Menilik Perjuangan Petani Jagung di Kediri: Tantangan Iklim hingga Harapan Kesejahteraan

Petani jagung di Kabupaten Kediri merawat tanaman di tengah tantangan cuaca, serangan hama, dan fluktuasi harga hasil panen. (Dok. Maya Rahmawati / Tandaglobalnews)

Tandaglobalnews KEDIRI – Sektor pertanian jagung di wilayah Kediri terus menghadapi dinamika yang kompleks. Dari tantangan cuaca yang tidak menentu hingga fluktuasi harga di tingkat tengkulak, petani dituntut untuk terus beradaptasi demi mempertahankan keberlangsungan hidup dan usaha tani mereka.

Supri, seorang petani asal Tirulor, Kediri, mengungkapkan bahwa perbedaan musim sangat berpengaruh terhadap produktivitas tanaman jagungnya. Menurut pengalamannya, musim panas merupakan waktu yang lebih ideal untuk bercocok tanam jagung dibandingkan musim hujan.
Selama musim hujan, petani tidak hanya berhadapan dengan curah hujan yang tinggi, tetapi juga serangan hama, khususnya uler yang menjadi musuh utama tanaman. Kendala hama ini sering kali menjadi ancaman serius bagi keberhasilan panen, terlepas dari apa pun musimnya. Di lahan seluas sekitar 100 ru yang ia kelola, tantangan-tantangan ini menjadi bagian dari keseharian yang harus ia hadapi hingga masa panen tiba.

Selain faktor alam, aspek ekonomi juga menjadi sorotan utama. Supri menyebutkan bahwa harga jual jagung saat ini berada di kisaran Rp6.000 hingga Rp6.500 per kilogram. Meskipun ia mengakui bahwa hasil tersebut terkadang menguntungkan dan terkadang tidak, ia tetap menjalani profesinya dengan tabah.
Menurut pengamatannya, harga jagung sangat dipengaruhi oleh momentum panen petani secara luas. Jika panen dilakukan secara bersamaan (musim panen raya), harga cenderung akan menurun karena melimpahnya pasokan di pasar. Sebaliknya, jika tidak ada panen yang meluas, harga cenderung lebih stabil dan memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi petani.

Dalam menghadapi berbagai kesulitan ini, petani jagung seperti Supri sangat bergantung pada kebijakan dan dukungan pemerintah. Saat ini, bantuan yang dirasakan oleh petani terbatas pada penyediaan pupuk bersubsidi.
Namun, bagi Supri, bantuan tersebut belumlah cukup untuk menutupi biaya operasional yang terus meningkat. Ia berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah, terutama terkait stabilitas harga sarana produksi tani. “Harapan saya ya yang penting pupuk harus murah saja,” ungkapnya dengan lugas.

Baca Juga  Pemadaman Listrik Ganggu UMKM hingga Peternak di Kediri, Kerugian Tak Terhindarkan

Meski dibayangi berbagai tantangan, petani jagung tetap menjadi tulang punggung ketahanan pangan daerah. Kisah Supri adalah cerminan dari banyak petani lainnya yang terus berusaha, meski dihadapkan pada ketidakpastian iklim dan harga. Dukungan berkelanjutan dari pemerintah, baik melalui subsidi yang tepat sasaran maupun stabilitas harga pasar, diharapkan mampu menciptakan ekosistem pertanian yang lebih makmur dan menjamin kesejahteraan para petani di masa mendatang.

Jurnalis : Maya Rahmawati

administrator
Media Berita Online | Menyampaikan Berita Terkini - Aktual - Terpercaya

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *