
Tandaglobal.news | KEDIRI – Berdiri sejak sekitar tahun 1817, Kelenteng Tjoe Hwie Kiong di Kota Kediri tidak hanya menjadi tempat ibadah umat Tri Dharma, tetapi juga berkembang sebagai pusat pelestarian budaya Tionghoa dan berbagai kegiatan sosial yang terbuka bagi masyarakat.
Bangunan yang berada di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota, tersebut juga telah ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Jawa Timur.
Sebagai kelenteng Tri Dharma, tempat ibadah ini digunakan oleh umat Konghucu, Buddha, dan Tao.
Keberadaan tiga altar utama di dalam bangunan menjadi simbol tiga ajaran yang hidup berdampingan, sekaligus mencerminkan nilai keberagaman yang telah lama tumbuh di Kota Kediri.
Ketua Yayasan Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, Prajitno Sutikno, mengatakan berbagai aktivitas budaya rutin diselenggarakan di lingkungan kelenteng.
Kegiatan tersebut meliputi latihan barongsai, wushu, pembelajaran bahasa Mandarin, hingga pertunjukan wayang potehi yang digelar saat perayaan-perayaan besar.
Pelestarian budaya tersebut terus dilakukan agar kesenian dan tradisi Tionghoa tetap dikenal oleh generasi muda maupun masyarakat luas.
Pada Mei 2026, Kelenteng Tjoe Hwie Kiong kembali menggelar pertunjukan wayang potehi selama dua bulan berturut-turut sebagai upaya melestarikan seni budaya Tionghoa sekaligus memberikan hiburan gratis bagi masyarakat.
Selain melestarikan budaya, pengurus kelenteng juga aktif menjalin hubungan baik dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial maupun kegiatan lintas agama.
“Kalau untuk masyarakat sekitar, biasanya kita juga berperan aktif dalam kegiatan keagamaan lintas agama. Terus kalau kita ada kegiatan pembagian sembako, ya kita bagikan ke masyarakat sekitar,” kata Prajitno.
Menurutnya, kehidupan keagamaan di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong berlangsung secara rutin. Umat melaksanakan ibadah setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Imlek, selain memperingati berbagai hari besar dewa-dewi sesuai tradisi.
Dalam setiap ibadah, lilin dimaknai sebagai simbol doa, harapan, dan penerangan kehidupan. Sementara itu, dupa (hio) melambangkan ketenangan dalam beribadah serta harapan agar doa dapat sampai kepada Yang Maha Kuasa.
Menjelang Imlek dan Cap Go Meh, pengurus juga melakukan berbagai persiapan. Kegiatannya meliputi pembersihan area kelenteng dan altar, upacara penghantaran dewa-dewi ke langit, malam penutupan tahun, hingga ritual tolak bala berdasarkan shio.
Sepanjang tahun 2026, Kelenteng Tjoe Hwie Kiong juga menjadi lokasi berbagai kegiatan keagamaan dan budaya, seperti perayaan Imlek serta peringatan HUT Dewi Mazu (Tian Shang Sheng Mu) yang dihadiri unsur pemerintah daerah, tokoh lintas agama, TNI-Polri, dan masyarakat.
Rangkaian kegiatan tersebut mencerminkan semangat toleransi serta pelestarian budaya yang terus dijaga di Kota Kediri.
Selain menjadi pusat kegiatan budaya, Kelenteng Tjoe Hwie Kiong juga menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kota Kediri.
Tidak hanya umat yang datang untuk beribadah, masyarakat umum dan wisatawan juga berkunjung untuk mengenal sejarah, menikmati arsitektur khas Tionghoa, serta mempelajari keberagaman budaya yang telah menjadi bagian dari identitas Kota Kediri.
Sebagai bagian dari warisan sejarah dan identitas Kota Kediri, Prajitno berharap seluruh masyarakat turut menjaga keberadaan Kelenteng Tjoe Hwie Kiong agar tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
“Kelenteng Tjoe Hwie Kiong ini adalah milik… sekarang secara tidak langsung adalah milik masyarakat Kediri, kota/kabupaten. Jadi mari kita jaga bersama-sama apa yang ada di wilayah kita,” pungkasnya.




















Tinggalkan Balasan