
Tandaglobalnews KEDIRI — Senyum bahagia terpancar dari wajah Ariyanto Tunggal (65), seorang warga yang tinggal di Dusun Waliran, Desa Pelirang. Beliau menjadi salah satu penerima manfaat dari program bantuan becak listrik yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto melalui kader Partai Gerindra, Edo. Sehari-hari, Ariyanto biasa mangkal dan beroperasi di sekitar kawasan Pare, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Ariyanto bukanlah orang baru dalam dunia kayuh-mengayuh. Beliau menceritakan bahwa dirinya sudah melakoni profesi sebagai tukang becak sejak tahun 1984. Puluhan tahun di jalanan, beliau sempat merasakan menggunakan becak pancal (kayuh) hingga becak mesin sebelum akhirnya mendapatkan bantuan becak listrik ini pada awal bulan puasa lalu, tepatnya sekitar tanggal 5 Maret.
”Alhamdulillah, becak listrik ini sangat membantu mengurangi tenaga saya. Biasanya kan harus mancal, sekarang sudah tidak perlu mancal lagi,” ujar Ariyanto dengan nada bersyukur.
Efisiensi Daya dan Kemudahan Operasional
Becak listrik ini dirasa sangat efisien untuk menunjang aktivitas harian Ariyanto. Untuk pengisian daya (charging) dari kondisi kosong hingga penuh, dibutuhkan waktu sekitar 5 jam. Setelah daya terisi penuh, becak ini mampu menempuh jarak yang cukup jauh, bahkan beliau pernah membawanya hingga ke daerah Jambu, Tau, hingga malam hari tanpa kendala.Untuk biaya operasional pengisian daya, Ariyanto iuran sebesar Rp50.000 setiap bulannya. Kendaraan ini juga diakuinya sangat andal dan belum pernah mengalami kerusakan sejak pertama kali diterima dalam kondisi baik dan siap pakai.
Meski kini sudah menggunakan becak listrik, Ariyanto mengaku bahwa pendapatan dari menarik becak tidak menentu karena beliau tidak memiliki pelanggan tetap. Dalam sehari, adakalanya beliau mendapatkan satu hingga dua kali tarikan penumpang, namun ada kalanya tidak sama sekali.
Oleh karena itu, demi menyambung hidup, Ariyanto tidak hanya mengandalkan profesi sebagai tukang becak. Beliau juga kerap menyisir jalanan di wilayah Pare dan sekitarnya untuk mencari barang rongsokan (rosokan). Hasil rosokan tersebut biasanya beliau kumpulkan dan dijual kembali setiap beberapa hari sekali.
Ada cerita menarik di balik proses serah terima bantuan ini. Ariyanto sempat hampir melewatkan panggilan karena telepon genggamnya mati. Beruntung, pihak showroom tempat pengambilan becak membantu menghubunginya kembali. Beliau juga sempat berkelakar bahwa dirinya sempat ketiduran saat diminta datang ke kantor Dinas Perhubungan (Dishub) pada jam 5 pagi karena kondisi fisik yang kelelahan.
Untuk persyaratannya sendiri, Ariyanto diminta menyiapkan beberapa dokumen pendukung seperti:
2 lembar fotokopi Kartu Keluarga (KK)
2 lembar fotokopi KTP
2 buah materai (yang kemudian digunakan 1 buah untuk berkas)
Kini, dengan adanya becak listrik ini, Ariyanto merasa sangat terbantu dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Beliau berharap program seperti ini dapat terus berjalan untuk membantu para pekerja jalanan seperti dirinya dalam meringankan beban fisik saat mencari nafkah.
Jurnalis : Fitri Rahayu