Tandaglobal.news | Kota Kediri — Tenun Ikat Bandar Kidul tidak hanya menjadi warisan budaya Kota Kediri, tetapi juga membuktikan bahwa kerajinan tradisional mampu bertahan di tengah perkembangan zaman. Di balik selembar kain yang kini dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia hingga Jepang, terdapat proses panjang yang dikerjakan secara tradisional dan diwariskan lintas generasi.

Salah satu pelaku yang menjaga tradisi tersebut adalah Erwin Wahyu Nugroho, Ketua Tenun Ikat Kota Madya Kediri. Sebagai generasi keempat penerus usaha keluarga di Jalan KH Agus Salim Gang VIII Nomor 9A, Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, ia masih mempertahankan proses produksi menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Menurut Erwin, pembuatan satu lembar kain tenun tidak bisa dilakukan secara instan. Sedikitnya terdapat 14 tahapan yang harus dilalui, mulai dari pemintalan benang, panyepuran, pembuatan desain, pengikatan motif, pewarnaan, pemecahan benang, penggulungan (nebum), hingga panyucian atau drayan, sebelum akhirnya ditenun menjadi selembar kain.

“Drayan itu bahasanya nyambung,” jelas Erwin.

Seluruh proses persiapan membutuhkan waktu sekitar sepuluh hari. Setelah semua tahapan selesai, proses menenun relatif lebih cepat.

“Satu hari bisa satu sampai dua potong,” tuturnya.

Meski melalui proses yang panjang, Erwin mengaku menikmati setiap tahap pekerjaan yang telah diwariskan keluarganya selama empat generasi.

“Ya perasaan ya semuanya enjoy, jadi enggak ada kesulitan sama sekali,” ungkapnya.

Keunikan Tenun Ikat Bandar Kidul tidak hanya terletak pada proses pembuatannya. Tenun khas Kediri ini memiliki lebar sekitar 92 sentimeter dengan panjang 2,5 meter, serta teknik pengikatan dan motif yang menjadi pembeda dibandingkan tenun dari daerah lain. Saat ini, salah satu motif yang paling diminati konsumen adalah Terto Tumetes, motif khas Kota Kediri.

Seiring perkembangan pasar, produk Tenun Ikat Bandar Kidul tidak lagi terbatas pada kain. Para pengrajin kini mengembangkan berbagai produk fesyen, seperti pakaian, syal, tas, dompet, hingga aksesori. Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul juga berkembang menjadi destinasi wisata edukasi yang memungkinkan pengunjung melihat langsung proses pembuatan kain tenun.

Pasarnya pun semakin luas. Berdasarkan data Pemerintah Kota Kediri, Tenun Ikat Bandar Kidul telah dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Timur, Kalimantan, Aceh, hingga Jepang, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu produk unggulan Kota Kediri.

Di balik peluang pasar tersebut, tantangan terbesar justru datang dari regenerasi. Salah satu penggerak Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul, Hana, mengatakan minat generasi muda untuk menjadi penenun masih relatif rendah karena proses pembuatannya membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan waktu yang tidak singkat.

“Tantangan terbesar saat ini adalah mencari generasi muda yang benar-benar berminat belajar menenun. Tidak semua anak muda tertarik menekuni pekerjaan ini,” katanya.

Untuk menjaga keberlanjutan tradisi tersebut, Erwin membuka kesempatan bagi siswa dan mahasiswa mengikuti program magang yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Kediri dan sejumlah perguruan tinggi.

“Kalau di sini untuk magangnya itu kan khususnya Pemkot Kediri bekerja sama sama universitas-universitas,” jelasnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota Kediri terus mendukung pengembangan Tenun Ikat Bandar Kidul melalui promosi, pameran, pemberdayaan UMKM, hingga berbagai kegiatan yang mengenalkan tenun kepada masyarakat luas.

Bagi Erwin, keberhasilan Tenun Ikat Bandar Kidul menjangkau pasar nasional hingga Jepang menjadi bukti bahwa warisan budaya tetap memiliki tempat di tengah perkembangan zaman. Namun, ia menilai keberlangsungan tenun akan sangat bergantung pada hadirnya generasi penerus yang mau belajar dan melestarikan keterampilan tersebut.

“Yang penting itu enjoy, enggak usah terlalu ibaratnya buru-buru menghasilkan uang,” pesannya.


Jurnalis: Maya Rahmawati