
Tandaglobal.news | Kediri — Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sekaligus Open House Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kediri resmi dibuka pada Selasa (14/7/2026) di Kecamatan Plosoklaten. Kegiatan ini menjadi awal perjalanan pendidikan bagi ratusan anak dari keluarga miskin ekstrem yang akan menempuh pendidikan berasrama secara gratis.
Pembukaan kegiatan tersebut dihadiri Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa, Ketua TP PKK Kabupaten Kediri, Dandim 0809/Kediri, Kapolres Kediri, Kajari Kabupaten Kediri, perwakilan Kementerian Sosial RI, anggota DPRD, serta jajaran kepala OPD dan Forkopimda.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kediri, Fadli M.Pd., menjelaskan bahwa sekolah tersebut merupakan bagian dari program nasional Presiden Prabowo Subianto yang ditujukan khusus bagi anak-anak dari keluarga desil 1 atau kategori miskin ekstrem.
Ia menerangkan, mekanisme penerimaan siswa berbeda dengan sekolah pada umumnya. Tidak ada proses pendaftaran terbuka karena seluruh calon peserta didik dijaring melalui penjangkauan dan verifikasi bersama Dinas Sosial agar bantuan pendidikan benar-benar diterima oleh mereka yang berhak.
“Syarat utama yang tidak boleh dilanggar dan tidak boleh diintervensi siapa pun adalah calon siswa harus berasal dari desil 1 atau miskin ekstrem. Kami melakukan penjangkauan dan verifikasi agar bantuan pendidikan ini tepat sasaran,” ujar Fadli.
Pada hari pertama MPLS, jumlah siswa yang telah diterima mencapai 248 orang, terdiri atas 23 siswa jenjang SD, 107 siswa SMP, dan 118 siswa SMA.
Sebelum memasuki kegiatan belajar mengajar secara reguler, seluruh siswa akan mengikuti MPLS hingga akhir Juli. Setelah itu, mereka menjalani program matrikulasi selama satu bulan untuk menyamakan kemampuan dasar peserta didik yang berasal dari latar belakang pendidikan maupun sosial ekonomi yang beragam.
Menurut Fadli, tujuan utama Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter para siswa.
“Penanaman karakter menjadi prioritas utama. Anak-anak akan didampingi mulai bangun tidur hingga kembali beristirahat. Karakter sosial, spiritual, kedisiplinan, dan kemandirian menjadi fondasi yang kami bangun di sini,” katanya.
Sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter, Sekolah Rakyat juga akan mendapat dukungan lima taruna Akademi Militer yang dijadwalkan mulai bertugas pada awal Agustus mendatang.
Sementara itu, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Kediri untuk mengawal pelaksanaan program tersebut agar mampu memberikan dampak nyata bagi masa depan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Dalam kesempatan itu, Mas Dhito juga berdialog dengan seorang siswa SD berusia tujuh tahun yang untuk pertama kalinya akan tinggal di asrama. Momen tersebut menggambarkan semangat sekaligus keberanian anak-anak dalam memulai kehidupan baru di lingkungan Sekolah Rakyat.

Menurut Mas Dhito, pendidikan merupakan jalan paling efektif untuk memutus kemiskinan antargenerasi.
“Bagaimanapun juga pendidikan adalah cara paling mudah dan paling instan untuk memutus mata rantai kemiskinan. Harapannya, anak-anak yang sebelumnya mungkin tidak memiliki kesempatan sekolah yang baik, nantinya bisa melanjutkan hingga perguruan tinggi dan mengangkat derajat keluarganya,” tutur Mas Dhito.
Ia juga meminta pihak sekolah segera berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kediri apabila menemui kendala selama penyelenggaraan pendidikan berasrama.
“Program ini tidak boleh sekadar berjalan. Program ini harus berhasil. Karena keberhasilannya akan terlihat ketika anak-anak ini bisa menyelesaikan pendidikan, melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, dan memiliki masa depan yang lebih baik,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, PIC Sekolah Rakyat dari Kementerian Sosial RI, Sumarno Sri Wibowo, menegaskan bahwa pelaksanaan MPLS harus menjadi momentum untuk membangun lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan berorientasi pada pembentukan karakter.
Ia menyampaikan pesan Menteri Sosial agar seluruh Sekolah Rakyat terbebas dari praktik perundungan atau bullying.
“MPLS harus menjunjung tinggi prinsip sekolah yang bebas dari perundungan. Setiap anak harus merasa aman dan nyaman, baik saat belajar maupun dalam kehidupan sehari-hari di asrama,” ujarnya.
Selain itu, Sumarno memastikan hubungan antara anak dan orang tua tetap terjaga meski para siswa tinggal di lingkungan asrama.
“Kasih sayang orang tua tidak boleh terputus karena Sekolah Rakyat. Orang tua tetap diberikan ruang untuk berkomunikasi dan menjenguk anak-anaknya,” tambahnya.
Dengan dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan, Sekolah Rakyat Kabupaten Kediri diharapkan mampu menjadi wadah bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas, membangun karakter, sekaligus membuka peluang menuju kehidupan yang lebih baik.
Jurnalis: Wildan Wahid Hasyim




















Tinggalkan Balasan