Tandaglobal.news | Kediri — Di tengah perkembangan industri tekstil modern, kerajinan tenun ikat di Kampung Tenun Bandar Kidul, Kota Kediri, tetap mempertahankan proses pembuatannya secara tradisional. Warisan budaya yang telah dijaga selama empat generasi ini terus bertahan dengan mengedepankan ketelatenan, kualitas, dan nilai budaya dalam setiap helai kain yang dihasilkan.

Hal tersebut disampaikan Erwin Wahyu Nugroho, Ketua Tenun Ikat Kota Madya Kediri, saat ditemui di tempat usahanya di Jalan KH Agus Salim Gang VIII Nomor 9A, Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Selasa (14/7/2026).

Erwin menuturkan dirinya merupakan generasi keempat yang meneruskan usaha keluarga. Meski tradisi menenun telah berlangsung turun-temurun, merek usahanya sendiri baru resmi dibangun pada 2007.

Menurutnya, pembuatan satu lembar kain tenun ikat bukanlah pekerjaan yang singkat. Sebelum memasuki proses penenunan, terdapat 14 tahapan yang harus dilalui, mulai dari pemintalan, panyepuran (bidang), pembuatan desain, pengikatan, pewarnaan, pemecahan, penggulungan (nebum), hingga panyucian atau drayan.

“Drayan itu bahasanya nyambung,” jelas Erwin.

Seluruh rangkaian persiapan tersebut membutuhkan waktu sekitar sepuluh hari. Justru setelah semua tahapan selesai, proses menenun dapat dilakukan relatif cepat dengan hasil satu hingga dua lembar kain dalam sehari. Menurut Erwin, bagian yang paling menyita waktu adalah seluruh proses persiapan sebelum benang siap ditenun.

Meski prosesnya panjang dan membutuhkan ketelitian tinggi, Erwin mengaku tidak pernah menganggapnya sebagai pekerjaan yang sulit. Pengalaman sebagai penerus generasi keempat membuatnya telah terbiasa menjalani setiap tahapan produksi. Hingga kini, seluruh proses pembuatan kain tenun di tempat usahanya masih dikerjakan menggunakan teknik tradisional yang diwariskan keluarganya.

Di tengah berbagai pilihan motif yang tersedia, Erwin menyebut Terto Tumetes menjadi motif yang paling diminati masyarakat saat ini. Motif tersebut merupakan salah satu motif khas Kota Kediri yang menjadi identitas tenun Bandar Kidul.

Selain motif, tenun Bandar Kidul juga memiliki ciri khas yang membedakannya dengan daerah lain. Perbedaannya terlihat pada tingkat kepadatan kain, ukuran standar, hingga teknik pengikatan dan detail tutulannya. Kain tenun khas Kediri memiliki lebar sekitar 92 sentimeter dengan panjang mencapai 2,5 meter.

Sebagai penerus usaha keluarga, Erwin mengaku memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan yang telah dirintis orang tuanya. Salah satu upaya yang dilakukan ialah membuka kesempatan pelatihan serta menerima siswa maupun mahasiswa yang mengikuti program magang melalui kerja sama Pemerintah Kota Kediri dengan berbagai perguruan tinggi.

Erwin berharap semakin banyak generasi muda bersedia meneruskan kerajinan tenun ikat agar warisan budaya tersebut tetap lestari. Menurutnya, keterampilan menenun tidak hanya membutuhkan fokus dan ketelatenan, tetapi juga kesabaran dalam menikmati setiap prosesnya.

“Yang penting itu enjoy, enggak usah terlalu ibaratnya buru-buru menghasilkan uang,” pesannya.

Ia pun optimistis minat generasi muda terhadap tenun ikat masih cukup besar. Berbagai kegiatan yang digelar Pemerintah Kota Kediri bersama Bank Indonesia dinilai mampu memperkenalkan sekaligus menumbuhkan ketertarikan anak muda terhadap warisan budaya tersebut.

“Soalnya kan untuk saat ini dari pihak Pemkot Kediri, dari Bank Indonesia, itu kan tetap punya event-event untuk mengangkat tenun biar anak-anak muda itu tertarik,” pungkasnya.


Jurnalis: Stefani Eka Shaputri