiliki makna.
Terdapat 17 mata rantai berbentuk bulat dan 17 mata rantai berbentuk belah ketupat.
Rancangan awal kendit memiliki ukuran 5 cm dan 17 cm sebagai simbol angka 5 dan 17.
Dalam perkembangannya, ukuran kendit bermotif kemudian disesuaikan menjadi lebar 5 cm dan panjang 140 cm karena pertimbangan teknis pencetakan.
Angka 17 mengingatkan pada tanggal 17 Agustus 1945, sedangkan angka 5 merujuk pada lima sila Pancasila.
Enam Warna dalam Jenjang Kepemudaan



Dalam tradisi tanda pengukuhan kepemudaan, warna juga menjadi penanda jenjang latihan. Warna dasar kendit mengikuti tingkatan yang bersangkutan.
- Hijau digunakan untuk Latihan Perintis/Pemula Pemuda.
- Merah untuk Latihan Pemuka Pemuda.
- Cokelat untuk Latihan Penuntun Pemuda.
- Kuning untuk Latihan Pendamping Pemuda.
- Ungu untuk Latihan Penatar Kepemudaan.
- Abu-abu untuk Latihan Penaya Kepemudaan.

Dengan demikian, enam warna tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari sistem jenjang latihan kepemudaan. Tidak berarti seluruh warna tersebut digunakan oleh seorang anggota Paskibraka dalam satu masa pengukuhan.
Lalu, Apa Bedanya Kendit dengan Lencana?

Selain kendit, terdapat tanda pengukuhan berupa lencana. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda.
Kendit digunakan dalam prosesi pengukuhan. Kendit dililitkan di pinggang dan disimpulkan di bagian depan.
Setelah upacara selesai, kendit tidak digunakan sebagai atribut sehari-hari.
Sementara itu, lencana pengukuhan dikenakan pada bagian dada kiri, di atas saku, baik pada seragam maupun pakaian sehari-hari.
Dalam perkembangan desainnya, lencana tersebut menggunakan unsur Merah Putih dan Garuda dengan warna dasar yang berkaitan dengan jenjang latihan.
Perbedaan ini membuat kendit dan lencana bukan dua benda yang memiliki fungsi sama.
Kendit lebih kuat sebagai simbol prosesi pengukuhan, sedangkan lencana menjadi tanda yang dapat dikenakan dalam aktivitas setelah pengukuhan.
Bagaimana dengan Paskibraka Saat Ini?
Ada hal penting yang perlu dibedakan ketika membicarakan kendit dalam konteks Paskibraka masa kini.
Dalam Keputusan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Nomor 35 Tahun 2024 tentang Standar Pakaian, Atribut, dan Sikap Tampang Pasukan Pengibar Bendera Pusaka, disebutkan bahwa Tanda Kecakapan/Kendit Paskibraka berwarna hijau dan dikenakan saat pengukuhan Paskibraka.
Dokumen yang sama juga mencantumkan Lencana Kepemimpinan Merah Putih Garuda warna hijau sebagai salah satu atribut Paskibraka.
Artinya, enam warna kendit yang dikenal dalam sejarah dan jenjang latihan kepemudaan tidak boleh langsung dianggap sebagai enam jenis kendit yang digunakan Paskibraka saat ini.
Lebih dari Sekadar Sabuk

Pada akhirnya, kendit bukan sekadar perlengkapan yang dipakai beberapa saat ketika upacara pengukuhan berlangsung.
Sejarah desainnya, rangkaian motifnya, angka 17 dan 5, hingga warna yang digunakan menunjukkan bahwa benda tersebut dirancang membawa pesan tertentu.
Kendit menjadi pengingat bahwa sebuah pengukuhan bukanlah akhir dari proses pembentukan karakter.
Setelah ikrar diucapkan dan tanda pengukuhan dikenakan, nilai yang terkandung di dalamnya justru diharapkan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ketika melihat seorang Paskibraka mengenakan kendit dalam prosesi pengukuhan, yang terlihat sebenarnya bukan hanya sebuah sabuk berwarna hijau.
Di baliknya terdapat sejarah, simbol kebangsaan, serta harapan agar generasi muda mampu membawa nilai disiplin, kesetiaan, tanggung jawab, dan Pancasila dalam kehidupan mereka.
Catatan Gambar:
Gambar kendit yang ditampilkan dalam artikel ini merupakan ilustrasi yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) berdasarkan referensi visual dan materi mengenai kendit dari sumber asli. Gambar tersebut dibuat untuk membantu pembaca memahami bentuk, warna, motif, dan perbedaan kendit secara visual, bukan merupakan foto dokumentasi asli.




















Tinggalkan Balasan