
Tandaglobalnews JAKARTA – Upaya mencapai kesepakatan damai guna menghentikan total konflik yang berkecamuk antara Amerika Serikat dan Iran ternyata masih berjalan sangat alot, penuh liku, dan belum menampakkan titik terang yang nyata. Perundingan damai yang digelar kedua belah pihak hingga saat ini masih menemui kebuntuan tajam, dan satu-satunya batu sandungan terbesar yang membuat pembicaraan macet total tak lain adalah permasalahan sensitif mengenai stok uranium hasil pengayaan yang dimiliki sepenuhnya oleh Pemerintah Teheran .
Hingga tahap pembahasan paling akhir, pihak Iran masih berdiri teguh pada pendiriannya dan belum memberikan tanda-tanda persetujuan terhadap salah satu poin paling krusial yang tercantum secara jelas dalam usulan resmi yang diajukan oleh Pemerintah Amerika Serikat. Poin tersebut dengan tegas meminta agar Iran bersedia menyerahkan seluruh cadangan uranium yang telah diperkayakan ke tingkat tinggi kepada pihak Washington sebagai syarat mutlak berlakunya gencatan senjata dan perjanjian damai yang komprehensif .
Secara rinci dan tegas, Amerika Serikat bersikeras mempertahankan tiga syarat utama yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dan harus dipenuhi Iran jika ingin kesepakatan damai segera tercapai serta diakui keabsahannya. Pertama, Teheran wajib menyerahkan seluruh persediaan uranium yang tingkat pengayaannya nyaris mencapai standar yang dibutuhkan untuk pembuatan senjata nuklir. Kedua, Iran harus bersedia membatasi secara ketat dan transparan seluruh aktivitas pengembangan serta pengayaan nuklirnya ke tingkat yang sangat rendah dan dapat diawasi sepenuhnya oleh lembaga internasional. Ketiga, Iran harus segera membuka kembali akses Selat Hormuz—jalur laut paling vital bagi kelancaran perdagangan dan pengiriman minyak dunia—yang selama ini terhambat akibat memanasnya ketegangan militer di kawasan tersebut .
🗣️ PERNYATAAN RESMI NARASUMBER DARI PIHAK AMERIKA SERIKAT
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, secara terbuka, jujur, dan lugas memberikan bocoran sekaligus pengakuan resmi bahwa perundingan damai ini masih mengalami jalan buntu yang sangat sulit untuk dicairkan, terutama terkait isu paling sensitif mengenai uranium hasil pengayaan milik Iran. Pernyataan resmi ini ia sampaikan secara langsung saat memberikan keterangan di hadapan sidang Komite Urusan Luar Negeri Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, sebagaimana dikutip dari laporan wartawan Al Arabiya .
“Saya pikir saat ini, dalam sejumlah dokumen usulan dan tanggapan yang telah saling dipertukarkan bolak-balik oleh kedua delegasi, hal ini telah dibahas dengan sangat rinci dan gamblang. Namun sayangnya, hingga pagi hari ini, kami masih belum mendapatkan persetujuan akhir maupun jawaban pasti dari sistem pemerintahan mereka,” tegas Marco Rubio dengan nada serius dan penuh kekecewaan
Rubio lebih lanjut kembali menegaskan posisi negaranya bahwa secara teknis perang melawan Iran telah dinyatakan berakhir meski serangan balasan masih sesekali terjadi. “Kami tidak lagi melancarkan serangan berkelanjutan ke wilayah Iran guna melemahkan kekuatan militer mereka, sebab operasi militer ‘Epic Fury’ telah resmi dihentikan. Kami mendefinisikan kemenangan ini sebagai berhasilnya
menghancurkan pangkalan industri pertahanan mereka, mengurangi secara signifikan jumlah peluncur rudal strategis, serta menipiskan persediaan pesawat nirawak milik Iran,” tambahnya menegaskan .
Sementara itu, Pete Hegseth, yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan Amerika Serikat, turut memberikan pernyataan tegas dan menjadi penegasan keras di tengah kebuntuan ini. Beliau menyampaikan hal tersebut di sela-sela acara forum pertahanan internasional Shangri-La Dialogue yang berlangsung di Singapura, dengan dikutip langsung dari kantor berita AFP .
“Washington lebih dari sekadar memiliki kemampuan militer yang kuat untuk memulai kembali serangan dan melanjutkan perang jika situasi dan kondisi memang memaksakan ke sana. Presiden Donald Trump hanya akan bersedia menandatangani kesepakatan yang benar-benar menguntungkan Amerika Serikat dan sepenuhnya sesuai dengan prinsip tanpa kompromi yang selama ini ia tegakkan,” tandas Pete Hegseth dengan nada tegas dan penuh kewaspadaan .
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pun tak ketinggalan angkat bicara mengenai masa depan cadangan nuklir Iran. Beliau secara terbuka menyatakan pandangannya yang menjadi akar utama perselisihan, bahwa seluruh stok uranium hasil pengayaan milik Iran pada akhirnya harus dipindahkan dan dimusnahkan demi menjamin keamanan jangka panjang seluruh dunia.
🗣️ PERNYATAAN RESMI NARASUMBER DARI PIHAK IRAN
Di sisi lain, posisi Iran tak kalah tegas dan sama sekali tidak mau bergeming terhadap tekanan yang diberikan Amerika Serikat. Esmaeil Baghaei, yang menjabat sebagai Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, dengan lantang menolak seluruh tuntutan inti dari Washington, sebagaimana dikutip dari kantor berita resmi IRNA dan media Al Jazeera.
“Kami tegaskan dengan tegas dan jelas, tidak akan pernah tercapai kesepakatan apa pun jika Amerika Serikat tetap bersikeras memaksa Iran menyerahkan cadangan uraniumnya. Proses negosiasi ini sejatinya difokuskan semata-mata pada upaya penghentian total perang dan pemulihan stabilitas kawasan, sedangkan isu teknis terkait cadangan nuklir dan uranium hasil pengayaan bukanlah hal yang pantas untuk dibahas secara mendetail pada tahap pembicaraan yang sedang berlangsung ini,” tegas Esmaeil Baghaei dengan nada mantap.
Penolakan tegas yang sama juga disampaikan oleh Ali Bagheri Kani, Wakil Urusan Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Beliau menegaskan hal tersebut kepada wartawan saat berada di sela-sela konferensi keamanan internasional di Moskow, dengan dikutip dari kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency.
“Masalah terkait nasib uranium yang telah diperkaya oleh Iran sama sekali tidak tercantum dalam daftar agenda pembahasan resmi. Hal ini merupakan aset kedaulatan mutlak bangsa Iran yang tidak bisa ditawar, diganggu gugat, apalagi diminta untuk diserahkan ke pihak mana pun juga,” tegas Ali Bagheri Kani tanpa ragu.
Selain menolak menyerahkan uranium, Iran juga melayangkan syarat balasan yang tak kalah berat sebagai imbalannya. Pihak Teheran melalui berbagai pernyataan resminya bersikeras bahwa mereka tidak akan pernah mempertimbangkan tuntutan Amerika Serikat, kecuali Washington terlebih dahulu memenuhi tuntutan pokok mereka, yaitu segera mencairkan seluruh aset keuangan Iran yang bernilai mencapai 12 miliar Dolar AS dan selama ini dibekukan serta disita di bank-bank Amerika Serikat. Iran
juga dengan tegas menolak keras pernyataan Presiden Trump yang sebelumnya menyebutkan bahwa seluruh stok uranium hasil pengayaan Iran pada akhirnya akan dipindahkan dan dimusnahkan.
Buntu dan alotnya pembicaraan ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran besar bagi seluruh masyarakat dunia. Ketegangan yang bermula sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas militer serta nuklir Iran pada tanggal 28 Februari lalu ini telah membawa dampak buruk yang meluas dan terasa hingga ke pelosok dunia. Negara-negara di kawasan Teluk pun turut merasakan dampak pahitnya, karena Iran kerap melancarkan serangan balasan ke negara-negara sekutu Amerika Serikat dan secara efektif melakukan pembatasan ketat di Selat Hormuz—jalur pengiriman minyak paling vital yang memasok hampir seperlima kebutuhan energi dunia—sehingga terus mengganggu stabilitas ekonomi dan keamanan pasokan energi global .