
(Dok. TGN/Maya Rahmawati)
Tandaglobal.news | Kediri — Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, terus mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu sentra kerajinan tenun ikat yang menjadi kebanggaan daerah. Di tengah pesatnya perkembangan industri fesyen modern, para pengrajin terus berinovasi agar produk tenun tetap diminati masyarakat, khususnya generasi muda.
Salah satu penggerak Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul, Hana, mengatakan sentra tenun tersebut telah berkembang sejak tahun 1960-an. Pada masa itu, sebagian besar masyarakat bekerja sebagai penenun yang mengerjakan pesanan dari pemilik usaha. Memasuki sekitar tahun 1970-an, para penenun mulai membuka usaha sendiri dan memasarkan hasil produksinya secara mandiri.
“Kampung tenun ini sudah ada sejak tahun 1960-an. Awalnya masyarakat menjadi pekerja tenun, kemudian sekitar tahun 1970-an mulai membuka usaha sendiri,” ujar Hana.
Menurut Hana, perkembangan zaman mendorong para pengrajin untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan pasar. Jika dahulu mayoritas produksi berupa kain sarung, kini Tenun Ikat Bandar Kidul telah berkembang menjadi berbagai produk, mulai dari kain untuk busana, syal, selendang, hingga aneka produk fesyen dan aksesori yang mengikuti tren.
Ia menuturkan inovasi menjadi langkah penting agar tenun ikat mampu bersaing dengan produk tekstil modern. Berbagai desain yang lebih kasual dan sesuai dengan selera anak muda terus dikembangkan tanpa menghilangkan ciri khas motif Tenun Ikat Bandar Kidul.


Di balik berbagai inovasi tersebut, para pengrajin masih menghadapi tantangan besar, yakni regenerasi. Minat generasi muda untuk menjadi penenun dinilai masih rendah karena proses produksi tenun membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta waktu yang tidak singkat.
“Tantangan terbesar saat ini adalah mencari generasi muda yang benar-benar berminat belajar menenun. Tidak semua anak muda tertarik menekuni pekerjaan ini,” katanya.
Untuk menjaga keberlangsungan usaha para pengrajin, Pemerintah Kota Kediri terus memberikan dukungan melalui berbagai program promosi dan pemberdayaan UMKM. Salah satunya melalui penyelenggaraan DO Fashion Street, yang menjadi wadah memperkenalkan produk Tenun Ikat Bandar Kidul kepada masyarakat luas, khususnya kalangan muda.
Selain promosi, pemerintah juga memberikan fasilitasi pameran, pembinaan usaha, serta bantuan bagi pelaku UMKM agar mampu meningkatkan kualitas produk dan memperluas jangkauan pemasaran.
Hana menilai dukungan tersebut sangat membantu para pengrajin dalam mempertahankan Tenun Ikat Bandar Kidul sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah sekaligus nilai ekonomi.
“Tenun ikat adalah warisan budaya. Karena itu harus terus dilestarikan agar tidak hilang dan tetap dikenal oleh generasi berikutnya,” tegasnya.
Saat ini terdapat sekitar 11 pengrajin aktif yang masih memproduksi Tenun Ikat Bandar Kidul. Mereka terus berkolaborasi menghasilkan produk berkualitas sekaligus memperluas pasar melalui pameran, promosi digital, dan kerja sama dengan berbagai pihak.
Para pengrajin berharap Tenun Ikat Bandar Kidul tidak hanya semakin dikenal sebagai produk unggulan Kota Kediri, tetapi juga mampu menembus pasar nasional hingga internasional. Mereka optimistis inovasi yang terus dilakukan, disertai dukungan dari berbagai pihak, akan menjaga kelestarian tenun ikat sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pengrajin.
“Harapan kami, Tenun Ikat Bandar Kidul semakin dikenal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga sampai mancanegara. Dengan begitu, warisan budaya ini tetap lestari sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan para pengrajin,” pungkas Hana.


Jurnalis: Maya Rahmawati




















Tinggalkan Balasan