KEDIRI, Tandaglobal.news — Pasar tradisional di Kabupaten Kediri tengah menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Persaingan dengan perdagangan modern, perubahan pola belanja masyarakat, hingga fluktuasi harga komoditas menjadi persoalan yang setiap hari dihadapi para pedagang.

Hal tersebut disampaikan Ketua DPD Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kabupaten Kediri, Muntoha, usai resmi dikukuhkan memimpin organisasi pedagang tersebut.

Menurutnya, menerima amanah sebagai Ketua APPSI bukan semata persoalan jabatan, melainkan bentuk pengabdian agar keberadaan organisasi mampu memberikan manfaat bagi para pedagang pasar.

“Prinsip saya sederhana, hidup itu harus bermanfaat bagi orang lain. Karena itu saya menerima amanah ini. Tantangannya memang tidak mudah, apalagi kondisi ekonomi saat ini sedang tidak baik-baik saja,” ujarnya.

Muntoha menilai persoalan utama yang dihadapi pedagang bukan sekadar naik turunnya harga barang, melainkan bagaimana dagangan mereka dapat terjual di tengah semakin ketatnya persaingan.

Ia mencontohkan pedagang tekstil di sejumlah pasar tradisional yang mengalami penurunan omzet cukup signifikan.

Bahkan, tidak sedikit kios yang akhirnya memilih tutup karena sepinya pembeli.

Di sisi lain, pedagang kebutuhan pokok juga harus menghadapi fluktuasi harga yang terjadi sangat cepat.

Dalam beberapa komoditas hortikultura, harga dapat berubah hanya dalam hitungan jam sehingga menyulitkan pedagang maupun konsumen.

“Kondisi seperti bawang merah, cabai, mentimun, dan beberapa komoditas lainnya bisa berubah dari pagi ke sore. Itu menjadi tantangan besar bagi pelaku usaha di pasar,” katanya.

Menurut Muntoha, APPSI akan memosisikan diri sebagai jembatan antara pedagang dengan pemerintah daerah.

Organisasi tersebut tidak hanya menyampaikan aspirasi pedagang, tetapi juga mengawal berbagai program pemerintah agar benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

Salah satu perhatian APPSI adalah memastikan distribusi komoditas bersubsidi seperti beras SPHP berjalan sesuai ketentuan sehingga dapat diakses masyarakat dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah.

“Kami ingin memastikan program-program subsidi benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak.

Pedagang juga harus mendapatkan akses yang lebih mudah sehingga distribusinya tidak dikuasai pihak tertentu,” jelasnya.

Selain itu, APPSI juga mulai mempersiapkan pembentukan kepengurusan di setiap pasar sebagai upaya memperkuat koordinasi antarpedagang sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai persoalan di lapangan.

Meski demikian, Muntoha mengakui pembentukan organisasi hingga tingkat pasar bukan pekerjaan mudah karena sebagian besar pedagang lebih memilih fokus menjalankan usahanya dibandingkan terlibat dalam organisasi.

Ke depan, APPSI juga akan membawa berbagai persoalan yang dihadapi pedagang Kabupaten Kediri dalam forum nasional organisasi tersebut.

Berbagai pengalaman dari daerah lain diharapkan dapat menjadi referensi dalam merumuskan solusi yang dapat diterapkan di tingkat lokal.

“Kita tidak boleh hanya berhenti berbicara. Yang dibutuhkan sekarang adalah bergerak dan memberikan dampak nyata bagi pedagang pasar,” tegasnya.

Muntoha optimistis pasar tradisional masih memiliki masa depan apabila seluruh pemangku kepentingan mampu duduk bersama mencari solusi.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, pedagang, dan APPSI menjadi kunci agar pasar tradisional tetap menjadi penggerak ekonomi kerakyatan di Kabupaten Kediri.