
KEDIRI, Tandaglobal.news — Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, pedagang kecil di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, masih menghadapi tantangan dalam menjaga pendapatan. Penjualan yang naik turun, kenaikan harga bahan baku, hingga kewajiban mencicil utang menjadi bagian dari perjuangan mereka mempertahankan usaha.
Kondisi tersebut disampaikan Munijem (67), pemilik warung kopi, gorengan, jajanan, dan es di Desa Satak, Kecamatan Puncu, serta Khairul (34), pedagang di Desa Brumbung, Kecamatan Kepung. Keduanya diwawancarai pada Sabtu (24/10/2026) untuk mengetahui perubahan yang dirasakan pelaku usaha kecil selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Munijem mengatakan, pendapatan warungnya tidak menentu. Ia tetap berjualan setiap hari dengan menawarkan berbagai makanan dan minuman, tetapi jumlah pembeli tidak selalu sama.
“Pendapatan tidak menentu, kadang ramai, kadang sepi. Kalau banyak pembeli, hasilnya lumayan. Namun, kalau sepi, pendapatan juga sedikit,” ujarnya.
Bagi Munijem, menjaga usaha tetap berjalan menjadi hal penting karena pemasukan dari warung digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, ketika harga bahan baku naik, modal yang dibutuhkan ikut bertambah.
Ia menyebut minyak goreng, gula, kopi, dan bahan untuk membuat gorengan sebagai sejumlah kebutuhan yang memengaruhi biaya usaha.
“Kalau harga naik, modal yang harus dikeluarkan juga bertambah,” katanya.
Munijem mengaku terkadang menerima bantuan pangan berupa beras, gula, dan minyak. Bantuan tersebut dinilai membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Meski demikian, ia berharap ada dukungan yang lebih mudah diakses oleh pedagang kecil, terutama untuk tambahan modal usaha.
“Harapannya, semoga program pemerintah benar-benar bisa dirasakan oleh pedagang kecil. Kalau harga kebutuhan pokok lebih stabil dan ada bantuan untuk usaha kecil, tentu kami akan terbantu,” ujarnya.
Sementara itu, Khairul, yang telah berjualan selama empat tahun, juga mengaku omzet usahanya mengalami naik turun. Menurutnya, mempertahankan pelanggan menjadi tantangan tersendiri agar usaha tetap berjalan.
“Pasar terkadang ramai, terkadang sepi. Namun, alhamdulillah masih ada orang yang datang. Usaha ini sampai sekarang masih bisa berjalan,” katanya.
Khairul mengungkapkan, dirinya pernah menerima bantuan gerobak sekitar setahun sebelum wawancara. Bantuan tersebut menjadi salah satu dukungan konkret yang ia rasakan dalam menjalankan usaha.
Meski demikian, ia masih menghadapi persoalan modal dan cicilan utang. Menurutnya, mempertahankan pelanggan bukan perkara mudah ketika kondisi penjualan berubah-ubah.
“Yang sulit adalah mempertahankan pelanggan. Modal masih ada, tetapi utang juga harus dicicil. Yang berat adalah mempertahankan usaha agar tetap berjalan,” ujarnya.
Ketika ditanya mengenai perbedaan antara pemerintahan Joko Widodo dan pemerintahan Prabowo-Gibran, Khairul menilai belum ada perubahan signifikan terhadap kondisi usahanya.
“Intinya, baik pada masa pemerintahan Pak Jokowi maupun Pak Prabowo, saya tidak merasakan perbedaan yang signifikan. Semuanya terasa sama saja,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat membuat kebijakan yang adil bagi masyarakat kecil, menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok, dan tidak menambah beban pedagang.
Pengalaman Munijem dan Khairul memperlihatkan bahwa kebutuhan pelaku usaha kecil tidak hanya berkaitan dengan bantuan sesaat. Stabilitas harga bahan baku, ketersediaan modal, dan kemampuan mempertahankan pelanggan juga berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha.
Kedua pengalaman tersebut tidak mewakili seluruh pedagang di Kabupaten Kediri. Namun, kesaksian mereka menggambarkan bahwa bagi sebagian pelaku usaha kecil, mempertahankan warung tetap buka dan memperoleh pemasukan setiap hari masih menjadi bagian penting dari perjuangan ekonomi selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.



















Tinggalkan Balasan