
KEDIRI, Tandaglobal.news — Semarak Expresi Santri 2026 di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG), Kabupaten Kediri, menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat.
Salah satunya UMKM Srikandi Kediri yang menghadirkan beragam produk tas anyaman di stan LPNU, Jumat (25/9/2026).
UMKM Srikandi Kediri merupakan komunitas para pengerajin yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Kediri, seperti Plosoklaten, Pare, Kepung, Papar, Semen, Wates hingga Ngampel.
Komunitas yang berdiri sekitar 2022 tersebut berada di bawah naungan Ketua LPNU, Zaini, dan bergerak dalam pemberdayaan UMKM mikro.
Ratna Dwi Safitri, salah satu perwakilan UMKM Srikandi Kediri, mengatakan persiapan mengikuti rangkaian Hari Santri tahun ini dilakukan sekitar satu minggu dengan berkoordinasi bersama anggota dan pengerajin.
“Untuk persiapannya kurang lebih satu minggu, kami koordinasi dengan teman-teman pengerajin. Ini sudah kedua kalinya kami ikut dalam agenda Hari Santri,” ujar Ratna, Jumat (25/9/2026).
Produk andalan komunitas tersebut adalah tas anyaman, mulai dari tas anyaman embos, tas jali hingga tas fashion premium.
Selain menjual produk jadi, para anggota juga terlibat langsung dalam proses pengerjaan sekaligus menyediakan sejumlah bahan mentah untuk kebutuhan pengerajin.
Menurut Ratna, produk anyaman masih memiliki prospek pasar yang cukup luas.
Meski kondisi ekonomi menghadapi berbagai tantangan, permintaan terhadap tas anyaman dinilai tetap tinggi sehingga para pengerajin terus melakukan inovasi.
“Inovasinya terus kami lakukan, mulai dari bentuk, warna, variasi bahan sampai teknik anyamannya. Kami melihat kebutuhan pasar untuk produk anyaman masih cukup tinggi,” jelasnya.
Harga produk yang ditawarkan cukup beragam. Untuk produk souvenir, harganya mulai sekitar Rp6.000 hingga Rp7.000.
Sementara tas premium dibanderol mulai Rp30.000 hingga lebih dari Rp100.000, menyesuaikan model dan jenis produknya.
Jangkauan pemasaran UMKM Srikandi Kediri juga telah berkembang hingga luar negeri.
Produk mereka disebut telah dikirim ke Malaysia dan Hong Kong.
Bahkan, sejumlah produk pernah dibawa melalui jasa titip hingga California, meski biaya pengiriman menjadi salah satu tantangan karena mencapai sekitar Rp500.000 per kilogram.
Besarnya permintaan juga pernah terlihat ketika komunitas tersebut mendapatkan pesanan 7.500 tas parsel dari Dinas Perhubungan Jawa Timur.
Namun, karena para pengerajin juga harus memenuhi pesanan lainnya, saat itu hanya sekitar 2.000 unit yang mampu diproduksi.



















Tinggalkan Balasan