Kediri, Tandaglobal.news Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati meninjau langsung rumah warga penerima Belanja Tidak Terduga (BTT) Perbaikan Rumah Tahun 2026, Kamis (30/7/2026). Dua rumah yang dikunjungi yakni milik Rahmad Muslimin di Kelurahan Singonegaran dan Sukirin di Kelurahan Mrican.

Kehadiran Wali Kota yang akrab disapa Mbak Wali tersebut sekaligus menandai dimulainya pembangunan rumah penerima bantuan.

Pada kesempatan itu, Mbak Wali melihat langsung kondisi rumah yang akan diperbaiki sekaligus berdialog dengan para penerima bantuan.

Rumah milik Rahmad Muslimin akan diperbaiki secara menyeluruh setelah mengalami kerusakan akibat gempa bumi.

Total bantuan yang diterima sebesar Rp58 juta yang bersumber dari anggaran BTT Pemerintah Kota Kediri melalui BPPKAD.

Sementara itu, rumah milik Sukirin juga diperbaiki secara menyeluruh dengan total bantuan sebesar Rp24 juta.

“Alhamdulillah hari ini kami bersama anggota DPRD menyerahkan bantuan BTT untuk masyarakat yang membutuhkan.”

“Ada dua rumah yang kami tinjau, yakni di Kelurahan Singonegaran dan Kelurahan Mrican,” ujar Wali Kota Kediri.

Vinanda menyebut kondisi kedua rumah memang sudah sangat tidak layak huni akibat terdampak gempa bumi beberapa waktu lalu.

Kehadiran pemerintah merupakan bentuk kepedulian untuk meringankan beban masyarakat. Ia menjelaskan penerima bantuan merupakan warga kategori desil satu.

Program perbaikan rumah ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mendukung kesehatan warga.

Hunian yang layak akan memberikan lingkungan yang lebih sehat, aman, dan nyaman bagi keluarga.

“Bantuan perbaikan rumah dilaksanakan dengan semangat kolaborasi dan gotong royong bersama berbagai elemen masyarakat, termasuk Gerakan Pramuka serta warga yang memiliki kemampuan di bidang konstruksi,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Kediri Anang Kurniawan menjelaskan BTT merupakan anggaran yang digunakan untuk penanganan kondisi tidak terduga, termasuk perbaikan rumah yang mengalami kerusakan akibat bencana.

Pada tahap awal tahun 2026 terdapat empat rumah yang mendapatkan bantuan, yakni di Kelurahan Singonegaran, Mrican, Burengan, dan Banaran.

Besaran bantuan disesuaikan dengan tingkat kerusakan, luas bangunan, serta kebutuhan perbaikan pada masing-masing rumah.

Bantuan disalurkan langsung kepada penerima.

Pelaksanaan pembangunan dilakukan melalui kelompok swadaya masyarakat dengan melibatkan tukang dari lingkungan sekitar dan pembelian material di toko-toko setempat.

Anang menerangkan setiap kelurahan didampingi tim pendamping dari Dinas Perkim mulai tahap pengusulan, pelaksanaan hingga evaluasi.

Tim tersebut secara rutin melaporkan perkembangan pembangunan kepada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman yang juga melakukan pengawasan secara berkala.

“Pengawasan ini ditekankan pada dua hal, yakni menjaga kualitas bangunan serta memastikan proses renovasi dilakukan secara menyeluruh sehingga rumah benar-benar kembali layak huni,” tutupnya.