Bandung, Tandaglobal.news — Lereng Gunung Malabar di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, telah lama dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil kopi berkualitas di Indonesia. Didukung tanah vulkanik yang subur, iklim pegunungan yang sejuk, serta tradisi budidaya yang berlangsung selama ratusan tahun, Kopi Malabar kini berkembang menjadi salah satu kopi spesialti Indonesia yang mampu bersaing di pasar internasional.

Sejarah budidaya kopi di kawasan Malabar bermula pada masa VOC ketika bibit kopi arabika mulai diperkenalkan ke Pulau Jawa pada akhir abad ke-17.

Batavia menjadi lokasi penanaman pertama, namun upaya tersebut gagal akibat banjir sehingga budidaya kopi dipindahkan ke wilayah Priangan yang memiliki kondisi alam lebih sesuai.

Dari kawasan Priangan, pengembangan kopi kemudian meluas ke berbagai dataran tinggi, termasuk lereng Gunung Malabar di kawasan Pangalengan yang memiliki karakter tanah dan iklim ideal untuk tanaman kopi.

Memasuki abad ke-19, Pemerintah Hindia Belanda memperluas perkebunan kopi melalui sistem tanam paksa.

Kawasan Gunung Malabar berkembang menjadi salah satu sentra produksi kopi karena berada pada ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut dengan tanah vulkanik yang kaya unsur hara.

Kondisi tersebut menghasilkan kopi arabika dengan aroma harum, tingkat keasaman yang seimbang, serta cita rasa khas sehingga menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi ke pasar Eropa.

Selain kopi, kawasan Malabar juga berkembang sebagai wilayah perkebunan teh dan kina. Namun, kopi tetap menjadi salah satu komoditas utama yang menopang aktivitas ekonomi masyarakat pegunungan sejak masa kolonial hingga setelah Indonesia merdeka.

Seiring perkembangan zaman, budidaya kopi di kawasan ini terus dipertahankan oleh petani dan pelaku usaha lokal yang menjaga kualitas hasil panennya.

Tonggak penting perkembangan industri kopi modern di kawasan Malabar terjadi pada 8 November 2012 dengan berdirinya PT Sinar Mayang Lestari.

Perusahaan yang didirikan oleh Slamet Prayoga tersebut mengembangkan merek Malabar Mountain Coffee melalui konsep usaha yang mengintegrasikan budidaya, pengolahan pascapanen, penyangraian, hingga pemasaran dalam satu rantai produksi.

Perusahaan mengelola sekitar 70 hektare kebun kopi yang tersebar di kawasan Pangalengan dan Ciwidey.

Berbeda dengan sistem perdagangan kopi tradisional yang melibatkan banyak perantara, perusahaan menerapkan model pemasaran langsung dari kebun hingga ke tangan konsumen.

Produk kopi dipasarkan dalam bentuk green bean, roasted bean, bubuk kopi, hingga minuman siap saji melalui jaringan Malabar Mountain Cafe.

Model bisnis tersebut dinilai mampu menjaga kualitas produk sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil panen kopi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Kopi Malabar semakin dikenal di pasar nasional maupun internasional.

Berbagai penelitian menunjukkan produk Malabar Mountain Coffee telah dipasarkan ke berbagai kota di Indonesia dan diekspor ke sejumlah negara, seperti Singapura, China, Korea Selatan, Amerika Serikat, serta beberapa negara lainnya.

Reputasi tersebut didukung oleh penerapan standar budidaya, pengolahan pascapanen, dan pengendalian mutu yang ketat sehingga menghasilkan kopi spesialti dengan kualitas yang konsisten.

Kini, Kopi Malabar tidak hanya menjadi komoditas perkebunan, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan industri kopi Indonesia berbasis kualitas. Dari lereng Gunung Malabar, tradisi budidaya kopi yang telah dimulai sejak masa kolonial terus berkembang menjadi industri modern yang mengharumkan nama Indonesia di pasar kopi dunia.