

Kediri, Tandaglobal.news — Dugaan keracunan usai mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, masih dalam penyelidikan. Sejumlah siswa dari SMP Negeri 1 Kras dan SD Negeri Purwodadi 1 dilaporkan mengalami keluhan berupa mual, muntah, diare, hingga pusing setelah menerima menu MBG pada Kamis (23/7).
Meski demikian, pihak sekolah menegaskan belum dapat memastikan penyebab munculnya keluhan tersebut. Saat ini, mereka masih menunggu hasil pemeriksaan dari Puskesmas.
Kepala SMP Negeri 1 Kras, Soedjito, mengatakan pihaknya menerima informasi bahwa beberapa siswa mulai mengeluhkan kondisi kesehatannya setelah mengonsumsi makanan.
Namun, laporan tersebut baru banyak diketahui pada keesokan harinya ketika sejumlah siswa tidak masuk sekolah karena sakit.
“Untuk Kamis jumlah pastinya saya belum tahu. Informasinya ada yang langsung mual, pusing, kemudian izin pulang. Lalu pada Jumat mulai banyak siswa yang izin sakit dan tidak masuk sekolah,” ujarnya.
Meski telah muncul laporan adanya siswa yang sakit, distribusi MBG pada Jumat tetap berlangsung karena saat itu belum ada dugaan bahwa keluhan tersebut berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi sehari sebelumnya.
“Hari Jumat anak-anak juga belum tahu kalau ada temannya yang sakit sehingga mereka tetap menerima makanan seperti biasa,” tambahnya.
Pada penyaluran MBG hari Senin, sebagian siswa memilih tidak mengambil makanan yang dibagikan.
Menurut Soedjito, kondisi tersebut dipicu rasa khawatir setelah beredarnya informasi mengenai siswa yang mengalami keluhan kesehatan.
“Banyak yang tidak mengambil karena mungkin anak-anak trauma atau takut. Tetapi ada juga yang tetap makan,” katanya.
Meski demikian, pihak sekolah meminta semua pihak tidak terburu-buru menarik kesimpulan terkait penyebab kejadian tersebut.
“Kami masih menunggu hasil pemeriksaan dari Puskesmas. Belum bisa dipastikan apakah ini benar-benar keracunan makanan karena bisa saja ada faktor lain,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala SD Negeri Purwodadi 1, Sutinah, menjelaskan pihak sekolah mulai menerima laporan dari wali murid pada Sabtu malam.
Sebelumnya, pada Kamis tidak ada siswa yang mengeluhkan kondisi kesehatannya di sekolah.
“Jumat ada anak yang tetap masuk sekolah tetapi bercerita kalau sempat muntah di rumah. Kemudian Sabtu malam ada wali murid yang mengabarkan anaknya sudah dua hari muntah-muntah,” jelasnya.
Berdasarkan pendataan sementara, terdapat enam siswa yang dilaporkan mengalami keluhan kesehatan.
Namun, hanya dua siswa yang sempat tidak masuk sekolah, sedangkan siswa lainnya tetap mengikuti kegiatan belajar.
“Keluhannya tidak sama. Ada yang muntah, ada yang diare. Bahkan ada juga siswa yang muntah tetapi ternyata tidak mengonsumsi MBG karena dari rumah memang sudah sakit,” ungkapnya.
Sutinah menambahkan, selama hampir satu tahun sekolahnya menerima program MBG, kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi.
Selama ini, distribusi makanan dari dapur penyedia lain berjalan tanpa kendala.
“Selama ini aman-aman saja. Ini baru pertama kali terjadi sehingga kami juga masih menunggu hasil pemeriksaan resmi,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan batas waktu konsumsi makanan sesuai standar keamanan pangan.
Menurutnya, makanan yang telah melewati batas waktu penyajian sebaiknya tidak lagi dikonsumsi guna mengurangi risiko gangguan kesehatan.
Salah seorang siswa mengaku mengalami mual setelah menyantap menu MBG yang terdiri atas telur rebus berbumbu, tahu goreng, tumis wortel, dan anggur hijau.
“Perut terasa mulas lalu mencret. Tapi tidak sampai dirawat di rumah sakit, cukup diobati di rumah,” tuturnya.
Ia juga mengaku banyak temannya memilih tidak menyantap menu MBG pada hari berikutnya karena khawatir mengalami keluhan serupa.
Hingga kini, Puskesmas bersama pihak terkait masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan tersebut.
Pihak sekolah mengimbau masyarakat menunggu hasil investigasi resmi agar tidak memunculkan kesimpulan yang belum dapat dipastikan.




















Tinggalkan Balasan