KEDIRI, Tandaglobal.news — Penurunan harga kambing hidup mendorong Abib, pedagang sekaligus peternak di Pasar Sapi Pare, Kabupaten Kediri, mengubah strategi usahanya. Sejak sekitar satu setengah tahun terakhir, ia mulai mengalihkan sebagian usahanya ke penjualan daging kambing karena ternak hidup semakin sulit terjual dengan harga yang menguntungkan. Strategi tersebut masih dijalankannya hingga Kamis (29/10/2026).

Abib mengatakan, penjualan kambing hidup saat ini menghadapi sejumlah tantangan. Selain harga yang menurun, jumlah pembeli juga tidak menentu. Dalam kondisi tertentu, ia bisa membawa beberapa ekor kambing ke pasar, tetapi hanya satu ekor yang terjual.

Situasi tersebut membuat biaya operasional menjadi pertimbangan penting. Pedagang tetap harus mengeluarkan biaya transportasi dan tenaga untuk membawa ternak ke pasar, sementara hasil penjualan belum tentu sebanding dengan pengeluaran.

Karena itu, Abib memilih menjual kambing dalam bentuk daging. Ia terlebih dahulu memperhitungkan harga pembelian kambing, kemudian memotong dan menimbang hasil dagingnya untuk menentukan nilai penjualan.

“Kalau membawa kambing ke pasar, belum tentu laku. Kalaupun terjual, harganya juga murah. Kalau dijual dalam bentuk daging, perputarannya lebih cepat,” kata Abib.

Penjualan daging kambing dilakukan melalui Pasar Pamenang Pare, pembeli di sekitar rumah, serta pengiriman ke luar pulau, termasuk Kalimantan. Selain daging, bagian lain seperti kepala, kaki, babat, paru, dan hati juga dipasarkan, terutama kepada pemasok atau pedagang sate.

Abib mengakui, penjualan daging tetap menghadapi tantangan. Permintaan terhadap beberapa bagian kambing, seperti kepala, kaki, dan jeroan, tidak selalu ramai. Meski demikian, ia menilai penjualan daging masih lebih memungkinkan untuk menjaga perputaran usaha dibandingkan hanya mengandalkan penjualan ternak hidup.

Dalam sehari, jumlah kambing yang dipotong menyesuaikan kebutuhan pasar. Terkadang ia memotong tiga hingga lima ekor, tetapi jumlah tersebut tidak selalu sama karena penjualan bergantung pada permintaan pembeli.

Peralihan usaha tersebut menjadi cara Abib bertahan di tengah kondisi pasar yang belum stabil. Ia juga menilai pembelian kambing untuk stok harus memperhitungkan ketersediaan pakan. Jika biaya pemeliharaan terlalu besar, menyimpan ternak justru dapat menambah beban usaha.

Bagi Abib, strategi berjualan harus mengikuti kondisi pasar tanpa mengabaikan biaya operasional. Selama harga kambing hidup belum kembali menguntungkan, penjualan daging menjadi salah satu pilihan untuk menjaga usahanya tetap berjalan.