
TandaGlobalNews | Jakarta – Memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai menimbulkan dampak terhadap sektor pertanian global. Selain mengganggu distribusi minyak, ketegangan di kawasan Timur Tengah juga menghambat jalur perdagangan pupuk melalui Selat Hormuz, kondisi yang dinilai dapat memicu kenaikan harga pangan dunia.
Chief Executive Officer Fertiglobe, Ahmed El-Hoshy, mengingatkan pemerintah di berbagai negara agar segera mengambil langkah untuk memastikan distribusi pupuk tetap berjalan lancar. Menurutnya, terganggunya pasokan pupuk dapat berdampak pada meningkatnya harga biji-bijian dan memperburuk ancaman kelaparan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Selain menjaga kelancaran distribusi, El-Hoshy menilai dukungan pembiayaan kepada petani juga diperlukan agar mereka tetap mampu membeli pupuk meski harganya mengalami kenaikan.
Fertiglobe, produsen pupuk yang mayoritas sahamnya dimiliki perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, ADNOC, menggunakan gas alam sebagai bahan baku utama. Sejak konflik di kawasan Teluk meningkat, harga pupuk berbasis nitrogen seperti amonia dan urea ikut melonjak akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah dan naiknya harga gas dunia.
El-Hoshy mengungkapkan sekitar 30 persen ekspor urea dari kawasan Teluk saat ini tidak dapat dikirim keluar wilayah tersebut. Meski Fertiglobe telah mengalihkan sebagian distribusi melalui jalur darat menuju pelabuhan alternatif, kapasitasnya masih belum mampu mengatasi hambatan akibat terbatasnya akses melalui Selat Hormuz.
Di sisi lain, perusahaan tetap melanjutkan produksi pupuk di fasilitas Abu Dhabi dan menyimpan stok di sejumlah lokasi. Fertiglobe juga masih mengoperasikan fasilitas produksi besar di luar kawasan Selat Hormuz untuk menjaga pasokan.
“Kegagalan dalam menggerakkan pasokan pupuk atau memberikan dukungan finansial berisiko memperburuk kekurangan pangan dan memicu kenaikan harga biji-bijian yang mungkin membutuhkan waktu lama untuk turun,” kata El-Hoshy.
Menurutnya, pupuk memiliki peran yang sangat penting dalam sistem pangan dunia. Ia memperkirakan sekitar setengah kebutuhan kalori bagi lebih dari delapan miliar penduduk dunia bergantung pada penggunaan pupuk. Apabila harga pupuk terus meningkat dan pasokan terbatas, petani berpotensi mengurangi penggunaannya sehingga produktivitas pertanian ikut menurun.
Pandangan tersebut sejalan dengan peringatan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) yang menilai guncangan sistem pangan global dapat memicu krisis harga pangan yang lebih luas.
Sebagai langkah antisipasi, Uni Eropa telah menyiapkan bantuan keuangan sebesar 540 juta euro atau sekitar US$625 juta untuk membantu petani membeli pupuk dan menjaga ketahanan pangan di tengah meningkatnya biaya produksi.
Meski demikian, para analis menilai dampak konflik terhadap sektor pupuk berlangsung secara bertahap. Risiko terbesar diperkirakan akan dirasakan negara-negara di Belahan Bumi Selatan yang sedang memasuki musim tanam, terutama karena keterbatasan akses pembiayaan membuat petani lebih rentan terhadap kenaikan harga pupuk.
“Efek keterlambatan waktu membuat situasi ini berbahaya karena bisa memakan waktu berbulan-bulan bagi pasokan yang meninggalkan wilayah tersebut untuk sampai ke petani, dan melewatkan musim tanam utama di Belahan Bumi Selatan berisiko memengaruhi hasil panen berbulan-bulan ke depan,” kata El-Hoshy.
Ia menambahkan, petani di Afrika Sub-Sahara, Amerika Latin, dan India sangat bergantung pada pupuk impor sehingga berpotensi mengalami kesulitan memperoleh pupuk nitrogen apabila gangguan distribusi terus berlanjut.
“Petani di Afrika Sub-Sahara, Amerika Latin, dan India sangat bergantung pada impor dan mungkin harus berjuang tanpa pupuk nitrogen,” ungkapnya.
El-Hoshy juga mengingatkan bahwa penurunan produksi pangan di negara-negara berkembang dapat menjadi persoalan serius mengingat jumlah penduduk dunia terus meningkat.
“Dan itu, dengan populasi yang terus bertambah, bisa menjadi masalah yang sangat serius,” katanya.
Sementara itu, pasar masih berharap adanya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Harapan tersebut sempat mendorong harga minyak mentah Brent turun di bawah US$90 per barel, meski pelaku pasar tetap berhati-hati karena sejumlah perundingan sebelumnya belum menghasilkan kesepakatan.




















Tinggalkan Balasan