KEDIRI, Tandaglobal.news Di saat anak-anak seusianya menghabiskan waktu untuk bermain, Marvel, bocah 11 tahun asal Desa Ngancar, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, justru menjalani tanggung jawab besar di rumah.

Sepulang sekolah, ia memasak, mencuci piring hingga membantu memenuhi kebutuhan ibunya yang tengah sakit.

Kisah Marvel mendapat perhatian Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana yang menyempatkan diri mengunjungi rumahnya, Kamis (13/8/2026).

Kedatangan Bupati tersebut berawal dari laporan yang diterimanya sekitar dua hingga tiga pekan sebelumnya.

Mas Dhito, sapaan akrabnya, mengaku terkesan setelah mengetahui keseharian Marvel yang harus membagi waktu antara sekolah dan merawat sang ibu.

“Usianya 11 tahun, tapi luar biasa sekali anak ini merawat ibunya,” kata Mas Dhito.

Setiap pagi, Marvel bangun sekitar pukul 06.00 WIB.

Sebelum berangkat sekolah, ia terlebih dahulu memasak makanan seadanya untuk ibunya. Setelah itu, sekitar pukul 06.30 WIB, ia berangkat ke sekolah.

Pukul 12.00 WIB, Marvel kembali ke rumah.

Bukannya langsung bermain atau beristirahat, ia kembali memasak untuk ibunya. Ia juga mencuci piring, membantu memandikan sang ibu, hingga mengantarkan ketika ibunya hendak ke toilet.

Sore harinya, Marvel masih menyempatkan diri mengaji.

Waktu bermain baru ia dapatkan setelah mengaji. Setelah itu, ia kembali ke rumah untuk menjalankan aktivitasnya, termasuk menyiapkan makanan untuk sang ibu.

Kondisi tersebut telah dijalani Marvel selama sekitar dua tahun, sejak dirinya duduk di kelas 3 SD.

Kini, ia telah duduk di kelas 5 SD.

Saat kunjungan, orang nomor satu di Kabupaten Kediri itu sempat menanyakan apakah Marvel merasa berat menjalani rutinitas tersebut.

Bocah itu mengaku pernah merasa kesulitan, terutama pada masa awal. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai terbiasa.

“Awal-awal dia merasa berat, tapi sekarang dia sudah terbiasa,” ujar Hanindhito.

Bagi Dhito, kondisi yang dialami Marvel tidak boleh membuat pendidikan dan masa depannya terhenti.

Karena itu, ia berpesan agar Marvel tetap memegang tiga hal penting dalam kehidupannya, yakni sekolah, merawat ibunya, serta menjalankan ibadah.

“Yang pertama sekolahmu tetap harus lanjut, enggak boleh berhenti. Yang kedua, tetap rawat ibumu. Yang ketiga, salat dan ngajimu jangan putus,” pesan Hanindhito kepada Marvel.

Bupati Kediri juga memastikan kebutuhan Marvel, terutama berkaitan dengan sekolah dan kebutuhan sehari-hari, akan mendapat perhatian.

Ia bahkan meninggalkan nomor pribadinya agar Marvel dapat menghubunginya apabila membutuhkan bantuan.

“Kalau ada apa-apa, setiap waktu boleh menghubungi saya. Pokoknya kebutuhan sekolah, makan dan sebagainya kita yang akan penuhi,” tegasnya.

Sementara itu, ibu Marvel, Umala (41), mengatakan dirinya telah mengalami sakit yang disebutnya sebagai “rapuhan tulang” selama sekitar dua tahun.

Keluhan awalnya berupa kesemutan dan rasa linu hingga membuatnya terjatuh dan tidak mampu bangun.

Ia sempat menjalani pengobatan di RSUD Simpang Lima Gumul (SLG).

Saat ini, Umala juga tengah menunggu proses pemeriksaan lanjutan sebelum menjalani operasi yang direncanakan sekitar satu bulan mendatang, setelah kondisi ototnya dinilai pulih.

Dalam kondisi tersebut, Marvel menjadi sosok yang paling banyak membantunya di rumah.

Keduanya kini tinggal berdua setelah ayah Marvel meninggal dunia akibat kecelakaan sekitar satu tahun lalu.

“Marvel yang merawat saya,” tutur Umala.

Untuk ke kamar mandi, misalnya, Marvel membantu dengan menyiapkan pispot.

Dukungan dari keluarga atau orang lain terkadang datang, namun tidak selalu karena masing-masing memiliki kesibukan.

Di tengah keterbatasan kondisi keluarga, Umala menyimpan harapan sederhana.

Ia ingin segera pulih agar dapat kembali merawat Marvel.

“Saya ingin cepat sembuh terus merawat Marvel,” ujarnya.

Kunjungan bupati ini menjadi perhatian tersendiri bagi Umala.

Ia mengaku senang karena Bupati Kediri datang langsung menemui keluarganya dan memberikan bantuan.

Di balik tubuhnya yang masih kecil, Marvel kini menjalani peran yang jauh lebih besar dari usianya.

Namun, di tengah tanggung jawab merawat ibunya, pesan Hanindhito menjadi pengingat agar perjuangannya tidak mengorbankan masa depan—terutama pendidikan dan tumbuh kembangnya sebagai seorang anak.