
Tandaglobal.news | Kediri – Menjalani profesi sebagai anggota TNI tidak menghalangi Sertu Supriadi untuk mengembangkan hobi yang bernilai ekonomi. Anggota Koramil 02/Pesantren Kodim 0809/Kediri itu berhasil membudidayakan burung kenari merah lokal (Merlok), yang kini menjadi salah satu jenis burung kicau dengan nilai jual tinggi di pasaran.
Ketertarikan Supriadi terhadap burung kenari bermula sejak 2009 saat masih bertugas di Malang. Menurutnya, pesona warna bulu yang cerah serta bentuk tubuh dan suara kicau kenari membuatnya tertarik untuk memelihara sekaligus mencoba mengembangkannya melalui penangkaran.
“Dari awal memang suka karena warna burungnya menarik. Lama-lama saya belajar beternak hingga akhirnya berhasil mengembangbiakkan sendiri,” ujar Supriadi.
Dari hobi tersebut, kini ia memiliki sekitar 14 pasang indukan dan sekitar 20 ekor anakan kenari merah lokal yang dirawat di rumahnya. Dalam skala produksi, peternakannya mampu menghasilkan sekitar 10 hingga 15 ekor burung setiap bulan dengan permintaan yang terus berdatangan dari sejumlah daerah.
Di tengah kesibukannya sebagai prajurit TNI, Babinsa Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, itu tetap menyempatkan diri merawat burung-burungnya setiap hari. Waktu pagi sebelum berangkat bertugas dan sore setelah pulang dinas dimanfaatkan untuk memberi pakan, membersihkan kandang, serta memantau kesehatan burung.
Menurutnya, beternak kenari bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga menjadi sarana melepas penat setelah menjalankan tugas sebagai aparat teritorial.
“Saya menikmati prosesnya. Beternak ini menjadi hiburan sekaligus kegiatan positif di waktu luang. Kalau hasil penjualan bisa menambah penghasilan, itu menjadi bonus,” katanya.
Kenari merah lokal atau Merlok dikenal memiliki daya tarik karena warna bulunya yang merah cerah. Semakin pekat warna merah pada burung, terutama pejantan, maka nilai jualnya juga semakin tinggi.
Menurut Supriadi, harga anakan kenari berusia 0–1 bulan berkisar Rp350 ribu per ekor. Sementara itu, kenari berusia 6–8 bulan dijual sekitar Rp650 ribu per ekor. Untuk pejantan dengan kualitas warna merah yang pekat, harganya dapat mencapai Rp850 ribu hingga Rp1,5 juta per ekor.
Dalam perawatan sehari-hari, Supriadi menggunakan pakan yang mudah diperoleh, seperti milet, biji sawi, dan niger seed. Ia juga rutin memberikan sayuran segar agar kesehatan burung tetap terjaga sekaligus mempertahankan kualitas warna bulunya.
Meski sempat terpikir mengikuti berbagai perlombaan burung berkicau, Supriadi memilih fokus pada pengembangan budidaya. Baginya, aktivitas tersebut sudah cukup memberikan kepuasan sekaligus menjadi salah satu usaha sampingan yang diharapkan dapat memberikan tambahan penghasilan di masa mendatang.
Melalui ketekunan dan konsistensi, hobi memelihara burung yang dimulai lebih dari satu dekade lalu kini berkembang menjadi usaha sampingan yang menjanjikan. Kisah Supriadi menunjukkan bahwa hobi yang ditekuni dengan serius dapat menjadi peluang ekonomi tanpa mengesampingkan tugas utama sebagai prajurit negara.



Jurnalis: Maya Rahmawati




















Tinggalkan Balasan