
Tandaglobalnews JAKARTA – Kabar penting datang dari Timur Tengah yang selama ini terus bergolak. Pemerintah Israel akhirnya menyetujui usulan gencatan senjata dengan Beirut dan sepakat untuk menghentikan sementara seluruh serangan militer yang dilancarkan ke sejumlah wilayah di Lebanon. Keputusan bersejarah ini baru tercapai tepat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump benar-benar kehabisan kesabaran dan membentak keras Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam percakapan telepon yang berlangsung dua hari sebelumnya.
Menurut keterangan yang diungkapkan berbagai sumber, keputusan Israel untuk menghentikan tembakan tidak terlepas dari kemarahan besar yang diluapkan Trump. Saat itu, Netanyahu diketahui bersikeras akan terus meningkatkan intensitas serangan militer, bahkan berencana mengebom ibu kota Beirut—langkah yang dinilai sangat berisiko memperparah konflik hingga mengancam menggagalkan perundingan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam percakapan telepon yang berlangsung sangat emosional itu, Trump tak segan-segan melontarkan teguran paling keras kepada Netanyahu. Bahkan, ia dengan tegas mengingatkan bahwa posisi pemimpin Israel itu saat ini tidak terlepas dari dukungan penuh yang selama ini diberikan AS. “Anda benar-benar gila! Kalau bukan karena saya, Anda pasti sudah masuk penjara sekarang! Saya sedang menyelamatkan Anda. Sekarang semua orang membencimu, semua orang membenci Israel karena ulah ini,” bentak Trump, sebagaimana dikutip dari sumber yang mengetahui isi percakapan tersebut. Pernyataan itu merujuk pada dukungan politik yang selama ini diberikan Trump saat Netanyahu terjerat kasus hukum korupsi di negaranya sendiri.
Setelah mendapat teguran keras dari sekutu utamanya itu, posisi Netanyahu perlahan melunak. Proses perundingan pun akhirnya dimulai kembali: pembicaraan berlangsung seharian penuh pada Selasa, lalu dilanjutkan hingga hampir sembilan jam lamanya pada Rabu di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Akhirnya, kedua belah pihak mencapai kesepakatan meski dengan syarat ketat dari Israel.
Pihak Tel Aviv menegaskan bahwa gencatan senjata ini bersyarat mutlak, yaitu harus diikuti dengan “penghentian total” segala serangan dari kelompok Hizbullah serta penarikan seluruh anggota dan pasukan kelompok tersebut dari wilayah Lebanon selatan. Israel juga menekankan, keamanan sejati dan penghormatan terhadap batas wilayahnya hanya dapat tercapai jika Hizbullah benar-benar melucuti seluruh persenjataan dan membongkar seluruh pangkalan serta infrastruktur militernya di seluruh penjuru Lebanon.
Di sisi lain, Pemerintah Lebanon dalam pernyataan resminya menegaskan kembali komitmen untuk saling menghormati batas wilayah yang diakui dunia internasional, serta menuntut pelaksanaan gencatan senjata secara menyeluruh tanpa syarat yang memberatkan. Lebanon pun berjanji akan terus meningkatkan kemampuan tempur Angkatan Bersenjatanya dengan dukungan dari Amerika Serikat, guna memegang kendali penuh atas seluruh wilayah negaranya.
Sebagai langkah nyata awal, kedua pihak sepakat untuk segera membentuk zona percobaan (pilot zone) di mana Angkatan Bersenjata Lebanon akan memegang kendali eksklusif dan mutlak, mengesampingkan keberadaan seluruh kelompok bersenjata non-negara apa pun di dalamnya. Meskipun belum ditetapkan batas waktunya, zona ini diharapkan menjadi cikal bakal stabilitas jangka panjang.
Selain itu, Israel dan Lebanon juga telah menyepakati untuk kembali melanjutkan pembicaraan politik dan keamanan secara lebih mendalam pada tanggal 22 Juni 2026 mendatang, dengan tujuan utama mencapai kesepakatan damai yang komprehensif dan langgeng. Pemerintah Amerika Serikat pun menegaskan akan terus memfasilitasi komunikasi antara kedua pihak selama masa transisi ini demi mencegah kembalinya pertumpahan darah, mengingat gencatan senjata sebelumnya telah berulang kali dilanggar akibat saling serang antar kedua belah pihak.