

KEDIRI, Tandaglobal.news — Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, kondisi ekonomi pekerja informal di Kabupaten Kediri menunjukkan pengalaman yang beragam. Sebagian petani merasakan manfaat bantuan pemerintah, sedangkan pedagang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menghadapi kenaikan harga bahan baku dan penurunan pendapatan.
Amir Saiku (57), petani asal Pagu, Kabupaten Kediri, menilai tantangan utama petani terletak pada ketidakseimbangan antara biaya produksi dan harga jual hasil panen.
Menurutnya, ketersediaan alat pertanian, pupuk, dan obat-obatan bukan satu-satunya persoalan yang menentukan keberlangsungan usaha tani.
“Kalau hanya mengandalkan hasil tani, sebenarnya masih bisa untuk kebutuhan sehari-hari. Yang menjadi persoalan itu harga jual panen harus seimbang dengan biaya produksi, terutama pupuk dan obat-obatan,” ujar Amir, Sabtu (24/10/2026).
Ia menilai bantuan pemerintah berupa bibit dan peralatan pertanian, termasuk traktor, cukup membantu petani menjalankan usaha. Amir berharap program tersebut berlanjut dan manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh petani kecil.
Harapan serupa disampaikan Ponidi, petani lainnya. Ia meminta pemerintah menjaga kestabilan harga hasil pertanian agar petani tidak kesulitan ketika harga komoditas mengalami fluktuasi.
Selain menjaga harga, Ponidi menilai penyaluran bantuan dan subsidi perlu dilakukan secara tepat sasaran. Ia juga menyoroti pelaksanaan program Kartu Tani yang dinilai masih perlu diperbaiki karena sebagian petani menghadapi kendala dalam penggunaannya.
Sementara itu, Munijem (67), pedagang UMKM di Satak, Kabupaten Kediri, merasakan tekanan ekonomi dari kenaikan harga bahan baku yang tidak diimbangi daya beli konsumen.
Ia menyebut harga tepung yang sebelumnya sekitar Rp130.000 kini mencapai Rp214.000. Harga minyak goreng juga mengalami kenaikan.
“Kalau harga jual dinaikkan, pembeli keberatan. Tetapi kalau harga tetap, keuntungan semakin sedikit karena harga bahan dari grosir terus naik,” keluh Munijem.
Untuk mempertahankan pelanggan, Munijem berupaya menjaga harga dagangannya agar tetap terjangkau. Ia menyebut harga gorengan yang sebelumnya sempat berada di kisaran Rp2.000 kini ditekan menjadi Rp1.000 di tengah meningkatnya biaya produksi.
Munijem mengatakan pendapatan bersihnya saat ini paling banyak berkisar Rp200.000 hingga Rp250.000 per hari setelah dikurangi modal usaha. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, ketika pendapatannya disebut bisa mencapai Rp500.000 hingga Rp1 juta per hari.
Keluhan mengenai biaya usaha juga disampaikan Supini (55), pedagang UMKM lainnya. Meski menghadapi tantangan dalam menjalankan usaha, ia memberikan penilaian positif terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo, terutama terkait perhatian pemerintah terhadap pelaku UMKM.
“Menurut saya, perhatian pemerintah terhadap UMKM itu baik. Harapannya, pedagang kecil seperti kami bisa semakin terbantu, terutama dalam menghadapi kenaikan harga bahan baku dan menjaga usaha tetap berjalan,” ujar Supini.
Ia berharap perhatian pemerintah terhadap UMKM tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi pedagang dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kestabilan harga bahan pokok dan kelancaran pasokan penting agar pedagang dapat menetapkan harga jual tanpa kehilangan pelanggan atau menanggung beban biaya yang semakin besar.
Pengalaman para pekerja informal tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi warga Kabupaten Kediri belum dirasakan secara seragam. Petani merasakan manfaat dari bantuan sarana pertanian, sementara pedagang UMKM masih menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan daya beli konsumen.
Mereka berharap pemerintah terus memperbaiki penyaluran bantuan kepada petani kecil sekaligus menjaga kestabilan harga kebutuhan dan bahan produksi. Dengan demikian, usaha pertanian dan perdagangan kecil diharapkan dapat terus berjalan serta menopang kebutuhan keluarga.



















Tinggalkan Balasan