
Tandaglobal.news | KEDIRI – Di balik rindangnya pepohonan dan tenangnya aliran mata air di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, tersimpan jejak panjang peradaban yang hingga kini masih dijaga masyarakat. Di kawasan inilah berdiri Pamuksan Sri Aji Jayabaya beserta Sendang Tirto Kamandanu, dua situs yang menjadi bagian penting dari warisan budaya Kediri dan terus menarik perhatian peziarah, peneliti, hingga wisatawan.
Kawasan ini tidak hanya menyimpan kisah tentang Sri Aji Jayabaya, raja besar Kerajaan Kediri yang dikenal dengan berbagai petuah dan ramalannya, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi tradisi yang masih bertahan di tengah modernisasi. Mata air yang terus mengalir, pepohonan beringin yang menaungi kawasan, arca batu, serta kolam patirtan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurut Tugino, juru kunci Sendang Tirto Kamandanu, nama “Kamandanu” memiliki makna filosofis yang mendalam. Ia menjelaskan bahwa kata tirta berarti air, komo berarti benih, sedangkan danu berarti hidup. Ketiga unsur tersebut dimaknai sebagai sumber kehidupan yang menjadi filosofi utama keberadaan sendang.
“Ini bukan nama yang diambil dari film, tetapi memiliki makna spiritual yang diwariskan sejak dahulu,” ujarnya.
Berdasarkan penuturan Tugino, Sendang Tirto Kamandanu sejak lama dipercaya sebagai tempat penyucian diri. Tradisi lisan yang berkembang di masyarakat menyebut lokasi tersebut memiliki keterkaitan dengan perjalanan spiritual Sri Aji Jayabaya sebelum mencapai pamuksan. Meski demikian, kisah tersebut merupakan bagian dari warisan budaya yang terus dijaga dan diwariskan oleh masyarakat setempat.
Memasuki kawasan sendang, pengunjung akan disambut suasana teduh di bawah pepohonan besar yang menciptakan kesan asri dan menenangkan. Di bagian tengah kompleks berdiri sebuah arca batu yang menjadi salah satu ikon kawasan, sementara di sisi lain terdapat kolam patirtan yang hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat maupun peziarah untuk mandi dan mengambil air.



Pengelola juga menerapkan sejumlah tata tertib demi menjaga kelestarian situs. Salah satunya adalah larangan menggunakan sabun maupun bunga saat mandi di kolam sendang. Selain untuk menjaga kebersihan mata air, aturan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap kawasan yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan spiritual.
Di pintu masuk kawasan, pengunjung juga diimbau melapor kepada juru kunci sebelum memasuki area inti. Menurut Tugino, siapa pun dipersilakan datang tanpa memandang agama maupun latar belakang, selama tetap menjaga sopan santun dan menghormati adat yang berlaku.
Selain menjadi destinasi wisata sejarah dan religi, kawasan Pamuksan Sri Aji Jayabaya dan Sendang Tirto Kamandanu juga menjadi pusat kegiatan budaya masyarakat. Setiap malam 1 Suro, kawasan ini ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah yang mengikuti rangkaian doa dan tradisi sebagai bentuk penghormatan kepada Sri Aji Jayabaya.
Keberadaan mata air yang terus mengalir sepanjang tahun semakin memperkuat nilai penting kawasan ini. Bagi masyarakat sekitar, sendang bukan hanya sumber air, tetapi juga simbol kehidupan yang harus dijaga bersama. Perpaduan antara alam yang lestari, sejarah yang panjang, dan tradisi yang masih hidup menjadikan Sendang Tirto Kamandanu memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan situs-situs sejarah lainnya.
Di penghujung wawancara, Tugino berharap generasi muda tidak melupakan sejarah yang diwariskan para leluhur. Ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga kawasan tersebut sekaligus mengamalkan falsafah Jawa yang menjadi semangat pelestarian situs, yakni “Andap Asor, Luhur Bekasane,” yang mengajarkan bahwa setinggi apa pun kedudukan seseorang, kerendahan hati akan melahirkan kemuliaan.
“Siapa yang mau menjaga kalau bukan kita? Jangan tinggalkan sejarah,” pungkasnya.
Keberadaan Sendang Tirto Kamandanu menjadi bukti bahwa jejak Kerajaan Kediri tidak hanya tersimpan dalam catatan sejarah, tetapi masih hidup melalui tradisi, budaya, dan kepedulian masyarakat yang terus merawatnya. Di tengah arus perkembangan zaman, kawasan ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan identitas yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Jurnalis : Maya Rahmawati