
Tandaglobal.news | KEDIRI – Siapa sangka, sebuah sanggar tari yang bermula dari komunitas kecil di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, kini mampu membawa nama daerah hingga ke panggung internasional. Melalui dedikasi dalam membina generasi muda dan menjaga kelestarian budaya, Flying Star Dance berhasil menjadi bagian dari delegasi seni budaya Indonesia yang tampil di Thailand dan Malaysia, membuktikan bahwa karya anak daerah mampu bersaing di kancah dunia.
Di balik pencapaian tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang dimulai lebih dari satu dekade lalu. Pendiri sekaligus pemilik Flying Star Dance, Gelar Gian Crismeril, mulai menekuni dunia tari sejak masih duduk di bangku SMA. Pada 2011, ia mengawali langkahnya sebagai pelatih tari di sebuah sekolah untuk mempersiapkan siswa mengikuti perlombaan.
“Awalnya saya hanya mengajar satu sekolah untuk perlombaan pada tahun 2011.”
Pengalaman itu kemudian berkembang menjadi komunitas anak-anak pencinta tari pada 2012 hingga 2013. Melihat semakin besarnya minat masyarakat, komunitas tersebut akhirnya bertransformasi menjadi Sanggar Flying Star Dance yang hingga kini menjadi wadah pembinaan seni bagi anak-anak dan remaja di Kabupaten Kediri.

Perjalanan membangun sanggar tidak selalu berjalan mulus. Crismeril mengaku sempat menghadapi penolakan dari almarhum ayahnya yang khawatir terhadap citra negatif dunia tari. Namun, berbagai prestasi yang berhasil diraih perlahan mengubah pandangan tersebut hingga akhirnya ia mendapat dukungan penuh dari keluarga untuk terus berkarya.
Kini, Flying Star Dance membina hampir 200 siswa aktif yang berasal dari berbagai jenjang usia. Para peserta dibagi ke dalam empat kelompok agar materi pembelajaran dapat disesuaikan dengan perkembangan fisik maupun kemampuan masing-masing. Beragam jenis tarian diajarkan, mulai dari tari tradisional, tari kreasi, tari kontemporer, hip hop, hingga K-Pop sebagai pelengkap agar peserta tetap antusias mengikuti proses latihan.
Bagi Crismeril, tujuan utama sanggar bukan sekadar mencetak penari yang piawai di atas panggung. Lebih dari itu, Flying Star Dance berupaya menanamkan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kecintaan terhadap budaya sejak usia dini.
“Nilai yang paling utama kami tanamkan adalah kedisiplinan waktu, tanggung jawab terhadap materi yang diberikan, serta kerja sama tim (teamwork) yang kompak, terutama saat persiapan kompetisi.”
Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi para siswa, baik saat mengikuti perlombaan maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah semakin kuatnya pengaruh budaya populer, Flying Star Dance memilih beradaptasi tanpa meninggalkan jati diri. Kelas K-Pop tetap dihadirkan sebagai variasi pembelajaran, namun tari tradisional dan tari kreasi yang mengangkat budaya Nusantara tetap menjadi fokus utama dalam setiap proses pembinaan.
Komitmen tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada 2025, lima penari Flying Star Dance dipercaya menjadi bagian dari promosi budaya Indonesia di Songkhla, Thailand, dan Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam kesempatan itu, mereka membawakan tari Dewi Kilisuci dan Ambathik Kediren, yang mengangkat kisah serta identitas budaya Kabupaten Kediri melalui unsur cerita Panji dan motif Batik Kediri.

Delegasi tersebut terdiri atas Gelar Gian Crismeril, Ody Widya Asmara, Vidy Riefta Adani, Zulfatus Salwa Rafania, dan Zendy CK. Mereka tampil dalam rangkaian kegiatan promosi budaya Indonesia yang difasilitasi Kementerian Pariwisata Republik Indonesia bersama mitra penyelenggara.
Kepercayaan tampil di luar negeri menjadi salah satu pencapaian terbesar Flying Star Dance sejak berdiri. Namun, menurut Crismeril, keberhasilan tersebut bukanlah garis akhir, melainkan motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan dan memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Di balik setiap penampilan, para penari menjalani persiapan yang tidak singkat. Durasi latihan ditingkatkan hingga lima sampai enam jam setiap hari menjelang perlombaan atau pementasan besar. Mereka juga menjalani evaluasi gerakan, gladi bersih, hingga pengaturan kondisi fisik agar tetap prima ketika tampil di atas panggung.
Selain aktif membina di sanggar, Flying Star Dance juga menjalin kerja sama dengan sejumlah sekolah di Kabupaten Kediri serta berada di bawah pembinaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas ruang belajar sekaligus memperkenalkan seni tari kepada lebih banyak generasi muda.
Menutup wawancara, Crismeril berharap semakin banyak ruang bagi seni budaya untuk berkembang di Kabupaten Kediri. Ia ingin setiap kecamatan memiliki wadah pembinaan yang mampu melahirkan generasi muda yang mencintai budaya sekaligus percaya diri membawa identitas daerah ke tingkat nasional maupun internasional.
Bagi Flying Star Dance, panggung internasional bukan hanya tentang tampil di hadapan penonton mancanegara. Lebih dari itu, setiap langkah di atas panggung menjadi cara memperkenalkan bahwa Kabupaten Kediri memiliki kekayaan budaya yang layak dikenal dunia. Dari sebuah sanggar sederhana di Pare, semangat melestarikan budaya terus tumbuh dan menginspirasi generasi muda untuk bangga menjadi bagian dari Indonesia.
Jurnalis: Stefani Eka Shaputri