Kemarau Datang, Petani Bawang Daun Hadapi Dua Beban

Petani bawang daun di Desa Siman, Kecamatan Kepung, merawat tanaman di tengah musim kemarau yang diwarnai serangan hama ulat, kenaikan biaya produksi, dan fluktuasi harga jual. (Dok. Maya Rahmawati / Tandaglobalnews )

Tandaglobalnews KEPUNG – Memasuki pertengahan tahun 2026, para petani bawang daun di Desa Siman, Kecamatan Kepung, mulai menghadapi berbagai tantangan khas musim kemarau. Meski kondisi lahan dinilai masih cukup baik dan pasokan air untuk irigasi terbilang mencukupi, tantangan besar justru datang dari serangan hama dan fluktuasi harga di pasar.


Yusuf (28), salah seorang petani setempat yang saat ini mengelola lahan bawang daun seluas kurang lebih 1.400 meter persegi, mengungkapkan bahwa musim kemarau kali ini membawa dampak tersendiri bagi pertumbuhan tanamannya. Menurutnya, kendala utama yang paling dirasakan petani saat ini adalah merebaknya hama ulat.


“Kondisi lahan sebenarnya bagus dan air alhamdulillah mencukupi. Hanya saja, musim kemarau ini sedikit berpengaruh ke pertumbuhan karena adanya hama, terutama hama ulat,” ujar Yusuf saat ditemui di lahannya.

Keluhkan Harga Pupuk Obat yang Melambung

Selain masalah hama, Yusuf juga mengeluhkan kondisi harga sarana produksi pertanian (saprodi) yang kian mencekik. Harga pupuk dan obat-obatan yang dibutuhkan untuk perawatan bawang daun saat ini mengalami kenaikan drastis. Untuk budidaya bawang daun sendiri, mayoritas petani di wilayah tersebut mengandalkan pupuk jenis ZA, NPK, serta Saprodap.
“Harga pupuk dan obat-obatan sekarang sangat mahal, semuanya naik,” keluhnya.

Harga Jual Tidak Stabil

Kondisi ini kian diperparah dengan harga jual bawang daun di tingkat petani yang cenderung turun dan kurang stabil jika dibandingkan dengan awal tahun. Yusuf mengaku hasil penjualan saat ini masih jauh dari kata layak untuk memberikan keuntungan yang proporsional bagi para petani, mengingat modal yang dikeluarkan untuk saprodi sudah terlanjur tinggi.


Ketika ditanya mengenai perkiraan hasil panen, Yusuf belum bisa memastikan secara detail karena faktor cuaca dan kondisi hama yang sangat dinamis. Namun, ia menjelaskan bahwa untuk jenis bawang daun yang ditanamnya, masa panen biasanya berkisar antara 45 hingga 50 hari setelah masa tanam.
Meskipun dihantui ancaman hama ulat, Yusuf menyebutkan bahwa karakter tanaman bawang daun sebenarnya cukup tangguh di musim kemarau. Tanaman ini tidak terlalu bergantung pada curah hujan yang tinggi, asalkan proses penyiraman rutin dilakukan secara konsisten dan tidak terlambat.

Baca Juga  Dampak Pembangunan Jembatan Kaliombo, Omzet SPBU Turun Drastis hingga 80 Persen


Petani berharap ada perhatian lebih dari pihak terkait, khususnya mengenai stabilitas harga obat dan pupuk, serta adanya solusi konkret untuk mengendalikan harga jual di tingkat petani agar tidak semakin merosot menjelang masa panen raya.

administrator
Media Berita Online | Menyampaikan Berita Terkini - Aktual - Terpercaya

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *