Kepala Sekolah Rakyat Kabupaten Kediri, Fadeli M.Pd., memaparkan sistem pendampingan siswa selama 24 jam dalam kegiatan Open House dan MPLS di Kecamatan Plosoklaten. (Dok. TandaGlobalNews/Wildan Wahid Hasyim)

Tandaglobal.news | KediriSekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kediri menerapkan sistem pengawasan dan pendampingan selama 24 jam guna mencegah perundungan (bullying), kekerasan, dan intoleransi di lingkungan sekolah berasrama. Seluruh aktivitas siswa dirancang berlangsung secara terarah dengan pendampingan dari guru, wali asuh, maupun tenaga kependidikan.

Kepala Sekolah Rakyat Kabupaten Kediri, Fadeli M.Pd., mengatakan pencegahan terhadap berbagai persoalan sosial menjadi salah satu prioritas utama dalam penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Rakyat. Menurutnya, terdapat tiga persoalan yang menjadi fokus pengawasan, yakni perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi.

“Yang menjadi perhatian kami ada tiga, yaitu bullying, kekerasan fisik maupun seksual, dan intoleransi. Itu yang harus benar-benar dicegah sejak awal,” ujarnya usai kegiatan Open House dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Kecamatan Plosoklaten.

Untuk mencegah munculnya persoalan tersebut, sekolah menerapkan pola pembinaan yang memastikan setiap aktivitas siswa selalu berada dalam pengawasan pendamping. Sistem itu diterapkan sejak kegiatan belajar, ibadah, makan, hingga aktivitas di asrama.

Fadeli menyebut pihaknya memegang dua prinsip utama dalam mendampingi seluruh peserta didik selama berada di lingkungan sekolah.

“Resep kami sederhana. Tidak semenit pun anak tanpa kegiatan dan tidak sedetik pun kegiatan tanpa pendampingan. Jadi semua aktivitas anak terpantau,” tegasnya.

Menurutnya, waktu luang siswa pun tetap diisi dengan kegiatan yang telah diprogramkan sehingga tidak ada kesempatan berkumpul tanpa pengawasan.

“Kami tidak memberikan ruang anak-anak berkumpul tanpa pengawasan. Kalau ada waktu santai, tetap ada kegiatan yang diprogramkan dan dipantau. Bahkan makan pun ada pendampingan melalui program makan terbimbing,” jelasnya.

Selain mengawasi aktivitas sehari-hari, guru, wali asuh, dan tenaga kependidikan juga diminta aktif memantau kondisi psikologis maupun sosial peserta didik. Setiap perubahan perilaku yang berpotensi menimbulkan persoalan akan segera ditindaklanjuti.

“Kalau ada anak yang terlihat menyendiri, ada perubahan perilaku, atau ada gejala sosial sekecil apa pun, langsung kami pantau dan kami dekati. Jangan sampai berkembang menjadi masalah yang lebih besar,” kata Fadeli.

Ia menjelaskan pendekatan tersebut penting karena siswa Sekolah Rakyat berasal dari latar belakang keluarga, lingkungan sosial, dan pengalaman hidup yang beragam. Oleh sebab itu, proses adaptasi menjadi bagian penting yang dikawal sejak hari pertama mereka masuk sekolah.

Selama MPLS yang berlangsung hingga 31 Juli 2026, sekolah memfokuskan kegiatan pada pembentukan karakter sosial dan spiritual sebagai bekal sebelum siswa mengikuti proses pembelajaran reguler.

“Yang sebelumnya belum terbiasa salat kami ajak salat. Yang biasanya salat sendiri kami ajak berjamaah. Jadi karakter sosial, spiritual, kedisiplinan, dan kebersamaan menjadi fokus utama selama masa pengenalan ini,” ungkapnya.

Fadeli menambahkan, pendekatan yang diterapkan selama satu tahun terakhir kepada angkatan pertama jenjang SMA menunjukkan hasil positif. Hingga kini, pihak sekolah belum menemukan kasus perundungan maupun kekerasan yang melibatkan peserta didik.

“Alhamdulillah selama satu tahun berjalan tidak ada kasus bullying, tidak ada kekerasan. Anak-anak sudah merasa nyaman tinggal dan belajar bersama di sini,” tuturnya.

Saat ini Sekolah Rakyat Kabupaten Kediri menampung 248 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA yang seluruhnya menjalani pendidikan berbasis asrama. Melalui sistem pendampingan selama 24 jam serta penguatan karakter yang terus diterapkan, sekolah berharap dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman sekaligus mendukung tumbuh kembang anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang menjadi sasaran program tersebut.


Jurnalis: Wildan Wahid Hasyim