KEDIRI, Tandaglobal.news Antusiasme pelajar mengikuti Lomba Baris-Berbaris (LBB) di Kabupaten Kediri meningkat tahun ini. Kenaikan jumlah peserta terlihat pada jenjang SMP dan SMA/SMK/MA dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin, M.Pd., mengatakan jumlah peserta tingkat SD relatif tetap karena setiap kecamatan mengirimkan satu regu putra dan satu regu putri.

Tahun ini terdapat 26 regu putra dan 26 regu putri yang mengikuti perlombaan.

Sementara itu, peserta tingkat SMP meningkat dari sekitar 110 regu pada tahun sebelumnya menjadi 120 regu tahun ini.

Jumlah tersebut terdiri atas 60 regu atau pleton putra dan 60 regu putri.

Peningkatan juga terjadi pada tingkat SMA/SMK/MA.

Jika tahun sebelumnya jumlah peserta berada di bawah 160 regu, tahun ini jumlahnya mencapai 172 regu yang terdiri atas 86 regu putra dan 86 regu putri.

“Pesertanya tahun ini meningkat, terutama di tingkat SMP dan SMA. Karena jumlahnya cukup banyak, kegiatan diperkirakan berlangsung sampai Magrib atau bahkan Isya,” ujar Mokhamat Muhsin, Selasa (11/8/2026).

Menurut Muhsin, LBB tidak sekadar menjadi ajang perlombaan antarpelajar.

Kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk memberikan pendidikan dan pemahaman mengenai kedisiplinan, kerapian, serta sikap tertib kepada peserta.

Selain itu, LBB diharapkan dapat membangun kompetisi yang sehat di antara pelajar.

Peserta tidak hanya dituntut memiliki kemampuan baris-berbaris, tetapi juga belajar bekerja sama, mengikuti aturan, dan menjaga kekompakan dalam satu regu.

Di sisi lain, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, S.H., menyoroti sejumlah persoalan yang masih menjadi perhatian dalam dunia pendidikan.

Salah satunya adalah perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.

Hanindhito meminta persoalan bullying mendapatkan penanganan secara tegas, terutama pada jenjang SMA yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Ia juga mendorong adanya koordinasi antara pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi untuk menangani persoalan tersebut.

“Bullying harus ditindak tegas. Jangan sampai perundungan menjadi kebiasaan di lingkungan sekolah,” tegas Hanindhito.

Selain bullying, Hanindhito menilai edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas perlu diberikan kepada anak dan remaja secara tepat sesuai usia.

Menurutnya, pendidikan tersebut penting sebagai upaya pencegahan terhadap berbagai persoalan sosial yang dapat muncul di kalangan remaja.

Ia menyinggung masih adanya pengajuan dispensasi pernikahan di bawah umur serta persoalan kesehatan yang berkaitan dengan perilaku seksual berisiko.

Karena itu, edukasi sejak dini dinilai penting agar anak memiliki pemahaman yang benar mengenai kesehatan, batasan diri, dan tanggung jawab.

Hanindhito mengatakan Pemkab Kediri akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan kepala cabang dinas terkait persoalan tersebut.

Koordinasi dilakukan karena kewenangan pendidikan pada jenjang SMA berada di bawah pemerintah provinsi.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga mendorong agar tidak ada anak di Kabupaten Kediri yang putus sekolah karena keterbatasan ekonomi.

Pemerintah berharap anak-anak tetap dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi sesuai kemampuan dan minat masing-masing.

Bagi siswa yang memiliki keterbatasan ekonomi tetapi berhasil diterima di perguruan tinggi, Hanindhito mendorong mereka memanfaatkan program beasiswa dari pemerintah.

Dukungan tersebut diharapkan dapat membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi generasi muda.

Melalui kegiatan LBB dan perhatian terhadap berbagai persoalan pendidikan, Pemkab Kediri berharap para pelajar tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga tumbuh sebagai generasi yang disiplin, tertib, mampu berkompetisi secara sehat, serta memiliki karakter yang kuat.