
Tandaglobal.news | KEDIRI – Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Jalan MT. Haryono di Sidorejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, menyimpan sejarah panjang yang sarat dengan nilai kemanusiaan. Berdiri sejak tahun 1898, gereja ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pernah berperan sebagai tempat penampungan bagi masyarakat miskin, terlantar, dan mereka yang tidak memiliki tempat tinggal.
Sejarah tersebut disampaikan oleh Teguh Cahyono, pengurus gereja yang telah mengabdi sejak tahun 1995. Menurutnya, cikal bakal GKJW Sidorejo bermula dari kepedulian para pendahulu yang berinisiatif merangkul masyarakat kurang mampu agar dapat hidup bersama dalam sebuah persekutuan.
“Berdirinya gereja GKJW Sidorejo itu awalnya adalah dulu orang-orang tua kita dulu, kakek nenek dulu, itu mengumpulkan orang-orang terlantar, orang-orang miskin, orang-orang terbuang itu dikumpulkan jadi satu.”
Teguh mengatakan, tujuan para pendahulu tidak hanya memberikan tempat berlindung, tetapi juga membangun kehidupan rohani bagi masyarakat yang ditampung.
“Diajak untuk bersekutu, untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan,” ujar Teguh.
Ia menjelaskan, pada masa itu kawasan Sidorejo masih berupa hutan. Para pendahulu melakukan babat alas sebelum akhirnya mendirikan bangunan gereja. Selain difungsikan sebagai tempat ibadah, gereja juga menjadi tempat penampungan sementara bagi warga yang tidak memiliki tempat tinggal. Mereka kemudian dibantu dengan dibangunkan rumah-rumah kecil di sekitar kawasan tersebut.
Memasuki usia lebih dari 120 tahun, GKJW Sidorejo masih mempertahankan keaslian bangunannya, terutama pada bagian depan. Perbaikan yang dilakukan hanya sebatas pemeliharaan terhadap bagian-bagian yang mengalami kerusakan, seperti plafon dan dinding yang mulai lapuk akibat usia.
Hingga kini, gereja tersebut tetap aktif digunakan sebagai tempat ibadah rutin setiap hari Minggu maupun berbagai kegiatan keagamaan lainnya, termasuk pemberkatan pernikahan dan acara jemaat.
Menurut Teguh, menjaga bangunan bersejarah bukan perkara mudah. Selain faktor usia bangunan, perkembangan zaman juga menjadi tantangan tersendiri karena ada sebagian pihak yang menginginkan renovasi total agar gereja terlihat lebih modern. Namun, upaya pelestarian terus dilakukan agar nilai sejarah bangunan tetap terjaga.

Selain menjaga kelestarian bangunan, pihak gereja juga terus memperhatikan aspek keamanan, terutama saat menyelenggarakan kegiatan besar seperti perayaan Natal. Teguh mengatakan aparat kepolisian rutin melakukan penyisiran sebagai langkah antisipasi apabila muncul informasi mengenai potensi gangguan terhadap rumah ibadah di sejumlah daerah.
“Dari kepolisian selalu misal ada ada apa itu info dari daerah mana itu.”
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar seluruh rangkaian ibadah dapat berlangsung dengan aman dan tertib.
“Kan ada apa pembakaran gereja dan lain sebagainya itu kan, contoh-contoh seperti itu,” jelasnya.
Terkait dukungan pemerintah, Teguh mengatakan GKJW Sidorejo beberapa kali menerima bantuan untuk menunjang kegiatan gereja. Meski tidak diberikan secara rutin, bantuan tersebut menjadi bentuk perhatian terhadap keberadaan gereja yang memiliki nilai sejarah di Kabupaten Kediri.
Di akhir wawancara, Teguh berharap sejarah panjang GKJW Sidorejo dapat terus dikenalkan kepada generasi muda. Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah akan membuat generasi penerus lebih menghargai perjuangan para leluhur dalam mendirikan gereja tersebut.
“Harapan kami untuk kedepannya ya kita-kita gereja ini bisa-bisa lebih maju lagi dan apa itu hubungan antara umat beragama, toleransi beragama itu akan lebih baik.”
Ia juga berharap kehidupan toleransi antarumat beragama terus terjaga sehingga seluruh masyarakat dapat menjalankan ibadah tanpa rasa khawatir.
“Jadi tidak ada rasa khawatir untuk beribadah, untuk mengadakan event-event yang lain itu.”
Menurut Teguh, kondisi tersebut akan menciptakan suasana kehidupan beragama yang harmonis dan membawa rasa nyaman bagi seluruh umat.
“Jadi enak orang beribadah itu nyaman, aman, dan damai gitu, harapannya seperti itu,” pungkas Teguh.
Jurnalis: Stefani Eka Shaputri